
"Buruan, Johan kasih air minum, Elsa."
"Ish, bisa ambil sendiri, Oma," ketus Elsa.
"Elsa!" teriak Oma Sintia.
Elsa lalu berlari memberi air minum kepada Johan. Johan menyambut dengan baik pemberian Elsa. Sampai Johan meneteskan air matanya karena tersedak.
"Makannya pelan-pelan kalo, makan," nasihat Elsa sambil menyeka air mata Johan.
"Terima kasih," lirihnya.
"Kamu tidak apa-apa, Jo?" tanya Oma Sintia panik.
"Nggak pa-pa, Oma. Aku tersedak gara-gara Elsa," celoteh Johan.
"Kok, aku?" Ekspresi wajahnya berubah menjadi binggung.
"Iya, kamu. Kenapa coba kamu pakai bahas, calon suami. Aku kan cemburu," seloroh Johan.
"Kak, ih. Kalo ngomong nggak tau tempat, nggak enak ada Oma, nanti salah paham tahu," ucapnya sambil mencubit pinggang Johan.
"Sakit, Elsa. Kamu agresif sekali," balas Johan sambil mengusap-usap pinggangnya.
"Johan tau calon suamimu seperti apa."
"Seriously?" Elsa tidak percaya.
"Hem." Johan hanya berdehem
"Ganteng nggak, Kak?"
"Tua, jelek, aduh, Elsa bukan tipe kamu." Johan mencoba menakut-nakuti Elsa.
"Aduh, Nanti malam pertama gimana, ya?" seloroh Elsa.
"Astaga, Elsa. Kamu!" Oma Sintia menggelengkan kepalanya.
"Kamu belum nikah, udah mikir malam pertama." Johan menimpali.
Elsa hanya cengengesan saat Oma Sintia dan Johan telah menghakiminya.
******
"Halo, Sayangku!" teriak Larisa.
"Jangan teriak-teriak, Sa. Ini di rumah sakit, bukan di hutan," tegur Chika.
"Iya, bawel," sergah Larisa.
Larisa mendekati Alya sedang duduk di brankar, untungnya hari ini Alya sudah membuka infus-nya. Ia leluasa memeluk kedua sahabatnya telah menjenguknya. Baru beberapa hari tak bertemu saja, Alya sudah sangat merindukannya.
"Aku kangen kalian," ucapnya sendu.
"Kita juga," jawab kedua sahabatnya.
Tiba-tiba pintu terbuka ternyata Aldi masuk dengan membawa sebuah buket bunga. "Alya," panggilnya.
"Kakak," serunya.
__ADS_1
"Ala mak, ganteng banget," gumam Larisa.
"Kenalin, guys. Dia, Kakak angkat aku, baru pulang dari luar Negeri," terang Alya.
"Oh, my God, tampan ya," ulang Larisa kembali.
"Norak banget dia, kenalin aku Chika, Kak," ucap sambil mengulurkan tangannya.
"Aldi," jawabnya, belum Aldi menerima uluran tangan Chika, Larisa sudah menghamparkan tangan Chika di ganti oleh tangannya.
"Nggak sabaran banget ni, anak," gerutu Chika.
Larisa hanya cengengesan, "Larisa, Kak," ucapnya dengan manja.
"Aldi," ulangnya.
"Kamu punya Kakak ganteng kaya gini, nggak di kenalin ke kita si, Al," cicit Larisa.
"Malas sekali," ejek Alya lalu terkekeh.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Larisa berjalan membuka pintu, ternyata seorang ojek online datang membawa paket terus menghilang. Larisa memberikan paket tersebut kepada Alya.
"Nih, paket buat lo."
"Aku buka, ya. Siapa tau kejutan dari Mas Daniel."
Alya membuka paketnya dengan perlahan-lahan, saat terbuka Alya berteriak histeris. "Aaaa!" lalu melempar kotak tersebut sejauh mungkin.
"Kenapa, Al?" Aldi panik langsung memeluk Aldi.
"Apa itu, Al?" tanya Chika.
Larisa mencoba memberanikan dirinya untuk mengambil paket tersebut. Ia balikan kotak tersebut yang tadinya terbalik dan isinya tertutup kotak jadi tidak terlihat. Larisa memungut surat yang berada didalamnya.
"Astaga, boneka bayi seperti berlumuran darah lalu ditusuk-tusuk pisau," ucap Larisa. "Eh, ada suratnya."
"Coba baca, Sa," titah Aldi.
Jagalah anakmu di dalam perutmu,
Aku akan mengambilnya setelah dilahirkan,
Akan ku bunuh anakmu,
Larisa membaca surat ancaman tersebut dengan gemeteran. Daniel masuk ke dalam kamar inap melihat Alya memeluk Aldi, ia merasa sedikit cemburu. Istrinya telah memeluk pria lain selain dirinya.
"Sayang, ada apa?" Daniel menatap Alya binggung.
"Itu, Kak." Larisa menunjuk ke arah boneka yang sudah rusak lalu memberikan surat ancaman kepada Daniel.
Daniel membaca surat tersebut sangat geram, ia remas-remas surat tersebut lalu membuangnya ke segala arah. Daniel mendekati Alya, Aldi pun melepaskan pelukan Alya dan sedikit menjaga jarak. Aldi paham dengan sorotan wajah Daniel begitu cemburu.
"Sudah, aku disini, jangan khawatir, aku akan selalu melindungi mu dan calon anak kita."
Alya bergeming, merasa ketakutan begitu dalam membuat Daniel khawatir. "Hari ini, kita bisa pulang ke rumah kita, Sayang." Daniel memeluk dengan erat.
*****
"Halo, bagaimana hasilnya? Berhasil? Baguslah akan ku transfer bonus untukmu," ucap Velicia di telepon.
__ADS_1
"Bagus, perlahan-lahan akan ku serang psikisnya. Biar dia keguguran." Velicia tertawa.
Velicia mencoba menghubungi Arsen setelah dirinya merasa bahagia. Setelah itu Velicia mencoba istirahat di apartemennya, sambil menunggu Arsen datang. Ia mencoba berendam di bathtub menenangkan pikirannya. Mencoba mencari hal lain untuk merebut Daniel kembali.
"Di mana, Velicia?" Arsen celingukan mencari keberadaan Velicia di dalam apartemen.
"Vel," panggil Arsen sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Masuk," titahnya.
Arsen mendengar namanya di panggil oleh Velicia. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan membuka bajunya ikut berendam bersama Velicia di bathtub. "Sayang, aku merindukanmu," ucap Velicia sambil memeluknya dari belakang.
"Aku juga merindukanmu," balas Velicia.
Kenapa mood Velicia sudah kembali? Sebenarnya apa yang terjadi, padahal baru saja aku tinggal pergi, batin Arsen bertanya-tanya.
Arsen mencoba merayu Velicia untuk bercumbu. Arsen menggendong ala bridal style, membawa Velicia ke kamar untuk menuntaskan hasrat mereka berdua.
*****
"Oma, kapan aku bisa bertemu dengan calon suamiku?"
"Buru-buru sekali, El. Nanti ketemu, kabur kamu," timpal Johan.
"Aku ingin kamu, pergi dari sisiku, biar nanti calon suamiku yang melindungi ku," ucapnya penuh keyakinan.
"Jadi kamu benar mau menerima perjodohan ini?" tanya Johan penasaran.
"Iya, bewal." Elsa mencebik.
"Sabar, El. Tunggu Oma pulang dari rumah sakit, ya."
"Lama kali, Oma," protes Elsa.
"Mau ngapain sih, buru-buru? Mau malam pertama, ya," seloroh Johan.
"Dasar mesum," omel Elsa sambil memukul bahu Johan.
Waktu di siang hari, Oma Sintia beristirahat tertidur sangat lelap pengaruh obat yang diberikan dokter. Hanya tinggal Elsa dan Johan masih siaga di siang itu. Tiba-tiba Johan tertidur di sofa sambil terduduk. Elsa mendekati Johan lalu menatapnya dengan lekat tanpa berkedip.
"Ganteng juga dilihat-lihat," gumam Elsa.
Saat Elsa ingin menjauhkan wajahnya dari wajah Johan. Tangannya di tarik oleh Johan dengan tiba-tiba membuat Elsa terjatuh di pelukan Johan. Elsa mencoba memberontak saat di peluk oleh Johan. Johan menambah memperkuat pelukannya.
"Kalo suka ama orangnya itu ngomong, jangan diam-diam memperhatikan aja," bisik Johan di telinga Elsa.
Elsa menelan ludahnya dengan kasar, ia gugup saat Johan membisikkan sesuatu di telinganya.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1