Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Negosiasi Daniel


__ADS_3

"Apa ini?"


"Buka sendiri." Alya pindah duduk di sofa di samping Johan.


"Bubur?" lirih Daniel.


Mampus, kamu Daniel. Memangnya enak, makan tuh bubur, batin Johan sambil menahan tawanya matanya tertuju ke ponsel yang sedang ia mainkan.


Dengan sangat terpaksa Daniel makan Bubur buatan Alya dengan lahap, agar cepat habis. Padahal ia ingin muntah rasanya, bukan rasanya yang tidak enak, tapi karena Daniel tindak menyukai bubur. "Pelan-pelan, Mas. Besokku bawakan lagi buburnya kalo kamu suka," ucap Alya tersenyum.


"Uhuk-uhuk ...." Daniel terbatuk-batuk mendengar akan dibawakan bubur lagi oleh Alya.


Oh, my God! Kenapa Alya ingin membawakan bubur aku lagi? Apa dia ingin membunuhku? Rasanya aku ingin berbicara jika aku tidak menyukai bubur, tapi aku takut melukainya, batin Daniel yang sudah menjerit minta tolong.


"Aduh, Mas. Sudahku bilang pelan-pelan." Alya mendekati Daniel memberikan air minum.


"Iya, Al. Buatkan saja Daniel Bubur seperti itu, dia pasti bahagia setiap harinya kalo setiap hari makan bubur," timpal Johan sambil menahan tawa.


Sialan, Johan minta dibunuh, umpat Daniel di dalam hatinya.


"Besok ganti menu dong, Sayang," rayu Daniel.


"Mau apa?"


"Apa aja, yang penting jangan makan makanan rumah sakit. Aku bosan, tidak ada rasanya, hambar," rengek Daniel seperti anak kecil.


"Lebay," timpal Johan kembali.


"Kamu!" Johan marah.


"Apa?" jawab Johan santai.


"Pergi, kamu!" usir Daniel.


"Siap, Bos," jawab Johan dengan bahagia, karena ia lelah dari kemarin dia telah menjaga Daniel sendirian.

__ADS_1


*****


"Vel, nanti kita kan, bertemu Dokter mata, jangan gugup ya, kamu pasti sembuh," pinta Arsen sambil mendorong kursi roda Velicia.


"Aku takut, kalo aku nggak bisa melihat lagi, Ars." Velicia frustasi, jika ia tidak bisa melihat pasti akan di tinggal oleh Daniel.


Rasa obsesinya begitu tinggi Velicia itu, sampai ia tak mampu berpikir jernih. Arsen banyak berkorban demi Velicia, selama sakit ini malah Arsen yang merawat Velicia dengan tulus. Mana ada Daniel merawat Velicia, malah ia sibuk dengan sang istri.


Sampai di ruang Dokter mata, Velicia diperiksa oleh Dokter Doni. Setelah pemeriksaan Velicia duduk dengan ditemani Arsen untuk mendengarkan diagnosa Dokter Doni. "Kita, sudah menjalani pemeriksaan keseluruhan mata Nona Velicia, lalu yang saya baca dari rontgen mata, itu hasilnya adalah, Nona Velicia bisa melihat lagi jika ada pendonor mata," terang Dokter Doni.


"Ya, Tuhan. Akhirnya aku bisa melihat lagi," jawab Velicia dengan antusias.


"Tapi, Tuan. Mencari pendonor mata itu susah, kita harus menunggu, dan biasanya operasi sangat mahal." Dokter Doni mencoba memberi tahu.


"Kira-kira berapa ya, Dok?" tanya Arsen.


"Kira-kira bisa ratusan juta, Tuan."


Mana ada aku yang segitu, ya Tuhan. Aku cari ke mana? Jika tidak dioperasi, pasti Velicia bisa uring-uringan setiap hari, batin Arsen yang dilema.


"Vel, kamu istirahat ya, aku akan pergi sebentar untuk mencari biaya operasimu," pamit Arsen.


"Nggak usah repot-repot, pasti nanti Daniel yang akan membayarnya," jawab Velicia penuh keyakinan.


Ya ampun, Vel. Kenapa kamu berpikir seperti itu, kamu tidak tahu jika Daniel sebenarnya tidak peduli denganmu, batin Arsen yang rasanya ingin berteriak sekencang mungkin agar Velicia mengerti.


Arsen pamit dengan mencium kening Velicia, walaupun dirinya tidak diharapkan oleh Velicia. Arsen dengan berat hati meninggalkan Velicia di kamar sendirian. Arsen menuju kamar inap Daniel dengan mantap. Arsen ketuk kamar Daniel, ia masuk dengan muka temboknya.


"Ada apa kamu ke sini?" Suara Daniel meninggi.


Alya sedikit terkejut dengan kedatangan Arsen, ke kamar inap sang suami. Alya pikir Arsen akan menjenguk Daniel, dan kenyataannya tidak. Arsen mendekati Daniel untuk berdiskusi tentang Velicia.


"Aku ke sini hanya ingin berdiskusi tentang Velicia," ucap Arsen sambil menatap Daniel dengan datar.


"Aku tidak peduli dengan wanita itu," jawab Daniel acuh.

__ADS_1


"Sekarang dia sudah sadar," terang Arsen.


"Bagus sekali, jika Velicia sudah sadar, apa kabarnya baik-baik saja?" tanya Alya dengan tulus.


"Mulai membaik keadaannya , tapi, ada masalah sedikit." Arsen berat sekali ingin berbicara tentang membahas kebutaan Velicia.


"Lalu, apa lagi kamu ke sini?" Daniel mencibirnya.


"Aku ke sini ...." Arsen segan untuk melanjutkan ucapannya.


"Iya apa?" cecar Daniel.


Arsen bergeming, Daniel mencoba menerka-nerka kedatangan Arsen ke kamar inapnya pasti ada sesuatu. "Kamu butuh biaya kan?" Daniel mencoba bernegosiasi.


"Iya, benar," jawab singkat Arsen.


"Oke, jika kamu mau itu, akan aku turuti. Tapi tak segampang itu, kamu harus tanda tangan perjanjian, sebelum mendapatkan uang itu."


"Apa harus begitu? Velicia perlu operasi mata untuk bisa melihat!" bentak Arsen yang kesal oleh jawaban Daniel.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


karya Dee hwang ♥️♥️♥️


__ADS_1


__ADS_2