
Saat Elsa keluar dari ruangan Pak Suhendar, Johan yang mengetahui itu langsung bersembunyi. Johan hanya mengikuti Elsa dari belakang tapi jarak mereka sedikit agak jauh. Elsa menangis saja Johan tahu, sampai Elsa tidak mengetahuinya. Johan langsung menggedor pintu mobil.
Flashback off
"Sudah, nangisnya?" tanya Johan sambil menangkup wajah Elsa penuh air mata.
Elsa bergeming beberapa saat, ia mencoba bercerita tentang kejadian beberapa saat lalu yang terjadi. Sebenarnya Johan tahu, ia hanya diam saja.
****
Hari yang ditunggu-tunggu telah datang, Burhan datang ke rumah sakit ingin bertemu Daniel. Pagi-pagi Burhan ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan Daniel. Alya duduk di sana hanya bisa menyaksikan Burhan menyusun rencana. Daniel mendengarkannya sangat serius, Daniel tidak mau rencana ini gagal. Suara ketukan pintu pun terdengar, Arsen masuk ke dalam lalu duduk di sofa bersebrangan dengan Burhan.
"Apa kabar, Tuan Arsen?" sapa Burhan.
"Baik," jawab Arsen hanya datar.
"Oke, silakan Anda tanda tangan di sini," titah Burhan sambil memberikan secarik kertas pernyataan.
"Sudah, mana cek bank-nya?" tanya Arsen dengan tidak sabaran.
"Ini, Tuan. Cek bank yang kami janjikan kepada Tuan," ucap Burhan sambil tersenyum.
Arsen langsung mengambilnya tanpa basa-basi Arsen berjalan menuju pintu untuk keluar. Tiba-tiba Daniel berucap, "Dasar sampah, habis dapat uang langsung pergi," cicit Daniel.
Padahal Arsen belum keluar dari ruangan itu, ia pasti mendengar hinaan dari Daniel. Arsen hanya bisa mengepalkan tangannya, ia langsung memutar tubuhnya lalu menatap Daniel dengan sinis. Kemudian, Arsen menutup pintu dengan membantingnya dengan sangat keras.
Brak ...
"Cari mati itu, orang!" teriak Daniel kesal.
__ADS_1
Alya langsung berdiri menghampiri Daniel, melihat sang suami berteriak-teriak membuat Alya takut. "Mas, sudahlah. Orangnya juga sudah pergi." Alya mencoba menenangkan Daniel sambil mengusap-usap punggungnya.
"Aku kesal, Sayang." Suara Daniel tetap meninggi.
Tiba-tiba Burhan pamit pergi karena ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. "Maaf, Tuan. Saya izin mau pergi dulu, karena ada pekerjaan lain yang harus aku lakukan," pamit Burhan.
"Hem." Daniel dengan angkuhnya hanya berdehem.
"Om Burhan, terima kasih telah membantu keluarga kami," ucap Alya dengan lembut.
"Baik, Nona." Burhan pergi.
Ya Tuhan, Nona Alya, bak malaikat tak bersayap, sudah cantik, baik, sabar orangnya, dan hebatnya dia bisa mengendalikan, Tuan Daniel, gumam Burhan di dalam hatinya sambil berjalan ke arah pintu.
****
Arsen dengan senang hati melangkahkan kakinya dengan memegang cek lima belas miliar di tangannya. Arsen berjalan menuju ruangan Dokter Doni untuk membahas operasi mata Velicia. Sampai di sana ia ketuk pintu ruangan Dokter Doni, lalu masuk ke dalam tanpa mengantri.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Arsen?" tanya Dokter Doni.
"Saya ingin membahas masalah operasi mata Velicia, Dok."
"Waduh, Tuan. Kalo sekarang tidak bisa, karena kita belum ada pendonor mata untuk Nona Velicia," terang Dokter Doni.
"Jadi saya harus menunggu berapa lama, Dok?" tanya Arsen.
"Belum tahu, Tuan. Nanti jika sudah ada pasti saya kabari," ucap Dokter Doni.
Arsen keluar dari ruangan Dokter Doni dengan wajah kecewanya. Rasanya berat untuk melangkahkan kakinya ke kamar inap Velicia. Arsen binggung harus berbicara seperti apa? Agar Velicia mengerti.
__ADS_1
"Vel," panggil Arsen.
"Arsen," jawab Velicia dengan antusiasnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arsen basa-basi.
"Baik, tadi ada perawat ke sini, memberi tahu, jika aku sudah boleh pulang," ucapnya sendu.
"Oh, baguslah. Berarti kamu sudah sehat, Vel," jawab Arsen dengan hati-hati.
"Apa kamu, tidak bisa mengoperasi mataku?" Suara Velicia sedikit meninggi.
"Bisa, Vel. Tapi kita harus menunggu, kata Dokter Doni, belum ada pendonornya," terang Arsen.
"Apa!" teriak Velicia tidak terima dengan kenyataan.
Velicia yang sedang duduk di brankar ia meraba-raba nakas. Velicia membanting piring, gelas, dan vas bunga yang terakhir. Arsen mendekati Velicia, lalu memeluknya dengan erat.
"Vel, sabar. Aku janji dalam waktu dekat ini, aku akan carikan pendonor untuk mu."
"Kamu, bohong! Aku benci kamu Arsen." Velicia mendorong tubuh Arsen agar menjauh.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤