
Tiba-tiba Daniel bergerak membuat Alya terkejut bercampur bahagia. "Mas," panggil Alya dengan haru.
Daniel membuka matanya pelan-pelan, ia melihat sekelilingnya. Daniel memperhatikan satu per satu orang yang berada disekitarnya. "Sayang," lirihnya sambil menahan sakit.
"Jangan banyak bergerak," titah Alya sambil mengusap wajah suaminya.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Daniel.
"Aku baik-baik saja, Mas. Maaf, kamu seperti ini karena aku mas, andai saja aku tidak mudah percaya dengan orang lain," ucap Alya penuh penyesalan.
"Sudah, jangan sedih. Memang seharusnya aku sebagai suami harus melindungimu, Sayang," ucap Daniel sambil menggenggam tangan Alya.
"Alya, kamu sekarang istirahat. Kamu tadi janji sama Papa, kalau Daniel siuman kamu mau istirahat." Riyan sedikit khawatir dengan keadaan menantunya.
"Baik, Pa." Alya menuruti kemauan sang mertua.
"Elsa," panggil Riyan.
"Iya, Pa. Ada apa?"
"Kamu pulang ke rumah, bersama Alya. Johan antar mereka berdua," titah Riyan.
"Maaf, Pa. Apa tidak kejauhan jika, Alya nanti bertemu Mas Daniel, kalau pulang ke rumah," usul Alya.
"Papa, akan urus kepindahan Daniel, ke rumah sakit dekat rumah kita," terang Riyan.
"Baiklah, Pa."
Alya mendekati Riyan mencium tangannya tak lupa mencium tangan Oma Sintia dengan takzim. Elsa pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Alya. Setelah itu mereka bertiga pun keluar dari kamar inap Daniel. Tiba-tiba Alya memegangi kepalanya, membuat Elsa panik.
"Kenapa, Kak?" tanyanya.
"Aku pusing, Els. Mau berobat? Kita cari Dokter," ajak Elsa.
"Nggak perlu, aku hanya lapar."
Kruyuk ...
__ADS_1
Kruyuk ...
Sangat terdengar jelas suara perut Alya yang kelaparan. Johan dan Elsa hanya bisa tertawa mendengar suara perut Alya. "Oke, kita sebelum pulang makan saja dulu," ajak Elsa.
"Bener banget, aku juga laper nih," timpal Johan.
"Dasar kalian berdua, gaya banget mentertawakan aku, tapi, ikut lapar juga," gerutu Alya.
"Iya, maaf bumil," ucap Elsa sambil menggandeng lengan Alya.
*****
Arsen berdiri menatap Velicia yang masih setia dengan memejamkan matanya. "Vel, kapan kamu bisa bangun? Aku janji kalau kamu bangun, kamu minta apa saja aku turuti," gumam Arsen sambil menggenggam tangannya.
Mungkin Tuhan telah mendengar doa Arsen yang berharap Velicia bangun dari tidur panjangnya. Tiba-tiba tangan Velicia bergerak, Arsen terkejut bukan main. Ia langsung memencet tombol bantuan, agar perawat dan Dokter masuk ke dalam kamar Velicia. Tak butuh waktu lama Dokter dan perawat masuk ke dalam kamar inap Velicia. Mereka memeriksa keadaan Velicia yang baru saja siuman.
"Vel," panggil Arsen.
"Kenapa seperti ini!" teriak Velicia bangun dari komanya.
"Kenapa, Vel? Maksud kamu apa?" tanya Arsen panik.
"Maksudnya apa dokter?" tanya Arsen ikut juga panik.
"Mungkin saja, waktu mengalami kecelakaan, Nona Velicia mengalami benturan sangat keras pada bagian matanya, yang mengakibatkan kebutaan, jadi butuh pemeriksaan lebih lanjut, agar lebih jelas, Tuan," terang Dokter.
Jedar ...
Seperti terkena sambaran petir di siang hari, Arsen hanya bergeming. Tak mampu berbicara lebih, ia melihat Velicia saja sudah sangat menyakitkan hatinya. Arsen mendekati Velicia langsung memeluknya dengan erat.
"Aku tidak mau buta! Tidak, mau!" Velicia berteriak-teriak dengan histeris.
"Tenang, Vel. Aku akan cari solusinya, jangan panik." Arsen mencoba menenangkan Velicia dari traumatik.
"Di mana, Daniel? Apa dia tidak datang kemari?" tanya Velicia.
"Dia selalu datang ke sini untuk menungguimu, hanya di malam hari saja, karena di pagi hari dia ke kantor." Arsen berbohong agar Velicia tidak tambah kecewa dengan keadaannya sekarang.
__ADS_1
"Apa aku masih, hamil?" tanya Velicia dengan hati-hati takut Arsen salah paham.
"Anak kita sudah tiada, Sayang," ucap Arsen sendu, tanpa sadar air matanya mengaliri pipinya.
Bagus, akhirnya aku keguguran, tidak punya anak dari Arsen, batin Velicia sedikit lega.
"Kamu tidak sedih, kan?"
Yang pasti tidak, aku sangat bahagia, Arsen. Akhirnya aku terbebas darimu, gumam Velicia dalam hatinya.
"Pasti, aku sedih, Arsen," jawab Velicia bohong.
Velicia berpura-pura sedih, agar Arsen kasihan dengannya. Velicia memanfaatkan momen ini untuk Arsen membantunya agar tidak buta lagi, dengan mengoperasi matanya. "Ar, bagaimana jika aku buta?" tanya Velicia dengan terisak-isak.
"Aku akan cari, jalan keluarnya, Sayang. Besok kita cari Dokter mata yang bagus. Agar kamu bisa sembuh." Arsen mengusap-usap kepala Velicia.
****
"Pa, aku tidak mau tahu, jika Victor agar cepat ditemukan," titah Daniel dengan penuh emosi.
"Sembuhkan dulu lukamu! Jangan pikirkan hal lain dulu, Daniel," nasihat Oma Sintia.
Lihat saja, kamu, Victor. Akanku bunuh jika aku menemukanmu, umpat Daniel dalam hatinya.
"Dan," panggil Riyan.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1
karya Asri Faris