
Elsa langsung membuka selimutnya, ia tersenyum jengah. "Maaf," cicitnya.
"Mana berani, aku tiduri kamu, El. Bisa-bisa di bunuh, Kakakmu. Jangan gila, deh," ejek Johan.
"Terus kenapa, aku di sini? Katanya, mau anterin pulang,"
"Kamu lupa? Tertidur dalam mobilku, kamu kan sedikit mabuk, susah dibangunin," kilah Johan.
****
"Sayang, maafkan aku. Kamu boleh tampar, aku. Tapi jangan tinggalkan, aku." Daniel sendu.
"Kenapa, Mas! Nggak jujur sama, aku. Aku tau Velicia wanita yang kamu cintai. Bertanggungjawab lah, itu kan anak mu."
"Aku sudah menikahinya, hanya sirih. Kamu adalah wanitaku yang sah." Daniel meraih tangan Alya menciumnya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku mulai jatuh cinta kepadamu, jangan pernah tinggalkan, aku," lanjutnya.
"Apa aku harus, sabar? Jika di madu olehmu, apa aku sanggup?" Alya menangis.
"Aku yakin anak itu, bukan anakku, percayalah." Daniel mengiba.
"Apa kamu sudah gila, tidak mengakui anak di dalam kandungan Velicia."
"Aku mengakui, aku telah tidur bersamanya tapi aku selalu pakai pengaman," terang Daniel.
Deg...
Jantung Alya mendengar pernyataan Daniel terasa berdegup kencang. Bukan kebahagiaan melainkan kekecewaan begitu besar. Untung hati manusia terbuat dari Tuhan. Jika buatan manusia, pasti hancur berkeping-keping.
"Mas," panggil Alya tiba-tiba pingsan.
"Alya! Bangun, Sayang." Daniel menangis.
Dengan sigap Daniel menggendong Alya lalu berlari mencari taksi. Untung saja sampai di pinggir jalan raya, ada taksi berhenti menghampiri Daniel. Lalu Daniel masuk ke dalam mobil di bantu supir taksi.
"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit terdekat atau klinik bisa," ucap Daniel panik.
"Baik, Tuan."
Daniel meraih ponselnya di saku celananya, ia mencoba menghubungi Johan. Berulang kali menelepon tidak ada jawaban dari Johan membuat Daniel kesal. Sampailah di rumah sakit Daniel turun.
"Tuan, sudah sampai."
__ADS_1
"Pak, ini." Daniel memberi uang pecahan seratus ribu.
"Aduh, Tuan. Tidak ada kembaliannya, uang kecil saja. Di argo cuma sedikit habisnya," tolak Supir Taksi.
"Nggak pa-pa, Pak. Ambil saja kembaliannya. Tapi, bantu saya bukakan pintu," pinta Daniel.
Setelah dibukakan pintu, Daniel mengendong Alya. Ternyata ada rumah sakit terdekat di dekat kampus. Beberapa perawat mengetahui Daniel membawa Alya, mereka berlari membawa brankar. Di taruhlah Alya di atas brankar oleh Daniel.
"Tunggu sebentar, Tuan. Anda bisa tunggu di luar biarkan dokter memeriksanya," pinta Perawat.
Daniel menunggu di ruang tunggu IGD. Dengan wajahnya yang mulai memucat ia sangat khawatir dengan keadaan Alya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia melihat id caller-nya ternyata Johan menghubungi Daniel.
Johan📞"Halo, Dan. Kenapa kamu menghubungiku tadi?" tanyanya.
Daniel📞"Alya masuk rumah sakit, ia pingsan tak sadarkan diri."
Johan📞"Kok bisa,"
Daniel📞"Aku di rumah sakit xxx," terangnya lalu mematikan teleponnya.
****
"Kenapa, Kak? Kok panik gitu," tanya Elsa.
"Kamu mandi lama nggak? Aku mau pergi ke rumah sakit, sekarang."
"Alya pingsan lagi," terangnya.
"Ini sudah di apartemenku, tungguin, ya."
"Yaudah, buruan."
Johan menunggu Elsa mandi, ia berkeliling apartemen Elsa. Ternyata Johan menemukan foto mereka bertiga. Elsa yang masih SD, lalu Johan yang sudah kelas 3 SMA. Johan memegangi pigura tersebut merasa Elsa sangat cute sewaktu kecil. Johan menyukai Elsa memang dari dulu, semenjak berteman dengan Daniel di masa SMA.
"Ambil aja kalo mau di bawa pulang." Suara Elsa mengagetkan Johan.
"Hampir, saja." Pigura hampir jatuh dari genggaman Johan.
"Bentar banget, kamu mandi, El."
"Mandi bebek aja, Kak," jawab Elsa terkekeh.
"Coba geh, wangi 'kan?" Elsa menyodorkan kaosnya, seolah-olah menyuruh Johan untuk menciumnya.
__ADS_1
Cup...
Johan mencium Pipi Elsa, refleks mendorong tubuh Johan. "Kak, aku ini calon istri orang, tahu?"
"Lalu."
"Jangan sentuh-sentuh, aku. Kasian suamiku liat aku sudah ternodai olehmu," protes Elsa. Johan hanya tertawa melihat tingkah Elsa yang menggemaskan menurutnya.
*****
"Itu bukannya, Daniel," ucap Velicia sambil menunjuk kearahnya.
"Kenapa dia di sini?" Arsen penasaran.
"Kita kesana yuk," ajak Velicia sambil tertatih-tatih berjalannya.
"Mau apa? Mau ngemis cinta lagi?" ejek Arsen.
"Kamu mikir, anak kita butuh uang, Arsen." Velicia meninggikan suaranya.
"Jangan keras-keras, nanti orang pada tau."
"Tau apa?" sahut Elsa.
"Bukan apa-apa," jawab Arsen dengan tatapan tak bersahabat.
Elsa mencebikkan bibirnya, "Oh!"
Elsa melihat Velicia berjalan tertatih-tatih rasanya ingin menertawakannya. Ia sangat penasaran siapa yang membuatnya cidera seperti itu. Lalu Elsa bertanya dengan Velicia dengan sedikit mencibirnya.
"Kenapa, jalan gitu?"
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1
Baca karya punya Kak ave_aveii nggak nyesel pokoknya.