Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Curhat Colongan


__ADS_3

Lihat saja, kamu, Victor. Akanku bunuh jika aku menemukanmu, umpat Daniel dalam hatinya.


"Dan," panggil Riyan.


Daniel bergeming sedang asik dengan lamunannya. "Dan." Suara Riyan meninggi.


"Emb, kenapa, Pa?" tanya Daniel dengan acuh.


"Biar Victor, Papa yang urus, jangan macam-macam kamu," ancam Riyan.


"Apaan si, Papa." Daniel terlihat kesal.


"Sudah, Dan. Turuti saja kemauan Papamu," titah Oma Sintia.


Tak butuh waktu lama Riyan mengurus perpindahan Daniel ke rumah sakit di dekat rumah mereka. Beberapa jam kemudian Daniel sudah berada di rumah sakit baru. Ternyata, rumah sakit yang ditempati oleh Velicia juga. Daniel terkejut bukan main, ia ingin menolak tapi takut sang papa marah. Tanpa disengaja Arsen waktu di lobi melihat Daniel sedang didorong di atas brankar oleh perawat.


Daniel kenapa? Sakit apa dia, gumam Arsen sedang bertanya-tanya di dalam hatinya.


Diam-diam Arsen mengikuti perginya Daniel, dari belakang ia mengikuti. Masuklah di kamar VVIP, Arsen tidak kaget dengan itu. Karena Daniel adalah anak orang kaya pantas saja ia melakukan hal sesuka hatinya, dipikiran Arsen. Arsen cukup menunggu beberapa menit perawat keluar. Arsen mencoba basa-basi untuk bertanya-tanya keadaan Daniel.


"Maaf, Sus. Itu tadi Tuan Daniel Danuarta bukan, ya?"


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya, ingin masuk ke sana tapi takut mengganggu, saya tidak sengaja tadi melihatnya. Memang sakit apa ya?" tanya Arsen penasaran.


"Maaf, Tuan. Itu privasi pasien," jawab perawat.


Arsen memasukkan uang ke dalam kantung saku perawat itu, agar mudah mendapatkan informasi. Perawat itu langsung menjawab pertanyaan Arsen dengan lancar setelah di beri uang. "Ada luka tembak, Tuan. Hanya itu yang saya tahu, saya permisi," pamit perawat pergi.


"What? Apa yang terjadi kepada Daniel, sampai dia terkena tembakan." Arsen bermonolog.


****


Keesokan harinya, Alya mempersiapkan makan siang untuk suaminya. Alya baru saja selesai membuat bubur lalu ke kamarnya, untuk mengambil tas dan ponselnya. Saat semuanya sudah siap ingin berangkat ke rumah sakit. Elsa menghampiri Alya, menawarkan agar mereka berdua pergi bersama ke rumah sakit.


"Kak Alya mau kerumah sakit, ya?" Basa-basi Elsa.

__ADS_1


"Iya, Els, kenapa?"


"Aku anterin ya, bolehkan?" Elsa memasang wajah imutnya.


"Ya bolehlah, aneh ih, kamu," jawab Alya sambil menggelengkan kepalanya. "Eh, sebentar-sebentar, memangnya nggak kuliah, kamu?"


"Ada, males ke kampus," jawab Elsa sambil cengengesan.


"Aku adu-in Papa, ya," ancam Alya.


"Ih, janganlah." Elsa mengiba.


"Anterin aku ke rumah sakit, habis itu kamu ke kampus," titah Alya dengan tegas.


"Hu ..., nggak seru," gerutu Elsa sambil masuk ke dalam mobil."


"Bukan gitu, Elsa. Kuliah itu penting buat masa depan kita. Wanita itu harus bisa mandiri, tidak bergantung kepada laki-laki. Kamu mau nasib kamu seperti aku?"


"Nggak maulah, diduakan."


"Mungkin ini takdir, yang nggak bisa aku pungkiri. Kalo kamu lemah seperti aku, menyedihkan tahu," ucap Alya sambil tertawa.


"Karena laki-laki, jika tidak diambil oleh pelakor, ya, diambil oleh Tuhan, itu faktanya Elsa," ucap Alya sambil tertawa seperti tidak ada beban.


"Bisa-bisanya ya, Kak. Kamu ngomong gitu, pakek tertawa lagi," gumam Elsa sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah, fokus saja sama kemudimu, Els. Nggak usah mikirin masalahku, yang belum jelas bagaimana, bumil nggak boleh sedih, harus tetap semangat," ucap Alya sambil tersenyum. Alya mencoba menghibur dirinya sendiri.


****


"Dan, buruan di makan," titah Johan.


"Beliin aku nasi Padang sih, nggak enak nih makan makanan rumah sakit," gerutu Daniel.


"Suruh siapa sakit," balas Johan sedikit kesal.


"Ngelunjak kamu, ya." Daniel menatap tajam.

__ADS_1


"Bodo amatlah, mau dimakan sana nggak juga sana," jawab Johan kesal. Ia lebih memilih tiduran di sofa.


"Awas, kamu Johan, kalo aku sudah sembuh, lihat saja nanti," ancam Daniel ingin melempar semua makanan di wajah Johan.


"Kenapa, Mas? Nggak ada angin nggak ada hujan marah-marah gitu," timpal Alya tiba-tiba sambil menutup pintu.


"Urusin tuh, suami kamu Al. Nyebelin banget," jawab Johan.


"Kenapa?" tanya Alya tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah drastis, maklum terpengaruhi oleh hormon.


"Masak dia minta makan nasi Padang, bekas operasinya saja belum kering," adu Johan.


"Dasar tukang ngaduan," umpat Daniel.


"Biarin, dari pada aku nanti yang kena getahnya."


Daniel dan Johan saling adu argumen membuat Alya pusing lalu berteriak. "Stop kalian berdua." Daniel dan Johan langsung diam, pertama kalinya mereka melihat Alya segarang itu.


"Mas, makan ini," titah Alya.


"Apa ini?"


"Buka sendiri." Alya pindah duduk di sofa di samping Johan.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


karya Quensly

__ADS_1



__ADS_2