
Apa aku jahat, jika melihat Velicia dan Mas Daniel bercerai saat Velicia sakit? Aku bahagia dalam penderitaan orang lain. Kenapa hatiku melow sekali, semenjak hamil, gumam Alya dalam hati.
"Sayang, ayo pulang. Tinggalkan mereka berdua saja. Jangan memperdulikan yang tidak penting." Daniel menatap Johan dengan kesal.
Alya menuruti sang suami untuk kembali ke rumah mereka berdua. Sedikit ada kelegaan di hati Alya setelah mendengar Daniel akan menceraikan Velicia. Banyak pasang mata melihat mereka berjalan dengan mesra saat ingin keluar dari perusahaan.
"Kamu nggak malu, Mas?"
"Malu kenapa?"
"Mesra sekali denganku, tuh, dilihatin ama bawahan kamu, Mas. Nggak enak aku ama mereka, Mas."
"Sudah jangan pedulikan mereka, bukannya tadi sudah ku bilang, Sayang," tegas Daniel.
Alya merasa canggung dengan kejadian ini, sedangkan Daniel tak memperdulikan omongan orang sekitar. Mereka berdua akhirnya keluar dari lift dengan reaksi yang berbeda. Alya mencoba mengikuti kemauan sang suami tidak memperdulikan itu.
****
"Tuan, saya pulang duluan ya, udah sore juga," pamit Nina kepada Johan.
"Hati-hati, Kak Nina." Elsa melambaikan tangannya, Johan hanya bisa tersenyum.
"Els, mau makan nggak?"
"Bolehlah, Kak. Udah laper mau makan lagi."
"Dasar kamu, perut gentong," ejek Johan.
Saat mereka keluar dari ruangan Daniel, lalu masuk ke dalam lift. Tiba-tiba ada tragedi yang tak diinginkan lagi. Satu belum selesai ada masalah lagi, itulah hidup.
Tut...tut...tut...
Terdengar sangat jelas ditelinga mereka berdua di dalam lift. Tiba-tiba lift mati, membuat Elsa tak karuan dibuatnya. Menangis sedikit histeris, ketakutan jika lift tersebut jatuh. Johan dengan sigap memencet tombol bantuan. Agar mereka cepat selamat dari dalam lift.
"Kakak! Aku takut." Elsa menangis sambil memeluk erat Johan.
"Sabar, bantuan akan segera datang." Johan mencoba menenangkan Elsa.
"Jadi kita, harus bagaimana?"
"Diam lah, jangan panik, kita pasti akan selamat, Elsa."
"Papa... Elsa takut," rengekannya seperti anak kecil.
Johan hanya ingin tertawa melihat Elsa menangis, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa jika nasib mereka diambang Kematian. Johan mencoba tenang, ia meraih ponselnya ternyata tidak ada sinyal. Johan menghembuskan napasnya dengan kasar, ia pencet lagi tombol bantuan di lift.
"Maaf, Tuan. Bantuan akan segera datang," ucap security yang mengawasi CCTV.
"Cepatlah!" teriak Johan.
Beberapa saat kemudian, pintu lift telah terbuka. Johan yang duduk dipojokan sambil memeluk Elsa tetap panik. Menurut Johan hari ini, ia menang banyak telah di peluk oleh Elsa selama itu.
"Els, sudah. Ayo, bangun. Jangan takut."
Elsa membuka matanya secara perlahan dan menatap Johan dengan sendu. "Kita nggak jadi matikan?" seloroh Elsa.
__ADS_1
"Kita saja belum merasakan malam pertama, Els. Kamu mau mati saja," balas Johan jengah.
"Lagian gimana sih, Pak. Lift nggak pernah di rawat apa? Kalo sampai saya mati, Bapak saya hantui," omel Elsa.
"Maaf, Non."
"Sudah-sudah, besok petugas ngurus lift, aku marahin, yuk, kita pulang."
****
Sampai di rumah, Oma Sintia dan Riyan duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Elsa berlari memeluk sang papa. Oma Sintia hanya menggelengkan kepalanya.
"Johan, sini duduk dulu, kalian sudah makan malam belum?" tanya Oma Sintia.
"Udah nggak mood makan," sungut Elsa.
"Oma tanya Johan, bukan kamu Elsa," cicit Oma Sintia.
"Papa," rengek Elsa.
"Kamu nggak malu sama calon suamimu? Manja-manja gini, Els." Riyan mengusap rambut sang putri.
"Nggak dong, kenapa harus malu. Iya kan, Kak?"
Johan hanya tersenyum saja, Elsa mulai duduk dengan tenang. "Pa, tadi Elsa kejebak di dalam lift."
"Kok, bisa." Oma Sintia terkejut.
"Nggak tahu dah, Oma." Elsa mengerucutkan bibirnya.
"Pa, kenapa Papa tadi memukul Kak Daniel? Kasian tahu, setelah pulang dari kantor si Velicia kecelakaan, Oma."
"Hah? Kenapa bisa begitu, jadi Daniel sekarang di rumah sakit bersama Velicia?" Oma sedikit panik.
"Cie, Oma panik ya? Cie, yang Sayang sama cucu mantu bayangan," ejek Elsa.
"Oma, kasian sama Alya, pasti dia di rumah sendirian," terang Oma Sintia.
"Tenang, Oma. Kak Daniel dirumahnya tidak di rumah sakit."
"Iya, sekarang jadi Dewa bucin Oma," timpal Johan.
"Bagus itu, Oma senang mendengarkannya," ucap Oma Sintia sambil manggut-manggut.
"Jadi, Oma nggak sedih liat Velicia, masuk rumah sakit?" tanya Elsa.
Oma Sintia enggan menjawab pertanyaan Elsa, ia malah berdiri meninggalkan mereka semua. "Tuh, Oma ngambek gara-gara kamu, Els." Riyan menepuk pundak Elsa.
"Hu... baperan," lirihnya.
Semoga Oma nggak dengar, nggak dengar, batin Elsa sambil cengengesan.
"Elsa... Oma dengar loh," ucapnya sambil menaiki anak tangga.
*****
__ADS_1
"Vel bangun, Vel," lirih Arsen sambil menggenggam tangan Velicia.
Arsen menangis saat melihat kepala Velicia diperban, wajah mulusnya banyak goresan lalu ditangan dan kakinya penuh luka. Arsen sempat mengusap perut Velicia, dengan sendu. Arsen keluar ruangan ICU mencoba mencari dokter yang merawat Velicia.
"Akhirnya, ketemu juga ruangannya," gumam Arsen.
Arsen mengetuk pintu ruangan si Dokter yang merawat Velicia. Arsen sedang membutuhkan kepastian. "Masuk!" teriak dari dalam.
Arsen pun masuk ke dalam, lalu memberi salam kepada Dokter. "Malam, Dok."
"Silakan duduk, Tuan."
"Sebenarnya, bagaimana keadaan Velicia, Dok?"
"Nona Velicia kritis, Tuan. Saya sudah semaksimal mungkin memberi pertolongan, semoga Nona bisa melewati masa kritis ini."
"Untuk masalah keguguran bagaimana, Dok?"
"Jangan khawatir, Tuan. Nanti jika Nona Velicia sudah bangun kita cek up lebih lanjut."
"Terima kasih, Dok. Atas penjelasannya," pamit Arsen.
Arsen keluar dari ruangan Dokter, lalu kembali lagi ke ruang ICU. Arsen duduk di kursi tunggu, tiba-tiba ia teringat Daniel. Arsen mencoba menghubungi Daniel agar datang ke rumah sakit.
****
"Mas, ponselmu berdering terus, siapa tahu penting," ucap Alya mengingatkan Daniel hampir saja masuk ke dalam alam mimpinya.
"Kamu saja mengangkatnya, aku ngantuk."
Alya meraih ponsel Daniel yang berada di nakas, ia angkat teleponnya. "Halo, ini siapa ya?"
"Aku Arsen, mana Daniel?"
"Dia lagi tidur, Kak Arsen."
"Bilang sama dia, Velicia lagi butuh dia sekarang, dia di rawat di rumah sakit, di ruang ICU, kritis."
Belum sempat Alya menjawab Daniel merebut ponselnya lalu menjawab Arsen. "Urus saja Velicia, dia mau saya ceraikan, besok biar pengacara menemui mu," balas Daniel lalu mematikan teleponnya.
"Mas, kamu serius?"
"Demi semuanya, sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, Alya," ucapnya dengan tegas.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1