Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Kabar Gembira


__ADS_3

"Kenapa, jalan gitu?"


"Alya, tadi menendangku, sakit sekali rasanya kakiku," terang Velicia.


"Untung bukan perutmu yang terkena tendangan, Alya." Elsa terkekeh.


"Kamu nggak sopan banget, Kakak ipar mu sedang kesakitan bukannya simpatik, malah..." Arsen mulai emosi.


"Peduli amad, amad aja nggak peduli," sungut Elsa lalu berjalan mendekati Daniel.


Yang lain pun mengikuti Elsa berjalan mendekati Daniel. Daniel duduk termenung pikirannya sangat kacau tak karuan. Elsa duduk di samping Daniel mengusap bahu sang kakak.


"Are you ok,"


Daniel hanya menganggukkan kepalanya, lalu Elsa bertanya kembali. "Oma, sudah tahu, Kak?"


"Kakak belum berani telepon, oma."


"Apa aku sekarang beritahu, oma?" Elsa meminta pendapat.


"Jangan dulu, El. Kakak belum siap di usir, oma."


Velicia mendekati Daniel ia berinisiatif menghibur Daniel. Belum sampai Velicia duduk di samping Daniel. Daniel telah mengusir Velicia, membuat Arsen geram.


"Sayang, kamu kenapa di sini?" tanya Velicia sedikit panik.


"Bukan urusanmu! Pulang saja kamu," jawab Daniel dingin.


"Sayang," lirihnya.


Arsen langsung meraih tangan Velicia lalu menggenggamnya. Arsen menarik Velicia agar pergi dari sana. Velicia bergeming, ia enggan pergi dari rumah sakit.


"Duh, muka tembok, udah di usir, masih aja di sini," sindir Elsa.


"Bisa nggak, El. Kamu itu sekali aja, kalo ketemu aku nggak ngajak ribut," pinta Velicia.

__ADS_1


"Duh, ada suara, tapi nggak ada orangnya, hi, ngeri, pergi ah," gumam Elsa pergi ke toilet.


Cukup lama mereka berlima menunggu Alya dipindahkan ke ruangannya. Perawat keluar dari ruang IGD. Memberitahu jika Alya sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan VVIP yang Daniel pesan. Mereka berlima berpindah ke ruangan Alya. Alya sudah dipindahkan ke ruangannya dokter jika di sana sedang memperhatikan kondisi Alya belum sadar.


"Maaf, di sini siapa yang suaminya Nona Alya?" Tanya Dokter Siska.


"Saya, Dok." Daniel berjalan mendekati dokter Siska.


Jedar...


Seperti tersambar petir di siang hari, Velicia bergeming. Sakit yang dia rasakan, di bagian dada rasanya ingin meledak. Tiba-tiba kepalanya rasanya pusing sekali, tetapi, masih ia tahan.


"Selamat ya, Tuan. Istri anda sedang hamil. Karena kelelahan mungkin Nona Alya bisa pingsan." Dokter Siska mengulurkan tangannya untuk memberi selamat.


"Serius, Dok. Terima kasih." Daniel menerima uluran tangannya.


"Aaaa!" teriak Elsa bahagia.


Elsa berlari memeluk sang kakak, Daniel membalas pelukan Elsa. Velicia langsung memegangi kepalanya pandangannya tiba-tiba menghitam lalu ia pingsan. Daniel tak memperdulikan Velicia, ia malah mendekati Alya masih tertidur karena pengaruh obat.


"Urusi saja, Velicia. Sana bawa ke dokter, nanti tagihan saya yang bayar," jawabnya santai.


Bangs*t sekali, Daniel. Benar-benar sudah tidak peduli dengan Velicia, batin Arsen yang mulai memanas setelah mengetahui Daniel sudah menikah ditambah istrinya sudah hamil pula.


Arsen tak membalas ucapan Daniel, ia langsung membawa Velicia IGD. Beberapa menit kemudian dengan perlahan Alya membuka matanya. Orang pertama ia lihat adalah sang suami sedang menciumi tangannya.


"Mas," lirihnya.


Daniel mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang mulai ia cintai. Daniel menyambutnya dengan mencium keningnya. Alya mencoba duduk bersandar di brankar.


"Kamu kenapa? Bahagia sekali, melihatku berbaring di rumah sakit," ketusnya.


"Jelas aku bahagia..." Belum selesai Daniel berbicara sudah di pangkas oleh Alya.


"Oh, kenapa di bawa ke rumah sakit? Kenapa nggak di tinggal aja tadi, di jalan raya," gerutunya lagi.

__ADS_1


"Astaga, bumil. Sensitif sekali," gumam Elsa.


"Siapa yang bumil? Velicia maksud kamu, El," cecar Alya emosinya meledak-ledak.


"What! Jadi, kamu tahu kalo Velicia hamil?" Elsa terkejut bukan main ekspresi wajahnya tercengang.


"Taulah, tadi aku tendang, tuh, wanita murahan. Beraninya, mengalahkan ku," umpat Alya.


"Cie, yang mulai bucin," seloroh Daniel.


"Apa si, Mas! Ceraikan dia, atau aku!" teriak Alya.


"Aku akan, ceraikan dia, Sayang. Tunggu dia melahirkan, akan ku buktikan, jika itu bukan anakku."


"Jadi kalo itu anakmu, kamu nggak mau ceraikan, dia." Alya menatap tajam.


"Aku janji, kepadamu aku akan memilihmu." Daniel mencoba meyakinkan Alya.


"Sehat-sehat ya, Sayang," ucap Daniel sambil mengusap-usap perut Alya.


"Jadi, aku hamil juga?" Alya speechless.


Daniel memeluk Alya, di pelukan Daniel Alya meneteskan air matanya. Ia sangat terharu sekarang sudah menjadi seorang ibu. Pasti kedua orangtuanya sangat bahagia mendengar berita bahagia ini. Alya tiba-tiba teringat dengan oma Sintia.


"Oma, Di mana? Kenapa nggak Dateng ke sini." Alya terlihat sedih.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2