
Elsa tersenyum mendengar pernyataan sang kakak. Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar. Daniel membuka pintu mempersilakan orang tersebut masuk. Daniel senang akhirnya masalahnya dengan Velicia agar segera selesai.
"Silakan masuk, Pak."
"Terima kasih, Tuan Daniel."
"Silakan duduk."
"Astaga, Om Burhan," gumam Elsa.
"Siapa dia?" bisik Alya di telinga Elsa.
"Pengacara keluarga kita, mana orang sulit lagi," lirih Elsa.
"Hah, susah gimana?"
"Lihat saja nanti," jawab Elsa.
Burhan pun duduk lalu menaruh tasnya di meja, ia keluarkan berkas pengajuan surat cerai. Entah mengapa hati Alya merasa lega dengan semua ini. Tanpa disadari Alya tersenyum sekilas melihat Burhan di sana.
"Sini, Sayang," pinta Daniel, agar Alya duduk di sebelahnya.
"Mas serius? Nggak nyesel akan ninggalin orang yang Mas cinta?" tanya Alya dengan ragu.
"Demi kalian berdua aku siap," jawabnya.
"Jika suatu saat nanti, aku di posisi Velicia, apa Mas akan meninggalkan aku juga?"
"Kamu ngomong apa si, Al? Nggak usah ngaco," tegas Daniel kesal.
"Maaf, Mas," lirihnya.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya lalu ia menggenggam tangan Alya dengan lembut. Daniel mencoba mentransferkan energi positifnya kepada Alya. Mencoba meyakinkan walaupun isi hatinya masih ragu. Orang yang ia cintai tergeletak di atas brankar mencoba peduli tapi hati hambar.
"Jadi kamu saudara dari Velicia?" tanya Burhan.
"Iya, Kenapa?" acuh Arsen.
"Jadi begini, untuk kamu yang menjadi walinya sekarang, saya hanya ingin kamu tanda tangan, surat pernyataan, jika kamu menyetujui Daniel menceraikan Velicia. Menjadi saksi sudah cukup." Burhan memberikan surat pernyataan itu kepada Arsen.
__ADS_1
"Aku tidak sudi, tanda tangan!" bentak Arsen, melempar surat pernyataan itu kepada Burhan.
"Kamu!" teriak Daniel tak kalah sengit.
"Mas, jangan." Alya menahan lengan suaminya.
"Sudah, Tuan. Jangan kau kotori tangan Anda dengan orang yang menjijikkan seperti ini." Burhan melarang Daniel.
Daniel berdiri lalu menarik tangan Alya pergi dari sana. Elsa mengikuti Alya dan Daniel yang sudah pergi jauh. Burhan tetap duduk di ruangan itu sambil menatap Velicia banyak alat yang di tempelkan ditubuhnya.
"Jika kamu berubah pikiran, temui saya," ucap Burhan sambil mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
"Saya tidak tahu, harus apa? Jika Daniel ingin menceraikan Velicia, tinggal ucapkan saja, gitu kok repot."
"Apa tidak berpikir? Jika nanti Velicia bangun, sudah diceraikan Daniel, apa ia akan percaya? Jika tidak ada bukti, makannya kamu tanda tangan di sini," titah Burhan.
Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali, pasti Velicia tidak akan percaya jika tidak ada bukti, batin Arsen sedikit menyalahkan dirinya.
******
"Mas, maafkan aku." Alya memohon.
"Untuk tadi, Mas. Bukan aku ingin berbohong, tapi, Elsa melarang aku meminta izin mu."
Daniel dan Alya masuk ke dalam mobil, Elsa yang belum masuk ke dalam mobil ditinggal pergi oleh Daniel. "Astaga, Mas. Elsa belum masuk mobil." Alya panik.
"Biarin saja, diakan pegang uang, bisa naik taksi nantinya," jawab Daniel dengan Santai.
Elsa yang tahu di tinggal oleh Daniel, ia langsung berlari mengejar mobil Daniel sambil berteriak-teriak. "Kak Daniel! Tunggu aku!"
Gubrak ...
Elsa menabrak seseorang dihadapannya, "Aau! Sakit," rintihannya.
"Nona, tidak apa-apakan?" tanya Pria tersebut.
"Kamu nggak lihat, kalo aku terluka, dan lutut aku berdarah!" teriak Elsa tanpa melihat dia berbicara dengan siapa.
"Boleh saya bantu?" Pria itu meminta izin.
__ADS_1
Elsa pun mencoba berdiri sendiri tapi tidak bisa, alhasil jatuh kembali. Pria tersebut mengendong Elsa dengan ala bridal style. Baru di situlah Alya melihat Aldi begitu tampan.
"Kak Aldi," lirih Elsa.
"Iya, Elsa. Maaf ya." Aldi tersenyum sambil membawa Elsa masuk ke dalam rumah sakit.
"Kenapa kita ke sini lagi, Kak?"
"Masuk ke ruangan aku, ya. Kita obati lukanya."
"Kakak, Dokter?" Elsa terkejut.
"Memangnya, Elsa tidak bercerita?"
"Cerita apa? Dia tidak pernah cerita apa-apa, Kak."
Aldi tersenyum lagi lalu meletakkan Elsa di kursi roda, ia dorong Elsa ke arah ruangannya. Sampai di depan ruangannya Aldi meminta perawat untuk mengambil obat antiseptik. Aldi membawa masuk ke dalam, Elsa sedikit terkejut. Ternyata Aldi adalah dokter kandungan.
"Kenapa waktu Alya jatuh sakit tidak Kakak rawat saja," ucapnya.
"Sakit?" Aldi terkejut.
"Oia, aku lupa, kemarin Alya bukan di rawat di sini." Elsa cengengesan.
"Els, sakit apa Alya?" cecar Aldi sedikit panik.
"Memangnya, Kak belum dengar, kalo Alya ...." Elsa menghentikan ucapannya.
"Jangan buat aku penasaran, Elsa."
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤