
"Kamu kenapa lagi, El? Pagi-pagi udah cemberut gitu, ih, pamali tahu."
"Kak Alya," rengekannya.
"Nggak usah manja-manja sama istri orang," seloroh Daniel, sambil menggeser tubuh Elsa bersandar di bahu Alya.
"Pelit banget si, Kak." Alya berkacak pinggang lalu memukul bahu Daniel.
Alya tertawa melihat pertengkaran kakak beradik itu. Ia menjadi rindu dengan Aldi dan kedua sahabatnya. Daniel mendekati Alya mencari perlindungan dari Elsa telah memukuli Daniel dengan brutal.
"Sayang, tolong aku," rengekannya dengan manja.
"Jangan, El. Nanti suamiku terluka," gimik Alya.
"Idih, tukang ngadu banget sih," seru Elsa.
"Kamu kenapa si, El. Coba cerita," cecar Daniel.
"Oma tahu, aku tidur dengan Johan, Kak," bisik Elsa di telinga Daniel.
"Oh, cuma gitu doang."
"Apa si, kok bisik-bisik gitu, aku kan pengen dengerin, El," pinta Alya.
"Rahasia," jawab Elsa sambil menggoyangkan badannya.
"Amit-amit ya, Dek. Jangan ikut-ikutan kaya Tante mu," ucap Alya sambil mengusap-usap perutnya.
"Amin..." Daniel terkekeh.
"Ish, kalian berdua. Jahat..."
"Nggak usah playing victim deh, El. Udah salah merasa tersakiti lagi." Daniel memegang bahu sang adik.
"Solusinya apa?" tanya Elsa.
"Aku juga nggak tahu masalahnya apa, mana bisa ngasih solusi." ucap Alya sambil membuka kotak nasi yang di bawa Daniel berisi nasi goreng.
Daniel mendekati sang istri lalu membisikkannya. "Elsa tidur dengan Johan, Karena mabuk masalah kemarin, Sayang."
"Oh, yang kemarin masalahnya," gumamnya.
"Yaudah, nikah aja sana," titah Alya.
"Malaslah, enak sendiri," tuturnya. "Kakak, makan apa? Kaya enak nih?"
"Sini, El. Cobain," tawar Alya.
Elsa pun mendekati Alya menerima suapan darinya. Bruh... Elsa menyemburkan di wajah Daniel. Daniel langsung berteriak memanggil nama Elsa.
"Elsa!" teriaknya.
"Gila, makanan nggak enak gini, kok di makan sih, Kak Alya," sungut Elsa.
Daniel masuk ke kamar mandi langsung mencuci wajahnya. Alya menyergitkan dahinya, ia tetap menyantap makanannya dengan tenang. Daniel penasaran apa benar masakan tidak enak.
"Hoek..." Daniel memuntahkan makanannya.
"Kenapa, Mas?" Alya panik.
__ADS_1
"Nggak enak, nasi gorengnya."
Elsa pun tertawa terbahak-bahak, melihat sang Kakak muntah-muntah. "Rasain tuh, siapa sih, yang masak? Nggak mungkin Mbak Ani yang masak, kalo ini mah," ketus Elsa.
"Memang bukan," jawab Alya, ia tetap asik memakan nasi gorengnya. "Tuh," lanjut Alya sambil melirik Daniel.
"Ya, ampun. Pantas saja tidak enak, yang masak aja nggak pernah ke dapur, menginjak dapur aja mungkin bisa setahun sekali," cibir Elsa.
"Lumayan kok, aku suka," sanggahnya.
"Udah, gila istrimu, Kak," ucap Elsa sambil menepuk pundak Daniel.
"Lidahnya udah rusak mungkin, El. Perlu di bawa ke dokter kayanya," balas Daniel.
"Kalian berdua." Alya mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama, "Matilah!" teriak Elsa tiba-tiba.
"Kenapa lagi, El?" ucap Alya dan Daniel bersamaan.
"Di suruh Oma cari sarapan pagi, aku lupa, kabur ..." Elsa berlari keluar ruangan dengan tergesa-gesa.
"Gitu, mau nikah, kasian Johan nanti," ceplos Daniel.
"Johan mau nikah dengan Elsa, Mas?"
"Iya, Sayang. Jangan ngomong Elsa dulu, ya. Johan masih merahasiakannya."
"Kenapa, Mas?"
"Mas, juga nggak tahu, Al. Biarlah urusan mereka ini, bukan urusan kita."
Velicia keluar dari restoran bintang lima, dengan wajah sumringah terlihat sekali sangat bahagia. Arsen hanya diam saja melihat Velicia begitu bahagia. Pikir Arsen semudah itu kah Velicia merubah mood-nya agar tidak marah-marah kembali.
"Habis ini kita ke rumah sakit, temui Daniel."
"Mau ngapain kita ke sana Vel?"
" kita sudah di usir oleh security, apa kamu lupa? kita tidak boleh ke sana lagi."
Velicia baru ingat jika ia sudah membuat perjanjian oleh pihak rumah sakit. Jika Velicia tidak akan kembali ke sana lagi, kecuali dia darurat membutuhkan pertolongan. Akhirnya mereka berdua pulang ke apartemen Velicia.
"Kamu, di sini aja. Kenapa kamu selalu mengikuti ku."
"Aku tau kamu butuh teman, Vel. Aku akan selalu ada untukmu."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Besok aku akan menjemputmu, Vel. Ikutlah bersamaku."
"Terserah, kamu."
Velicia masuk ke gedung apartemennya, lalu Arsen pergi ke rumahnya. Ternyata setelah Arsen pergi, Velicia pergi ke suatu tempat. Ia mencari suatu barang di supermarket. Setelah mendapatkan semuanya, ia memesan ojek online.
"Maaf, ini Kak Velicia bukan, ya?" tanya ojek online.
"Iya, benar."
"Kakak mau saya antar ke mana, ya?"
__ADS_1
"Antar kotak ini, ke rumah sakit xxxx ruang xxx nomor 10 VVIP, jangan sampai orang itu tau saya yang mengirimnya. Jika kamu berhasil akan saya transfer, bonus untukmu."
"Memangnya isi kotak ini apa, ya?"
"Nggak usah banyak tanya, ini bukan boom. Saya hanya ingin memberikan hadiah, untuk suami saya. Karena istri pertamanya telah mengandung."
"Oke, baiklah."
*****
"Vel, lama sekali kamu? Dari mana saja, kasian tuh, Johan. Kelaparan," omel Oma Sintia.
"Lupa, tadi aku ngobrol dulu di kamar inap, Kak Alya," jawabnya santai.
"Astaga, anak satu ini." Oma Sintia sampai kesal melihat tingkah Elsa.
"Sudah, Oma. Jangan dipikirkan, Johan bisa makan sekarang." Johan mencoba menenangkan Oma Sintia.
Johan lalu menerima pemberian Elsa sebuah kotak makanan. Saat membuka isi kotak tersebut Johan tercengang. Ternyata isinya hanya sayur tempe dan sambal tidak ada lauk pauknya.
"El, kamu serius?" tanya Johan sambil menatap kotak nasi tersebut.
"Kenapa?"
"Ini cuma begini doang, nggak ada sayur lainnya, lauk pauk gitu?"
"Udah nggak usah protes di makan saja, ih banyak maunya, ya. Jadi orang." Elsa merasa menang sendiri.
Sialan ini anak, bocil kurang ajar, liat saja nanti. Akan ku balas, umpatnya dalam hati. Johan lalu memakan nasi kotak pemberian Elsa ia memakannya dengan lahap karena lapar.
Mampus kamu, aku kerjain. Memangnya enak, pagi-pagi sudah di suruh cari makanan. Kaya bos saja, gerutu Elsa dalam hati, yang tiba-tiba ia tertawa sendiri saat melihat Johan memakan makanannya.
"Enak, Jo?" tanya Oma Sintia.
"Enak, Oma." Johan hanya berpura-pura tegar.
Oma Sintia tidak mengetahui jika Johan hanya makan nasi dan sayur tempe plus sambal karena Johan duduk terlalu jauh dari brankar. Elsa mendekati Oma Sintia mencoba merayunya. Ia penasaran dengan calon suaminya kenapa Oma Sintia sedang sakit tidak menjenguknya.
"Oma," panggil Elsa.
"Iya, Elsa. Kenapa?"
"Kenapa calon suamiku tidak menjenguk, Oma?"
Johan mendengar pertanyaan Elsa, ia langsung terbatuk-batuk. "Uhuk-uhuk..."
"Buruan, Johan kasir air minum, Elsa."
"Ish, bisa ambil sendiri, Oma," ketus Elsa.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤