Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Masakan Elsa


__ADS_3

"Hei, kamu Johan. Kamu itu calon suami Elsa. Kamu duluan saja, rasanya pasti nggak enak. Bisa keracunan nanti aku," balas Daniel sambil menatap Johan lebih lekat.


"Kenapa, Mas? Kalian berdua saling bertatapan seperti itu?"


"Nggak pa-pa, Sayang. Aku hanya ingin Johan mencoba masakannya, Elsa. Aku pengertian bukan? Mengizinkan calon suami Elsa duluan," kilah Daniel.


"Kak Daniel, memang the best, sini Kak Johan aku suapi," tawar Elsa.


Mati aku, terakhir kali makan masakan Elsa sakit perut, mana rasanya nggak enak lagi, gerutu Johan Dalam hati.


"Kak Johan, kok diem aja? Nggak mau ya?" Elsa sendu.


"Iya, aku makan sekarang, Els," ucap Jogan dengan Mantap.


Kasian Johan, terakhir kali dia sakit perut bersamaku setelah makan masakan, Elsa. Aku harus cari cara ini, agar dia tidak memakan masakan Elsa, batin Daniel meronta-ronta minta pertolongan Alya.


Johan memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya langsung terbatuk-batuk. Daniel melihatnya langsung terasa kasian. Daniel berdiri menarik tangan sang istri untuk berbicara berdua.


"Kenapa Mas, ada masalah?"


"Hentikan Johan makan masakan Elsa."


"Kenapa?"


"Kita berdua pernah sakit perut dua hari tak kunjung sembuh."


"Begitu mengerikan, ya?"


"Begitulah." Daniel menyusun rencana untuk Johan tidak memakan masakan Elsa, semua Alya mengendalikan.


Alya dan Daniel kembali ke meja makan, terlihat wajah Johan mulai pucat pasi. Membuat Alya dan Daniel sedikit panik. Alya mendekati Elsa, ia mengajak pergi dari sana.


"Huft, aman," gumam Daniel.


Hoek... Hoek...


Johan memuntahkannya ke wastafel, piring yang berisi masakan Elsa di buang oleh Daniel. Johan mencuci wajahnya, lalu ia meminum air sangat banyak. Daniel tertawa melihat Johan sudah tak berdaya.


"Sabar ya, Jo."


"Kayanya aku, harus membawa Elsa kursus tata boga deh, Dan. Biar ngerti masak sedikitlah dia," ucap Johan sambil menaruh gelas di meja.


Tata boga sendiri merupakan ilmu pengetahuan mengenai seni mengolah makanan, mulai dari persiapan, pengolahan, hingga cara menghidangkan makanan. Maka berbagai aspek tata boga, baik tentang tekstur makanan, mutu pangan, maupun kandungan nilai gizi juga dipelajari.


"Ide bagus itu, Jo. Nanti kita cari koki bintang lima di hotel orang tuamu."


*****


Elsa dan Alya sedang berada di kamar atas, Alya mengajak ke dalam walk-in closet. "Eh, sini geh Els. aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Alya dengan antusias.


"Apa, Kak?"


"Ini." Alya memberikan sesuatu kepada Elsa.


"Wah, jam tangan?"

__ADS_1


"Iya, Aku beli dua, untuk kita kembaran di kampus. Sebenarnya beli empat sih, tapi belum dateng barangnya."


"Banyak banget, Kak."


"Iya, gitu. Laris dan Chika kalo nggak di beliin ngamuk nanti, di kira aku lupa mereka lagi."


"Enak ya, jadi Kakak. Punya sahabat, aku nggak punya tau."


"Yakin, kamu nggak sahabat di kampus?"


"Ada temen sekelas cuma sekedarnya aja, say hello doang tahu."


"Kenapa nggak cari?"


"Malas tahu, Kak. Aku nggak mau disakitin lagi," ucapnya.


"Ya ampun, Vel. Sebenarnya ada apa? Ada sesuatu kamu sembunyikan?" cecar Alya.


"Aku punya sahabat dari SMA. Namanya Talita, dia udah kecewakan aku." Tiba-tiba Elsa menangis.


"Talita berbuat salah apa kepadamu, Els?"


"Dia merebut Andreas dariku," terangnya.


"Seriously?" Alya terkejut.


"Kuliah di mana dia Els."


"Satu kampus dengan kita."


"Dia masih kuliah di luar negeri, kampus kita ada pertukaran mahasiswa selama enam bulan. Mungkin sebentar lagi dia pulang."


Alya melirik ke arah pintu walk-in closet, Johan sudah berdiri dari tadi di sana. Johan telah mendengarkan semua keluh kesah Elsa. Johan memberi kode untuk Alya agar cepat keluar dari ruangan. Tanpa disadari oleh Elsa karena dia menundukkan kepalanya ke bawah. Kepergian Alya sampai tak diketahui oleh Elsa, sekarang Johan tengah berdiri di belakangnya. Johan memeluk Elsa dari belakang. Elsa memutar tubuhnya menatap Johan sendu.


"Menangis lah," lirih Johan.


Elsa memeluk Johan dengan erat, ia bergeming enggan sekali mengucapkan sesuatu sampai akhirnya Johan berkata. "Belum bisa move on? tanyanya.


"Bukan itu, Kak."


"Lalu apa, Els."


"Aku menangisi Talita bukan Andreas," tegasnya.


"Oke, kalo begitu." Johan menyeka air mata Elsa.


*****


"Arsen! Buka pintunya," teriak Velicia.


"Kita pulang, Velicia."


"Aku tidak mau pulang bersamamu!"


"Diam, jangan buat aku marah."

__ADS_1


Sorot mata Arsen begitu tajam membuat Velicia takut. Velicia menyetujui untuk kembali ke apartemen Velicia. Di perjalanan Velicia merasakan lapar begitu dalam. Cacing perut Velicia sudah berteriak-teriak minta makan, sampai terdengar di telinga Arsen. Dengan peka Arsen membawa Velicia untuk mencari makan, karena jauh dari pusat kota mereka berdua akhirnya makan dipinggir jalan.


"Turun," titahnya dengan dingin.


Velicia melihat ke sekeliling ternyata sebuah warung makan di pinggir jalan yang ramai orang makan di sana. Ini pertama kalinya Velicia makan di sana. Arsen menggandeng tangan Velicia dengan lembut.


"Menurut lah denganku."


"Hem," jawabnya.


Mereka berdua duduk secara lesehan di tempat makan itu. Velicia binggung mau duduk di sana tidak kursi. Arsen tahu dengan gelagat Velicia yang canggung, ia mengerti Velicia membutuhkan sesuatu. Arsen pergi menuju ke mobil dan kembali lagi membawa jaketnya.


"Duduklah."


"Nggak bisa," lirihnya.


"Tutupi dengan ini, Vel."


Akhirnya Velicia duduk dengan manis, karena dress-nya terlalu pendek, jika duduk lesehan pasti akan terlihat seksi. Arsen dengan perhatian memberi jaketnya untuk menutupi paha Velicia.


"Mulai besok pakai lah pakaian tidak seksi, Vel."


"Agar nggak kaya gini, binggung mau duduk," nasihat Arsen.


"Iya," jawabnya dengan dingin.


Arsen lalu memesan makanan yang belum pernah di makan oleh Velicia, yaitu pecel lele. Walaupun Velicia bukan sultan, lingkungannya dari keluarganya memang orang kaya ia besar di luar negeri. Velicia tercengang saat melihat pecel lele berada di hadapannya.


"Apa ini?"


"Pecel lele namanya, this is chili paste," terang Arsen.


"Aku juga tahu, ini sambel terasi, Arsen."


Mereka berdua pun tertawa, sampai lupa mereka sedang berselisih. Arsen mengelus rambut Velicia dengan lembut. "Makanlah."


"Akan ku coba," jawabnya antusias karena lapar.


"Enak?"


"Hem enak sekali, apa aku boleh nambah?"


"Berapa pun kamu makan, akan ku bayar, Sayang."


Tiba-tiba terucap kembali panggilan sayang itu yang sempat hilang. Velicia tersenyum, mencoba menenangkan pikirannya dari masalah. Di lubuk hati yang paling dalam Velicia ingin sekali saat ini bersama Daniel bukan dengan Arsen.


Kesel nih otor sama Velicia, obsesinya terlalu tinggi.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2