Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Elita


__ADS_3

Arsen tidak sabar akan memberi tahu kabar baik kepada Velicia. Arsen bergegas ke kamar inap Velicia akan memberi tahu soal operasi matanya. "Vel," panggil Arsen dengan antusias.


Velicia yang masih duduk di atas brankar hanya menengok mencari sumber suara itu berasal. "Arsen," jawabnya.


"Iya, Vel. Ini aku, dua hari lagi kita akan operasi mata," terang Arsen.


"Serius kamu?" tanya Velicia tidak percaya, akhirnya dia bisa melihat lagi. "Nanti, kamu bagaimana? Jika tidak bisa melihat?" lanjut Velicia berpura-pura peduli.


"Aku akan bisa melihat lagi, aku akan menunggu pendonor mata jika sudah ada, aku pasti akan mengoperasi mataku."


Velicia merasa lega, walaupun sebenarnya dia tidak peduli dengan semua itu.


****


Hari yang ditunggu-tunggu telah datang, Daniel telah kembali ke rumah, tapi mereka tidak pulang ke rumah mereka sendiri. Melainkan pulang ke rumah Oma Sintia, Alya setuju saja senang ada yang membantu merawat. Daniel masuk ke dalam rumah dengan di bantu Alya dengan kursi roda. Alya dengan telaten mengurusi sang suami, untung saja anak yang di kandungannya tidak rewel seperti bapaknya.


"Mas, sudah bisa jalankan? Kuat naik tangganya tidak? Jika tidak, kita ambil kamar di bawah saja," usul Alya.


Daniel berdiri mendekati Alya lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Aku bertempur denganmu saja kuat, Sayang."


"Mas!" teriak Alya sambil memukul lengan Daniel, yang merasa jijik dengan tingkah mesum sang suami.


"Kenapa, Al?" tanya Riyan dari anak tangga yang melihat Alya begitu kesal kepada Daniel.


"Nggak pa-pa, Pa," jawab Alya sambil cengengesan malu di lihat sang mertua.


"Yakin, Pa."


"Padahal aku hanya minta jatah, Pa," timpal Daniel dengan entengnya dia menjawab.


"Mas, aku malu," lirih Alya sambil mencubit pinggang sang suami.


"Nggak pa-pa, Sayang. Papa juga pernah muda juga," jawab Daniel santai.


"Dasar kamu, Daniel. Sakit saja masih ingat namanya begitu," sindir Riyan sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


Alya yang kesal dengan Daniel, ia ikut pergi meninggalkan Daniel sendirian di bawah. "Sayang, tunggu aku," seru Daniel sambil menaiki anak tangga.


Alya tidak menggubris Daniel tetap saja, berjalan menaiki anak tangga. Drama pun di mulai Daniel berakting kesakitan sambil memegangi luka operasinya. "Au ...." Daniel berteriak sambil membungkukkan tubuhnya.


Spontan Alya berlari menghampiri Daniel. " Kamu nggak pa-pa, Mas?" tanya Alya panik.


"Sakit," rengekannya.


Saat melihat ekspresi Daniel yang tidak pandai berbohong. Alya langsung melepaskan rangkulannya lalu pergi berjalan kembali. Daniel pun hanya bisa menggaruk tengkuknya tidak gatal.

__ADS_1


"Gagal lagi ...." Daniel menggerutu.


****


"Elsa," panggil Oma Sintia sambil mengetuk kamarnya.


"Semalam saja aku ke sini, dia tidak mau membukakan pintu, Oma," terang Johan.


"Oma, ambil kunci cadangan dulu di kamar," pamit Oma Sintia.


Daniel dan Alya melihat Johan dengan panik berdiri di depan kamar Elsa pun penasaran. "Ada apa, Jo?" tanya Daniel.


"Dari semalam Elsa tidak mau buka pintu, Dan," jawab Johan.


"Jadi dari semalam kakak, nggak pulang?" Alya ikut penasaran.


"Nggaklah aku tidur di sofa, aku jadi kepikiran," gerutu Johan.


"Ya sudah, urus sana calon istrimu, aku mau urus istriku sendiri," timpal Daniel malas.


Kurang ngajar banget sih, ini orang. Adiknya sendiri di cuekin, Astaga, sabar-sabar, batin Johan sambil mengelus dadanya.


Daniel dan Alya pun masuk ke dalam kamar mereka tanpa menghiraukan Johan yang panik. Berbeda dengan Alya tadinya tidak peduli, tapi di dalam kamar ikut panik juga. "Mas, Elsa bagaimana, aku khawatir," ucap Alya.


"Sudahlah, Elsa ada Johan. Dia memang begitu jika ada masalah, selalu mengurung dirinya sendiri." Daniel mencoba memberi tahu agar Alya tidak panik.


"Yakin, sekarang kamu pijit kakiku, entah kenapa tubuhku sakit semua, beberapa hari hanya tidur, Sayang." Daniel mulai manja. Daniel tidur terlentang, Alya dengan perlahan-lahan memijat kaki Daniel hingga tertidur.


****


"Ini Johan," ucap Oma Sintia sambil memberikan kunci cadangannya.


Johan dengan cepat membuka pintu kamar Elsa, ternyata Elsa di balik selimut tebalnya. Johan langsung membuka selimut itu, ia sentuh tubuh Elsa yang sangat panas itu. "Oma, panas," ucap Johan.


"Oma, panggilkan Dokter ke rumah ini, tunggu Elsa biar Oma telepon dulu." Oma Sintia keluar dari kamar Elsa mencari ponselnya.


"Els," panggil Johan dengan lembut.


"Iya, Kak," lirih Elsa.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Johan.


"Tidak, aku ingin tidur saja, kepalaku pusing," keluhnya.


Beberapa saat kemudian, Dokter telah datang bersama Oma Sintia masuk ke dalam kamar Elsa. "Johan," panggil Elita.

__ADS_1


"Elita." Johan tampak terkejut.


"Kalian berdua kenal?" tanya Oma Sintia.


"Kenal, Nyonya. Kami berdua bersahabat sejak SMA," terang Elita.


Elsa yang tadinya merasa pusing kepalanya, matanya ingin memejamkan saja. Mendengar Elita berbicara seperti itu, ia langsung membelalakkan matanya. Elsa menatap sinis Johan, Elsa memberi kode dari matanya. Seperti berkata, jangan macam-macam denganku. Johan yang di perhatikan oleh Elsa hanya diam saja, tidak mau menanggapi Elita. Elita mendekati Elsa lalu memeriksanya.


"Keadaan Nona, baik-baik saja, Nyonya. Dia hanya kelelahan, dan kurang vitamin saja, ini hanya demam biasa, nanti akan saya beri obat di minum ya, Nona Elsa," ucap Elita sambil tersenyum manis.


"Baiklah, kalo gitu, saya keluar dulu," pamit Oma Sintia.


Hanya mereka bertiga di dalam kamar Elsa, setelah memberi obat Elita mendekati Johan sambil bergelayut di lengan Johan. "Apa kabar, Jo. Aku rindu satu tahun ini tidak bertemu denganmu."


Elsa menatap Johan dengan tajam, Johan yang peka langsung melepas tangan Elita di tangannya. "Baik, Ta," jawab Johan datar.


"Kamu kenapa sih, lama nggak ketemu aku, dingin gitu?" tanya Elita dengan manja.


"Ehem." Elsa berdehem.


"Maaf, ada bos kamu, ya? Jadi kamu nggak enak," ucap Elita yang salah paham.


"Bos?" Nada bicara Elsa penuh penekanan.


"Bukan, Ta, tapi dia calon ...." Belum sempat Johan melanjutkan ucapannya, Elita pergi mengangkat teleponnya.


Tak menunggu lama Elita kembali. " Duh, Jo aku pergi dulu, ya. Nona, cepat sembuh," pamit Elita pergi.


Kayanya abis ini aku deh yang, diamuk oleh Elsa, batin Johan sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Apa?" ketus Elsa.


Tiba-tiba tenggorokan Johan terasa kering, sulit sekali ingin berbicara. "Bagus, diem aja terus!" bentak Elsa.


"Sayang," panggil Johan sambil mendekati Elsa


"Don't touch me! (jangan sentuh saya)" Elsa kesal dengan Johan.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2