Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Melihat


__ADS_3

Iya juga ya, kenapa aku bodoh sekali. Elsa rasanya malu sendiri dengan tingkahnya tadi, yang cemburu .


Sampai di depan apartemen Johan, mereka berdua masuk ke dalam. Elsa melihat sekelilingnya mengamati tiap sudut. "Kenapa begitu?" tanya Johan sambil berjalan ke mini bar.


"Apartemennya lebih mewah dari punyaku," gerutu Elsa merasa iri.


"Setelah menikah mau tinggal di sini?"


"Boleh," jawab Elsa.


"Beberapa hari lagi, acara akan di mulai, resepsi Daniel jadi?" tanya Johan.


"Jadilah, memangnya kenapa, Kak?" Elsa duduk di mini bar.


"Perut Alya semakin membesar," jawab Johan.


"Oh, 'kan Kak Alya pakai gaun pengantin yang bisa menutupi perutnya. Bukannya klien Kak Daniel sudah pada tahu ya? Kalo Kak Alya hamil."


"Tapi, nggak semua, Els. Takut jadi rumor." Johan mengambil air minum di dalam kulkas.


"Terima kasih." Elsa menerima air minum dari Johan.


***


Arsen duduk di sofa menunggu kedatangan Dokter Doni, yang akan membuka perban mata Velicia. Mereka bertiga tak sabar untuk mendengar kabar baik dari Dokter Doni. "Aduh, masih lama ya, Dokter Doni datang," gerutu Velicia.


"Sabar dong, Vel. Kamu kira pasien Dokter Doni, cuma kamu," balas Andini.

__ADS_1


Andini ada dendam apa sih, sama Velicia sampai dia seperti itu menjawab pertanyaan Velicia. Arsen merasakan ada yang aneh pada mereka berdua.


Tak menunggu lama Dokter Doni dan perawatnya datang ke kamar inap Velicia. "Selamat pagi," sapa Dokter Doni.


"Baik, Dok," jawab Arsen sambil tersenyum.


"Ayo, Dok. Buruan," ucap Velicia dengan tidak sabaran.


"Iya, Nona," jawab Dokter Doni dengan sabar.


"Nggak tahu diri." Andini bermonolog, sambil melirik ke arah Velicia.


Dokter Doni mendekati Velicia, ia dengan santai membuka perban di mata Velicia. "Coba buka matanya," titah Dokter Doni.


Velicia membuka matanya dengan perlahan-lahan, ternyata Velicia mampu melihat dengan jelas. "Aku bisa melihat!" serunya dengan antusias.


Andini dengan sigap menuntun Arsen mendekati Velicia. Sampai di dekat Velicia, tubuh Arsen di dorong oleh Velicia. "Jangan peluk aku, Arsen," tolak Velicia merasa jijik.


Velicia menatap Andini dengan tidak suka. "Dasar wanita nggak tahu diri," umpat Andini sambil menarik tangan Arsen dari ruangan itu.


Velicia tidak peduli dengan ucapan Andini, ia bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Dokter Doni dan Perawat pergi meninggalkan Velicia sendirian di kamar inap. Arsen menghempaskan tangan Andini waktu berada di luar ruangan.


"Kamu itu kenapa si, Din?" tanya Arsen kesal.


"Apa katamu, Mas? Kenapa? Apa kamu sudah dibutakan cinta juga," cibir Andini.


"Maksud kamu apa?" Arsen binggung.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh, Mas. Velicia itu punya suami 'kan?" desak Andini.


"Sudah ditalak, oleh suaminya," ucap Arsen.


Velicia yang mendengar itu semua, kakinya merasakan lemas seketika. "Apa katamu?" Suara Velicia meninggi.


"Iya, Vel," lirih Arsen.


"Kapan itu semua terjadi? Kenapa aku tidak tahu, Arsen!" teriak Velicia sambil mendorong tubuh Arsen hingga terjatuh, karena tidak tahu akan diserang oleh Velicia.


"Waktu kamu, koma." Arsen mencoba berdiri dibantu oleh Andini.


"Tidak, ini tidak mungkin!" teriaknya kembali.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


yuk mampir ke tempat mak Liana kiezie, yang katanya mak paling sabar 😂


__ADS_1


__ADS_2