Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Tembakan


__ADS_3

Baru selangkah saja ia melangkahkan kakinya dari kamarnya. Suara bariton terdengar sangat marah, membuat Alya membalikkan tubuhnya menatap orang tersebut. "Kak Victor," lirih Alya dengan wajah ketakutan.


"Kamu mau ke mana? Mau, kabur? Jangan mimpi," ucap Victor dengan tegas.


"Siapa juga yang mau kabur, orang aku mau cari makanan di dapur," kilah Alya mencoba menjawab dengan tenang, agar Victor tidak curiga.


"Ya sudah, aku antar ke dapur," tawar Victor.


"Aku bisa sendiri, Kak. Jangan khawatir," ucap Alya sambil tersenyum.


Alya mulai kelimpungan untuk mengahadapi Victor yang sudah sangat menyebalkan menurutnya. Ke dapur mengekor, duduk di meja makan pun ikut duduk. Sampai ingin ke kamar mandi hampir saja masuk ke kamar mandi.


"Kakak bisa nggak? Nggak mengekor terus-terusan, aku butuh privasi," sungut Alya yang berpura-pura kesal. Alya membanting pintu kamar mandi hingga Victor terkejut.


*****


"Masih jauh, Sa?" tanya Elsa yang sudah merasa lelah.


"Mungkin setengah jam lagi, Els." Larisa juga terlihat tampak lelah di dalam mobil.


"Makannya, nggak usah ikut, keras kepala sih," timpal Daniel dengan kesal.


"Apa sih, Kak Daniel ini," sungut Elsa tidak terima dengan ucapan Daniel.


Butuh waktu tiga puluh menit kemudian sampai di villa Victor. Dari kejauhan mereka semua turun dari mobil, jarak tiga ratus meter dari villa membuat para gadis yang ikut merasakan dag-dig-dug. "Ayo, buruan!" titah Daniel.

__ADS_1


Anak buah Daniel mengendap-endap sebelum masuk ke dalam villa. Penjaga di pintu gerbang utama, telah di lumpuhkan. Satu persatu, ada tiga orang yang berjaga.


"Hei! Siapa itu," teriak salah satu Penjaga.


Mendengar salah satu penjaga berteriak Victor dan anak buahnya. Victor langsung berlari keluar villa, Victor sedikit binggung anak buah telah di serang tiga puluh orang asing. Daniel berjalan mendekati Victor mereka berdua pun berkelahi. Saling adu jotos, wajah tampan mereka berdua telah memar. Para gadis masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Alya.


"Al, kamu di mana!" teriak ketiga Gadis itu.


Alya mendengar suara kedua sahabatnya, lalu cepat-cepat keluar dari kamar mandi. "Oh, my God," seru Alya dengan antusias.


Mereka berempat pun saling berpelukan, saling menguatkan. "Al, maafkan aku," lirih Larisa.


"Untuk apa, Sa?" tanya Alya binggung.


"Andai saja kemarin aku melarang Kak Victor ikut, pasti tidak akan seperti ini," ucap Larisa sambil menangisi sahabatnya.


"Sudah, tidak apa-apa, yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Untuk apa disesali, yang penting aku nggak kenapa-kenapa," jawab Alya dengan bijaksana.


Dor ...


Dor ...


Tiba-tiba terdengar suara tembakan, otomatis para perempuan yang di dalam villa langsung berhamburan lari keluar villa. "Mas Daniel!" teriak Alya sambil berlari menghampiri sang suami.


Victor yang telah kabur, yang sudah menembaki anak buah Daniel dan Daniel ikut tertembak bagian perut. Membuat Alya panik setengah mati, Alya hanya bisa menangis melihat sang suami sudah tidak berdaya lagi. "Mas, bertahanlah," seru Alya yang bercampur isak tangis.

__ADS_1


Johan dengan sigap memapah tubuh Daniel membawa ke dalam mobil. Pergi secepat mungkin dengan membawa Daniel ke rumah sakit. Alya masih bersimpuh di tanah, dengan pakaian yang berlumuran darah.


"Ayo, Kak. Kita susul Kak Johan dan Kak Daniel," ajak Elsa sambil membantu Alya berdiri.


Tiba-tiba kaki Alya terasa lemas, mungkin karena syok melihat darah yang keluar dari tubuh Daniel. Pingsan lah Alya diperlukan Elsa, semuanya sedikit panik. Elsa cepat-cepat membawa Alya ke dalam mobil untuk menyusul Daniel ke rumah sakit.


Cukup memakan waktu, tiga puluh menit perjalanan Ke rumah sakit. Johan berhasil menyelamatkan Daniel dengan cepat ia membawa Daniel ke rumah sakit. Para perawat langsung membawa Daniel ke ruang ICU untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. IGD tidak sanggup menerima kondisi Daniel sedang kritis.


"Maaf, untuk pasien atas nama Daniel Danuarta, tolong segera lunasi biaya administrasinya, Tuan, Karena dokter bergegas akan mengoperasi pasien," terang Perawat.


"Oke, baiklah." Johan bergegas berjalan ke ruang administrasi untuk membayar biaya. Sebelum itu harus ada tanda tangan keluarga, jika menyetujui operasi ini. Tanpa pikir panjang Johan menandatangani surat itu. Setelah itu Johan duduk kembali di ruang tunggu operasi. Penuh dengan darah di pakaiannya, Johan duduk dengan panik sambil memejamkan matanya. Ia merasa lelah dengan semua ini. Pikiran-pikiran yang menghantui jika Daniel tidak selamat bagaimana nasibnya dan keluarga Daniel.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gumam Johan dengan frustasi.


Tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak Johan lalu berkata, "Gantilah," lirihnya.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_2