Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Arsen setuju


__ADS_3

"Apa harus begitu? Velicia perlu operasi mata untuk bisa melihat!" bentak Arsen yang kesal oleh jawaban Daniel.


"Kamu mau tidak? Saya bantu, jangan pernah atur-atur saya, kamu tahu," tegas Daniel.


Arsen menarik napasnya dengan kasar, terpaksa ia mengiyakan kemauan Daniel. "Jadi apa syaratnya?" tanya Arsen.


"Saya akan kasih Lima belas miliar untukmu, agar kamu mau tanda tangan surat pernyataan, tempo hari yang menyatakan kamu menjadi saksi waktu saya menalak Velicia saat koma."


Arsen marah emosinya meledak-ledak, tapi ia tidak bisa mengungkapkan itu di depan Daniel. Arsen butuh uang Daniel, ia merasa serba salah. Cukup lama Daniel menunggu keputusan Arsen.


"Bagaimana?" tanya Daniel.


"Oke, aku akan tanda tangan," jawab Arsen.


"Besok pagi kamu harus ke sini, akanku berikan uang yangku janjikan."


Arsen pergi, Daniel mencoba mengirim pesan kepada Burhan. Agar besok pagi ia datang membawa surat pernyataan yang telah di buat kemarin. Alya yang duduk di sofa hanya bisa memperhatikan sang suami yang sedang bahagia.


"Sayang, kemari," titah Daniel.


Alya mendekati Daniel, berdiri disampingnya. Daniel meraih pinggangnya lalu memeluk Alya, sambil mengusap-usap perut Alya yang masih rata. Alya tersenyum dengan perilaku Daniel yang sweet menurutnya.


"Sayang, akhirnya Papa bisa menjadi milikmu seorang," ucap Daniel ke perut Alya, seolah mengajak sang anak mengobrol.


"Baik, Papa. Terima kasih, telah memilih kita," jawab Alya.


****


Elsa memasuki halaman kampus dengan mobil mahalnya. Rasanya ia enggan mengikuti pelajaran hari ini. Elsa tetap diam di luar mobil sambil menyandarkan tubuhnya.


"Hei, ngapain kamu di sini?" tanya Ana, yang berdiri di samping Hendrik.


"Males, mau masuk ke kelas," jawab Elsa dengan entengnya.


"Hari ini kita ujian, jangan aneh-aneh kamu, kalo nggak masuk," ucap Ana sedikit mengancam.


"Hah? Serius? Males banget." Elsa mengerucutkan bibirnya.


Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam kelas. Sampai di dalam kelas Elsa mengamati seisi ruangan. Rasanya seperti ada yang kurang, apa ya? Elsa duduk sambil berpikir.

__ADS_1


"Kamu ngelamun apa, Els?" tanya Hendrik yang duduk bersebelahan.


"Eh, nggak pa-pa," elak Elsa.


"Dia nyariin sang mantan kayanya, Hen," timpal Ana dengan yakin.


"Eh, nggak kok," jawab Elsa bohong.


"Udahlah, Els. Ngaku saja." Hendri memaksa.


"Iya, sih. Memangnya dia ke mana?" tanya Elsa penasaran.


"Selama kamu nggak berangkat kemarin, dia pindah keluar negeri." Hendri memberi informasi.


"Hah?" Elsa terkejut bukan main. "K-kok bisa?" Elsa bicara sampai tergagap.


"Nggak tahu kalo itu, Els," jawab Hendrik.


Elsa berpikir sejenak, pikirannya melayang entah ke mana. Tiba-tiba Talita datang menggebrak meja Elsa. Sampai seisi kelas melihat kejadian itu.


"Gila, kamu ya?" Suara Elsa meninggi, ia langsung berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Talita saling berhadapan.


Terdengar jelas suara tamparan di pipi Elsa. Talita yang sedang tersulut emosi, dengan sadar menampar Elsa. Elsa panas, selama ini ia merasa sudah bersabar menghadapi Talita. Ia melihat dirinya ditampar oleh Talita. Elsa membalas dengan menarik rambut Talita.


"Saya tidak pernah takut, denganmu. Jangan pernah bangunkan macan tidur," ucap Elsa. Tanpa disadari Dosen masuk kelas lalu melihat adegan Elsa menarik rambut Talita.


"Kalian berdua!" teriak Pak Suhendar.


"Lepas, Els." Ana menepuk-nepuk pundak Elsa.


Elsa pun langsung melepaskan tangannya dari rambut Talita. Pak Suhendar mendekati Elsa dan Talita, "Kalian berdua, ikut saya." Terdengar suara Pak Suhendar marah dan kecewa.


Elsa menatap Talita dengan sangat tajam, serasa ingin memakan orang. Elsa dan Talita mengikuti Pak Suhendar dari belakang. Mereka bertiga masuk ke dalam ruangannya Pak Suhendar.


"Kalian berdua duduk," ucapnya dingin.


"Iya, Pak," jawab mereka berdua serempak.


"Kalian berdua ada masalah apa? Sampai berantem begitu?" tanya Pak Suhendar.

__ADS_1


"Dia duluan, Pak," tuduh Talita.


"Ha ... ha ..., kamu playing victim tahu nggak," ucap Elsa dengan sinis.


"Elsa duduk," titah Pak Suhendar.


"Nggak sudi saya, Pak. Duduk berdampingan dengan penghianat," jawab Elsa lagi.


"Dia itu, Pak. Selalu mencari masalah denganku." Talita berbohong.


"Lucu sekali Anda!" Elsa menatap tajam Talita.


"Kalian berdua tidak mau berdamai, masalah ini akan saya bawa ke rektor," ancam Pak Suhendar.


"Saya tidak takut, Bapak." Elsa tertawa. "Bapak, lupa siapa, saya?" Seolah Elsa mengingatkan Pak Suhendar jika keluarga Danuarta adalah pemegang saham terbesar di kampus.


Matilah, aku. Bagaimana nasibku, gumam Talita di dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam, saja?" tanya Elsa.


"Pak, saya saja yang minta maaf, ini semua salah saya," ucap Talita memohon.


Berbeda dengan reaksi Pak Suhendar, untuk menghadapi Elsa.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


karya kak Zafa


__ADS_1


__ADS_2