Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Kelepasan


__ADS_3

"Oma, Di mana? Kenapa nggak Dateng ke sini." Alya terlihat sedih.


"Belum, kita kasih tau, Sayang," ucap Daniel begitu lembut.


"Haduh, ada bucin nih, agaknya," cicit Elsa.


"Nikah, sana sama Johan," ejek Daniel.


"Sama, dia?" Elsa menunjuk Johan. "Ih, ogah."


"Awas, nanti jadi beneran, lo, menjilat ludah sendiri," tutur Alya memeringati.


"Jangan, Tuhan jangan," ucap Elsa memohon.


"Padahal, aku sangat berharap itu terjadi, Dan." Johan mengusap kepala Elsa.


"Jangan pegang-pegang, Kak," sungut Elsa.


"Semalam, kamu peluk-peluk aku semalaman."


"Kan karena aku, mabuk."


"Jadi semalam kalian berdua tidur berdua." Terdengar suara Daniel meninggi.


Mampus, aku! Duh, gimana ini? Kalo dinikahin, tapi kan aku nggak ngapa-ngapain, kenapa harus takut. Aku masih suci, pikir Elsa bermonolog di dalam hatinya.


"Elsa Danuarta!" teriak Daniel.


"Mampus," lirihnya.


"Kamu sudah berani mabuk-mabukan, hah?" Daniel menaikkan dagu Elsa dengan telunjuknya.


"Maaf," lirihnya lagi.


"Apa alasan, kamu, mabuk-mabukan?" cecar Daniel.


"A-aku, mau dijodohkan, Kak." Elsa menangis diperlukan Daniel.


Daniel menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kamu pasti akan mendapatkan, pria baik, El. Percaya sama Kakak. Oma tidak akan menjerumuskan mu." Daniel mencoba menenangkan sang adik.


Johan tersenyum melihat Daniel mengerjai sang adik. Alya melihat Johan dan Daniel tersenyum, ia curiga pasti ada yang ditutupi oleh mereka berdua. Elsa melepaskan pelukannya lalu menatap sang kakak wajah dinginnya.


"Sudah kamu, pulang sana. Nanti oma, nyariin kamu. Jangan lupa, junior Daniel Danuarta akan launching, menunggu beberapa bulan lagi, kasih tau oma," titahnya.


"Siaplah," jawabnya lesu.


Elsa mendekati Alya, lalu memeluknya. " Sehat-sehat ya, bumil."


"Terima kasih, Elsa ku." Alya menyeka air mata Elsa masih membasahi pipinya.


Elsa dan Johan akhirnya mereka berdua pulang ke rumah oma. Alya membaringkan tubuhnya lagi, Daniel mendekati. Alya melihat Daniel terus tersenyum kepadanya.


"Mas, kenapa? Senyum-senyum sendiri, udah gila, ya?" ejek Alya.


"Kamu, suami sendiri di bilang gila." Daniel mencubit hidung Alya.


Tiba-tiba pintu terbuka telah di banting seseorang. Membuat Daniel dan Alya terkejut bukan main. Alya langsung memeluk Daniel sedang berdiri disampingnya.


Brak ...


"Beraninya, kamu merebut suamiku!" teriak Velicia setelah sadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Kamu, itu yang merebut suamiku!" balas Alya tak kalah sengit.


"Jangan harap kalian berdua, bisa hidup bahagia," ancam Velicia.


"Keluar, kamu! Atau aku panggilkan security, agar kamu di usir, Vel." Daniel mulai menggertak.


Velicia terus menerus menghardik Alya, dengan tidak sabar Daniel meraih telepon yang berada di nakas. Menelepon perawat agar security masuk ke dalam ruangan Alya. Velicia mendekati brankar Alya dengan membawa benda tajam. Belum sampai di brankar Velicia sudah di dekap oleh security.


"Bawa dia ketempat, security. Jangan-jangan dia orang gila, yang salah masuk kamar," ujar Daniel.


Sebenarnya Alya ingin tertawa mendengar pernyataan Daniel yang mengatakan Velicia gila. Alya gengsi di hadapan semua orang jika harus tertawa. Setelah Velicia di bawa pergi oleh security, Alya merasa lega.


"Kamu, tuh, jahat banget Ama istri sendiri," seloroh Alya.


"Jadi kamu, mau aku sama, dia maksudnya," goda Daniel.


"Tahu ah, gelap."


Alya sedang ingin ke toilet mungkin pikir Daniel, Alya ngambek karena kejadian yang baru saja terjadi. Daniel berinisiatif memeluk Alya dari belakang. Ia dekap sang istri dengan mesra, sedangkan tangan Alya kesusahan memegang infus sambil menahan kencing.


"Kamu akan selalu yang utama bagiku, Sayang," gombal Daniel.


"Iya bener, dia yang kedua, pas 'kan?" balasnya.


"Bukan, gitu konsepnya, Al."


"Yah ... basah, aku kencing di celana, kamu, sih! Pakai peluk-peluk aku," sungut Alya.


"Jadi gimana dong?"


"Bantu aku, beresin semua, ini," titah Alya.


*****


"Oma ..." Elsa berteriak-teriak memanggil oma Sintia.


Johan masih setia menemani Elsa masuk ke dalam rumah. Oma Sintia yang asik dengan televisi di ruang tengah, duduk sendiri dengan termenung. Mendengar teriakkan cucu gadisnya ia langsung tersadar.


"Iya, Elsa..." serunya. "Kenapa teriak-teriak? Oma, pusing dengerin teriakan mu."


"Oma, Elsa punya kabar gembira," jawabnya antusias.


"Cepat ceritakan dengan, Oma."


"Oma, akan mempunyai cicit," seru Elsa.


"Ya, Tuhan. Akhirnya hamba di beri keberkahan." Oma Sintia terharu.


"Aku bahagia banget, Oma."


"Tinggal kamu, Sayang. Oma juga nggak sabar."


"Oma, ih. Nggak seru perjodohan lagi dan lagi," sungut Elsa lalu pergi.


Kebahagiaan dirasakan Elsa tiba-tiba sirna jika membahas perjodohan.


"Kamu, belum bercerita dengan Elsa, Jo?" tanya Oma Sintia.


"Belum, Oma. Biarlah kerjain dia dulu, Oma." Johan tersenyum.


"Oma, sudah berbicara dengan kedua orang tuamu. Jadi kapan kamu siap membawa mereka?"

__ADS_1


"Aku ngikut, Oma saja. Enaknya gimana," tuturnya.


"Gimana jika besok, Jo?"


"Jangan Oma, tunggu Alya pulang dari rumah sakit saja."


"Apa, rumah sakit," seru Oma Sintia.


"Jangan khawatir, Oma. Alya tidak kenapa-kenapa," ucap Johan sambil menggenggam tangan oma Sintia. Johan mencoba meyakinkannya agar tidak khawatir.


"Baguslah, jika begitu, Jo."


"Oma, Johan izin ke atas menemui Elsa, ingin pamit pulang."


"Naiklah, Jo."


Johan berjalan menaiki anak tangga dengan cepat, lalu menuju kamar Elsa. Johan mengetuk kamar Elsa cukup lama Elsa membuka pintunya. Ternyata ia baru saja selesai mandi.


"Iya, tunggu sebentar!" teriaknya.


Elsa lalu membuka pintu, ia sangat terkejut ternyata Johan yang berada di depannya. "Ngapain ke sini?"


Johan tak menjawab malah mendorong tubuh Elsa masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali. Johan menatap Elsa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Elsa hanya mengenakan handuk kimono tiba-tiba Johan ingin menggodanya sebelum pulang.


"Mau apa?" Elsa berkacak pinggang.


"Mau pamit, pulang."


"Yaudah, sana pulang," usir Elsa.


Elsa berjalan mendekati meja riasnya, ia lepas handuk yang berada di kepalanya. Elsa menghidupkan hairdryer -nya, ia keringkan rambutnya. Johan melihat Elsa begitu cuek dengannya semakin Johan penasaran. Elsa yang sedang sibuk menyisir rambutnya. Tiba-tiba Johan merebut sisir yang sedang Elsa pegang.


"Apa lagi si, Kak. Udah sana pulang."


"Sini aku bantu menyisir," tawarnya.


"Nggak usah, aku bisa sendiri, kok."


Johan iseng dengan memeluk Elsa dari belakang. Elsa pun berontak dengan perilaku Johan menurutnya tidak sopan. Johan tetap kekeuh dengan apa yang ia inginkan.


"Kakak, mau apa sih," sungut Elsa.


"Mau, kamu," ejeknya.


"Aku tuh, capek tahu! Bisa nggak sehari aja nggak ganggu aku. Apa kata-kataku tidak jelas, atau tidak mudah dimengerti?"


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤



karya Kak Warnyi keren bingit tak mengecewakan ♥️

__ADS_1


__ADS_2