
Velicia sudah menemukan mobilnya, ia langsung tancap gas mencari keberadaan Arsen. Velicia juga sambil menghubunginya di dalam mobil. Tiba-tiba ponselnya terjatuh dalam genggamannya. Velicia berusaha mengambil ponselnya. Velicia yang sudah tak fokus dengan kemudinya.
Tin...
Tin...
Terdengar sangat keras suara klakson mobil, saat kepala Velicia sedang menunduk sedang mengambil ponselnya. Velicia terkejut saat tubuhnya sudah di posisi semula. Mobil besar sudah di depan mobilnya. Akhirnya Velicia membanting setir ke arah pembatas jalan.
"Aaa..."
Mobil Velicia terpental sangat jauh, karena posisi Velicia di pusat kota. Banyak sekali korban kecelakaan ini. Beritanya sampai disiarkan oleh televisi. Nina sedang melihat YouT*be, terkejut saat melihat mobil Velicia yang berada di sana. Nina bergegas ke ruangan Daniel, tanpa mengetuk pintu Nina langsung masuk saja.
"Tuan," ucapnya bergetar.
"Ada apa, Nin?"
Mereka berempat masih sibuk dengan makan siang yang telah dibawakan oleh Alya. Nina memberikan ponselnya kepada Daniel. Daniel binggung, tetapi, ia tetap menerima ponsel yang Nina berikan.
"Apa, Nin?"
"Coba deh, Tuan liat video ini."
Daniel pun menuruti kemauan Nina dengan melihat video tersebut. "Velicia," gumamnya.
"Benarkah, Tuan. Aku ke sini hanya memastikan saja, benar atau tidak ini mobil Nona Velicia atau bukan."
"Terlihat dari plat mobilnya memang punya Velicia. Orang aku yang belikan mobilnya," jawab Daniel santai.
"Kenapa, Mas?" Alya penasaran.
"Kayanya Velicia kecelakaan, Sayang."
"Astaga, keadaannya gimana?" Alya panik.
"Belum, tahulah aku. Kan, aku masih di sini, belum ke mana-mana." Daniel begitu tenang.
"Kok kamu nggak khawatir si, Kak? Itu kan istrimu," sindir Elsa.
"Biarlah, nantikan ada Arsen yang mengurusnya."
"Astaga, suami durhaka kamu, ya." Elsa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas, kita harus tetap cari tahu, keberadaan Velicia. Di sana ada anakmu." Alya mencoba mengingatkan Daniel.
"Sayang, itu bukan anakku," tegas Daniel. "Entahlah, capek jelasin ke kamu." lanjutnya.
Daniel berdiri lalu pergi menemui klien, Johan mengikuti Daniel pergi. "Ish, aku malah di cuekin," gerutu Alya.
"Nona, jangan salah paham. Tuan Daniel sudah ada janji menemui klien," terang Nina.
__ADS_1
"Oh gitu, Kak Nina. Maaf." Alya Cengengesan.
"Mati aja si ular itu, aku eneg banget liat mukanya yang kecentilan itu," sungut Elsa.
"Ya ampun, Els. Jangan begitu."
"Ini kesempatan Kak Daniel ceraikan si ular, pasti dia keguguran setelah kecelakaan."
"Wah, benar itu, Els." Nina menimpali dengan antusias.
"Astaga, kalian berdua. Segitunya benci Velicia." Alya heran.
"Sorry, Kak. Aku bukan berhati malaikat yang harus bisa memaafkan kesalahan orang lain," ucap Elsa, lalu ia menatap Nina sambil high five (tos) merayakan kecelakaan Velicia.
****
"Dan," panggil Johan setelah menemui klien di ruang rapat.
"Hemm." Daniel hanya bergumam.
"Kamu, yakin tidak mau mencari informasi tentang Velicia?"
"Biarkan saja, akan ku ceraikan dia."
"Gila, kamu ya. Setega itu kamu sama dia." Johan masih tidak percaya dengan sikap Daniel.
"Lalu apa? Biarkan nanti pengacara yang mengurusnya, pasti dia sekarang keguguran," terangnya yang acuh dengan keadaan Velicia.
"Sialan lo ya!" Daniel tidak terima di bilang Johan dewa bucin.
***
"Sayang, pelan-pelan," rengek wanita tua itu.
Arsen telah menggempur secara habis-habisan. Membuat wanita tua itu tak berdaya, Arsen sedikit merasa jijik dengan wanita tua itu. Dipikiran Arsen adalah uang yang terpenting sekarang.
Kalo bukan uang, ogah banget tidur sama nenek-nenek, gerutunya dalam hati.
Setelah selesai melayani pelanggan Arsen berendam sebentar, sambil lihat ponselnya. Ternyata empat kali Velicia mencoba menghubunginya. Tiba-tiba ponselnya berdering saat Arsen memainkannya. Arsen melihat id caller-nya, Velicia telah memanggil. Arsen dengan cepat mengangkatnya.
"Halo, Vel. Ada apa menelponku, aku lagi kerja." Arsen memberitahu.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memberitahukan, jika yang mempunyai ponsel ini telah mengalami kecelakaan. Sekarang sedang di rawat rumah sakit xxx. Pasien sedang di ruang IGD masih ditangani oleh dokter. Dan, saya dari pihak kepolisian," terang Bapak Polisi.
Setelah telepon dimatikan, Arsen cepat bergegas menemui Velicia di rumah sakit. Pasti Velicia membutuhkannya pikir Arsen. Arsen berpamitan dengan wanita tua itu, lalu Arsen di beri bayaran begitu mahal setelah memberi servis.
"Sayang, aku pergi dulu," pamit Arsen.
"Di amplop coklat di atas nakas ini milikmu, Sayang. Bawalah semuanya ini adalah hasil kerja kerasmu," ucap Wanita tua itu.
__ADS_1
Arsen mengambil uang itu semua, lalu bergegas ke rumah sakit. Hati Arsen tak tenang selama di perjalanan. Pikiran Arsen melayang entah ke mana, nasib calon bayinya bagaimana pun Arsen belum mengetahuinya.
"Ya Tuhan, jagalah calon anakku." Arsen bermonolog.
Beberapa saat kemudian, Arsen sampai di halaman rumah sakit. Setelah parkir mobil, ia pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Mencari ruangan IGD bertanya ke sana ke mari. Sampai di depan pintu IGD Arsen menanyakan kepada perawat. Perihal tentang keadaan Velicia bagaimana.
Ya Tuhan, semoga Velicia tidak apa-apa, batin Arsen mulai menjerit menahan sakit di dada.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Perawat.
"Saya, mencari pacar saya. Yang bernama Velicia yang satu jam lalu mengalami kecelakaan."
"Nona Velicia, sekarang sedang kritis di ruang ICU, Tuan. Baru saja kami pindahkan."
"Bolehkah saya melihatnya?"
"Bisa, Tuan."
"Bagaimana dengan kandungannya?" tanyanya dengan bergetar.
"Maaf, Tuan. Dokter tidak bisa menolongnya, kandungannya lemah karena terkena benturan jadi keguguran Nona Velicia."
Tiba-tiba kaki Arsen merasa lemah, dan tak berdaya untuk melangkah saja sudah tak sanggup. Batin Arsen sedang menangis melihat buah hatinya kini telah tiada.
*****
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Daniel terlihat sangat bahagia tanpa beban.
"Kamu abis menangin tender, Mas? Seneng banget kayanya wajah kamu,itu," sindir Alya.
"Dia senang bukan karena menangin tender Alya, tetapi, mau menceraikan Velicia." Johan menimpali.
"What!" Elsa syok.
"Serius, Mas? Kamu yakin dengan keputusan kamu. Velicia sekarang lagi butuhin kamu, disisinya." Alya sebagai wanita pun binggung. Di lain pihak ia sangat bahagia jika suaminya bercerai dengan istri sirinya. Di lain juga Velicia sedang membutuhkan kasih sayang Daniel karena ia sekarang sedang sakit.
Apa aku jahat, jika melihat Velicia dan Mas Daniel bercerai saat Velicia sakit? Aku bahagia dalam penderitaan orang lain. Kenapa hatiku melow sekali, semenjak hamil, gumam Alya dalam hati.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1
Yuk mampir baca punya, Kak kumi kimut