
"Bodoh, kamunya aja, Kak. Udah tahu suka, pakek disembunyikan segala, rasain lo," ejek Larisa.
"Kamu," ucap Victor sambil memukul bahu Larisa karena mengejeknya terus.
Datanglah Alya yang binggung melihat pertengkaran Larisa dengan Victor. "Kalian berdua ribut kenapa si?"
"Nggak pa-pa Al. Udah sana makan aja, bumil harus sehat," ucap Larisa sambil melirik Victor.
"Hah! Hamil?" Victor terkejut.
"Nggak usah teriak-teriak, biasa dong, kalo perempuan hamil ada suaminya," omel Larisa.
Victor langsung berdiri tidak mendengarkan ucapan Larisa, ia memilih pergi sudah cukup sakit ia rasakan duduk bersama mereka. Alya yang binggung dengan tingkah Victor pergi saja tanpa berpamitan. Larisa dan Chika sedikit ketakutan melihat ekspresi Victor menatap mereka berdua kesal.
"Sebenarnya ada apa, Sa?"
"Tidak ada apa-apa, Al. Percaya sama aku, ini hanya salah paham aja kok, aku sama dia. Biar nanti aku temui dia." Larisa berbohong karena tidak mau membuat Alya yang sedang hamil menjadi beban pikirannya.
"Yaudah, pesan makan gih, aku yang bayarin."
"Widih, istri ketua yayasan mah, banyak cuan ternyata."
"Udah buruan dihabiskan, nanti kita telat loh, masuk kelasnya."
"Siap, Nyonya," ucap Larisa dan Chika bersamaan.
*****
Elsa duduk di kelas sambil menunggu kedatangan dosen. Matanya terasa sakit, lebih jelasnya adalah jijik dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Talita telah pulang dari luar negeri, sekarang sudah kembali ke kampus. Talita mencoba mendekati Andreas tanpa memikirkan perasaan Elsa lagi.
"Els, bukannya Andreas pacar kamu?" tanya Hendrik, teman sekelas.
"Iya, gatel banget tuh cewek," timpal Ana.
"Aku sudah putus sama dia, sudah lama. Udah jangan dipikirkan, kita mikirin kelas aja, yuk." Elsa mencoba tegar menghadapi mantan pacar dan mantan sahabat.
Ya Tuhan, sakit. Bukan aku masih cinta dengan Andreas, tapi, sakit sekali sahabatku menusukku seperti ini. Ikhlas, Els, ikhlas. Barang bekas pasti diambil sama pemulung. Ya,mereka berdua memang cocok, batin Elsa sambil memegangi dadanya terasa sakit. Elsa mencoba menguatkan dirinya sendiri, siapa lagi jika bukan dia sendiri.
Andres mengibaskan tangan Talita dengan kasar. "Jangan sentuh aku, pergilah menjauh."
Andreas pergi meninggalkan Talita, rasanya Elsa ingin tertawa melihatnya. Andreas memilih duduk di samping Elsa lalu tersenyum kepadanya. Elsa tetap acuh tak menganggap Andreas disampingnya. Talita melihat Andreas duduk di samping Elsa, hatinya merasa terbakar.
Sialan, kenapa harus Elsa yang kamu pilih, Dre. Bukan aku, yang selalu mencintaimu, batin Talita sambil menatap mereka berdua.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, jam kelas habis Elsa bergegas keluar kelas. Hari ini Elsa hanya ada satu mata pelajaran, membuatnya berpikir setelah kelas habis. Ia akan pergi ke mana untuk menghabiskan waktunya. Saat Elsa berjalan dengan sengaja, Talita menyenggol lengan Elsa. Sampai semua buku di pegang Elsa berhamburan di lantai.
"Punya mata nggak si, kamu itu. Nabrak aku, kamu sengaja, ya!" teriak Talita di lorong kampus.
****... Dia yang nabrak, aku yang disalahin. Playing victim banget! Balas Elsa, balas, batin Elsa, terasa telinganya dibisiki oleh setan.
"Gila kamu ya! Kamu yang menabrak ku tapi, kamu menyalahkan ku. Oh, my God, Talita. Apa perlu aku buktikan dengan rekaman CCTV, yang di lorong ini?"
Bodoh sekali aku, dia pemilik kampus ini, saham keluarganya sangat besar di sini. Sama saja aku cari mati, gumam Talita di dalam hatinya. Talita mencoba melihat ke sekeliling lorong tidak ada CCTV. Talita mencoba menyalahkan Elsa lagi.
"Buktikan saja, aku tidak takut." Talita mendorong tubuh Elsa hingga terjatuh.
Talita pun pergi, setelah kepergiannya Ana mengetahui kejadian itu langsung berlari membantu Elsa. Ana membantu membangunkan Elsa dan membantu membereskan buku-buku berserakan di lantai. Elsa meneteskan air matanya, lalu ia cepat menghapus air matanya agar Ana tidak mengetahuinya.
"Are you ok?"
"Iya, thanks, Ana. Udah bantuin aku."
"Udahlah kaya apa aja, Els. Yang penting kamu nggak pa-pa. Tapi, udah gila kayanya si Talita, sampai ngelakuin hal kaya gini, demi Andreas."
"Yuk, ke kantin temenin aku, makan yang banyak, aku traktir deh sepuasnya buat kamu," ajak Elsa.
"Ih, seriusan, Els. Gaslah."
"Ada apa si, Hen? Rame bener," tanya Ana sambil menepuk pundak Hendrik.
"Ada yang berantem di sana."
"Anak jurusan apa?"
"Andreas, sama pria ganteng banget mana pakai jas rapi banget," tuturnya.
Elsa mendengar ciri-ciri itu langsung berlari ke depan. "Els, mau ke mana?" tanya Ana sambil berteriak.
"Calon suamiku yang berantem," balasnya sambil berlari.
"Hah! Andreas calon suami Elsa? Yang bener aja?"
Ana tercengang.
"Bukan Andreas, Ana. Tapi, pria ganteng itu," terang Hendrik sambil menepuk dahinya.
***
__ADS_1
Elsa membelah sebuah lingkaran besar manusia yang sedang melihat pergulatan Johan antara Andreas. "Kak Johan!" teriak Elsa dengan keras, hampir suara Elsa terdengar ke seluruh kantin.
Suara riuh, bersorak-sorai tiba-tiba terhenti setelah mendengar Elsa berteriak. Johan menghentikan pukulannya di pipi tampan Andreas. Pergulatan yang belum tahu pemenangnya terhenti karena Elsa menghentikannya.
"Stop!"
Johan tetap melawan dan Andreas tak mau kalah. Elsa berteriak kembali, "Stop! Kalian berdua."
Johan mendorong tubuh Andreas agar menjauh darinya. Elsa mengusap luka yang ada di wajah tampan Johan. Elsa kesal bercampur panik.
"Bubar-bubar!" teriak Elsa lagi.
"Hu...." teriak semua mahasiswa yang menonton.
"Kalian berdua, ada apa sih? Kenapa harus berantem? Buat malu tahu nggak sih," omel Elsa.
"Dia duluan, Els. Yang memukulku," ucap Andreas sambil menunjuk Johan.
"Cuih... Pria seperti kamu memang pantas mendapatkannya." Johan terlihat kesal.
"Kak, sudahlah. Yuk, kita obati lukanya."
Johan tidak mendengarkan Elsa, ingin sekali kembali memukuli Andreas. Elsa memeluk erat Johan menahan tubuhnya agar tak bergerak. "Andreas, pergi!" usir Elsa.
"Tapi, Els."
"Kamu mau mati di sini?" ketusnya.
Hendrik dan Ana masih di sana langsung menarik Andreas agar cepat pergi dari sana. Setelah kepergian Andreas, Johan sedikit tenang. "Tunggu aku di sini, jangan ke mana-mana," titahnya dengan nada ancaman.
Elsa berlari ke mobilnya untuk mengambil obat P3K untuk diberikan kepada Johan. Beberapa menit kemudian Elsa kembali lagi ke kantin. Johan ternyata tidak ada di kantin.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1