
Akhirnya menuruti kemauan Johan, mereka berdua sedang duduk di sofa. Entah apa yang merasuki Elsa malam ini. Elsa terlihat sangat manja dengan Johan. Padahal yang sakit itu adalah Oma Sintia, begitu banyak drama Elsa buat malam ini.
"Udah sana tidur di bed cadangan, biar aku tidur di sofa."
"Nggak mau, aku maunya tidur sini di samping, Kakak. Nggak mau jauh-jauh," celotehnya.
Johan merasa aneh dengan tingkah Elsa, ia hanya menyergitkan dahinya. Elsa mencoba bersandar di bahu Johan, tambah terkejutnya dia. Bukan Johan namanya jika tidak ingin menggoda Elsa.
"El," panggilnya.
"Hem," hanya gumaman yang keluar dari mulut Elsa.
"Kamu, nggak malu sama, Oma?"
"Kenapa harus malu, Oma juga lagi tidur, kok," jawabnya enteng.
"Kamu nggak kasian, sama calon suami kamu?"
"Nggak, aku nggak cinta. Kenapa juga harus kasian." Elsa menaik turunkan alisnya.
"Kamu peluk-peluk, aku gini. Jika calon suamimu pasti akan kecewa, Elsa."
"Bodo amad," jawabnya singkat.
"Jadi kamu ... cinta aku?" Johan mencoba memancing Elsa.
"Kawin lari, yuk," serunya.
"Pelan-pelan, Elsa nanti Oma bangun."
"Biarin." Elsa membuang mukanya.
"Tapi bohong," serunya kembali.
Setelah membuat anak orang baper, Elsa berdiri pindah ke bed cadangan untuk tidur di samping sang oma. Kepala Johan sudah mengeluarkan asap karena cuma dikerjai oleh Elsa. Niat hati dia ingin mendengar kejujuran Elsa malah ini yang ia dapatkan.
****! Aku dikerjai, umpatnya dalam hati.
****
"Mas," panggil Alya, mencoba membangunkan suaminya.
"Hem,"
Hanya gumaman yang ia dapat, Alya dengan tidak sabar karena ini masa kandungan semester pertama baginya. Sangat menyiksa Alya, ia turun dari brankar dengan pelan. Sambil menutupi mulutnya ia masuk dalam kamar mandi. Ia memuntahkan semua yang berada di perutnya. Untung saja infus-nya sudah di lepas oleh perawat tadi malam. Membuat Alya leluasa untuk bergerak, tiba-tiba kepalanya sedikit pusing. Pandangannya mulai kabur lagi sampai di pintu Alya mencengkram kuat dahan pintu. Daniel yang belum seratus persen sadar langsung bangun dari tempat tidurnya.
"Sayang!" teriaknya sambil berlari.
"Kepalaku pusing, mual sekali bawaannya," keluh Alya.
__ADS_1
Daniel membopong sang istri, menaruhnya kembali ke atas brankar. Daniel melihat jarum jam di dinding, ternyata masih terlalu pagi. Daniel bertanya kepada Alya apa ia butuh sesuatu.
"Mau, sesuatu?" tanyanya.
"Enak kali yah, makan buatan Mama, tapi Mama lagi di luar Negeri."
"Kamu sudah coba menghubungi Mamamu, Sayang?"
"Sudah ku kirimkan pesan, tapi belum di balas, Mas," ucap Alya sendu. "Aldi juga nggak ada kabar," lanjutnya lagi.
"Aku mau, kamu buatin nasi goreng," rengekannya.
"Yakin?"
"Kamu ngomong gitu si, Mas." Alya sensitif semenjak hamil.
"Jadi aku harus, apa?" Daniel binggung.
"Buatin nasi gorenglah, cepatan pulang. Aku tunggu satu jam lagi, tidak sampai di sini. Aku marah," ancam Alya.
Gini amad jadi ayah, belum keluar aja udah nyusahin, gerutu Daniel di dalam hatinya.
"Mas, kenapa diem saja, keburu waktumu habis nanti."
"Iya-iya." Daniel dengan berat hati melangkahkan kakinya keluar dari kamar inap Alya.
*****
Velicia bergeming di dalam kamar apartemennya. Semenjak pulang dari rumah sakit ia berdiam diri di kamar seperti orang depresi. Velicia tak memperdulikan kandungannya, ia pikirkan hanya merebut hati Daniel kembali.
"Vel!" teriak Arsen, kesabarannya sudah habis.
Velicia berdiri mengambil piring di tangan Arsen lalu membantingnya. Prang ... kaca berserakan di lantai, Velicia meninggalkan Arsen. Velicia mengambil kunci mobilnya entah ia pergi ke mana.
"Mau ke mana dia," gumam Arsen.
Arsen mengikuti Velicia, ia berlari mengejar Velicia ternyata pintu lift sudah tertutup. Arsen berlari menuju pintu darurat lumayan melelahkan berlari sepuluh lantai. Sampai di bawah Arsen masih melihat bayangan mobil Velicia melaju dengan cepat. Arsen pun mengejarnya dengan mobilnya.
"Vel, kamu kenapa si, nggak pernah lihat aku, sedikit saja." Arsen bermonolog.
Betapa tulusnya Arsen mencintai Velicia, yang awalnya hanya menjadi pria bayaran. Lama-kelamaan cinta pun tumbuh di hati Arsen. Velicia menerobos lampu merah, Arsen pun begitu mengikuti Velicia. Entah tujuan Velicia ke mana Arsen pun tak tau.
Wiyu ...
Wiyu ...
Suara sirene polisi sedang mengejar Velicia dan Arsen karena melanggar lampu merah. Polisi terus mengejar mereka berdua sampai di saatnya Arsen menyalip Velicia dan memotong jalan. Velicia langsung mengerem dengan cepat, hampir saja Velicia menabrak Arsen. Melihat mobil mereka berdua berhenti, polisi langsung keluar dari mobilnya.
"Maaf, tolong keluar," ucap Pak Polisi sambil mengetuk jendela mobil Velicia.
__ADS_1
Arsen menghampiri Pak Polisi, ia mencoba bernegosiasi dengan Pak Polisi. "Maaf, Pak tolong jangan tangkap kami, beri saja surat tilang," pintanya.
"Kenapa? Anda itu sudah ugal-ugalan membawa mobil. Jadi kalian berdua bisa di tangkap," sungut Pak Polisi.
"Pacar saya depresi, Pak. Ini saya mau membawanya ke psikiater, untuk menjalani pengobatan." Arsen mengiba.
"Jadi begitu, ya sudah, kalo begitu saya beri surat tilang, dan bawa pernyataan nanti dari pihak rumah sakit ya. Agar saya percaya, jika itu benar adanya." Pak polisi telah menahan STNK mereka berdua, lalu Pak Polisi pergi.
Arsen lalu membuka pintu mobil Velicia, "Apa kamu sudah gila! Mau bunuh anak kita, Vel?" Terdengar suara Arsen bergetar.
"Aku lelah, aku ingin mati saja," tuturnya sambil menangis.
Arsen memeluk Velicia mencoba menenangkannya, merasa sudah tenang. Arsen mencoba merayunya masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang Velicia bawa di tinggal di pinggir jalan.
"Aku lapar," gumam Velicia.
"Oke, kamu mau makan apa, Vel?"
"Mau makan, di resto bintang lima," pintanya.
Mana punya uang banyak, kaya gitu tuh, Vel, batin Arsen menjerit.
"Kenapa diam? Nggak punya uang? Dasar miskin," cibir Velicia.
Arsen bergeming sesaat dia pandangi Velicia dengan tulus. "Apa, jika aku mempunyai uang banyak, kamu mau denganku?"
Velicia membuang mukanya ke arah luar jendela, ia acuh dengan ucapan Arsen. Arsen meraih tangan Velicia ia genggam lalu tersenyum saat Velicia menghadapnya. Velicia hanya menatap Arsen acuh lalu mengibaskan tangannya.
"Aku jijik di pegang olehmu."
"Vel," panggil Arsen sendu.
Sampailah mereka di depan restoran yang diinginkan oleh Velicia. Arsen mencoba menguatkan hatinya bersabar demi sang buah hati. Velicia kembali lagi ke mobil dengan wajah judesnya sangat terlihat.
"Kamu turun, buruan. Siapa yang mau membayarnya," ketus Velicia.
Arsen pun turun dengan wajahnya mencoba tegar, tersenyum walaupun pahit yang ia rasakan.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1
Yuk mampir punya kak Zafa ♥️