Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Victor merana


__ADS_3

Tiba-tiba terucap kembali panggilan sayang itu yang sempat hilang. Velicia tersenyum, mencoba menenangkan pikirannya dari masalah. Di lubuk hati yang paling dalam Velicia ingin sekali saat ini bersama Daniel bukan dengan Arsen.


"Vel," panggil Arsen.


"Iya, Dan," jawab Velicia, spontan membuat Arsen sakit hati lagi. "Kenapa?" lanjutnya.


"Lupakan, cepat makan, terus kita pulang."


****


Beberapa hari kemudian, Alya merasa hari ini hari yang indah karena hari ini ia tidak merasa mual. Di pagi buta Alya berendam air hangat merilekskan pikirannya. Alya mencoba melihat jam di ponselnya, ternyata pukul 05.00. Daniel masih sibuk dengan mimpinya tiba-tiba meraba tempat tidurnya. Daniel langsung membuka matanya lalu mencari sang istri tidak ada di atas ranjang. Daniel mencari keberadaan Alya yang masih berendam di bathtub membuatnya antusias di pagi itu.


Wah, enak nih olahraga pagi, batin Daniel yang sudah berpikir mesum kepada istrinya.


Daniel dengan cepat membuka pakaiannya, ia menyusul Alya di bathtub. Alya terkejut bukan main saat kulitnya di sentuh oleh seseorang. Alya langsung membuka matanya.


"Mas, kenapa di sini? Tumben udah bangun."


"Nggak ada kamu, ikut berendam, ya?" Daniel meminta izin.


Rasanya Alya ingin menolak suaminya yang ingin berendam bersamanya. Tapi, setelah melihat Daniel sudah telanjang bulat tidak mungkin menyuruhnya pergi. Bisa-bisa dia marah dengan Alya karena kemauannya tidak di turuti.


"Ya udah, sini masuk," titahnya.


Dengan semangat Daniel masuk ke dalam bathtub, ia mulai melancarkan misinya dengan seribu kejahilannya. Membuat Alya merasa geli, ingin meminta lebih dari itu. Daniel pun menyambutnya dengan senang hati. Melakukan olahraga pagi di bathtub dengan gaya menunggangi kuda.


Setelah melakukan kewajibannya Alya, mandi dengan benar lalu meninggalkan Daniel di dalam bathtub lemah dan tak berdaya. Alya pergi ke bawah untuk menemui Mbak Ani di dapur. Ternyata Mbak sudah selesai memasak.


"Loh, Mbak Ani sudah selesai masak ya? Wah, telat aku," ucap Alya sedikit menyesal.


"Memangnya, Nona mau masak?"


"Mau, Mbak. Tapi, Mbak udah masak tinggal makan aja deh," jawab Alya lalu terkekeh.


Tiba-tiba Daniel duduk di meja makan, yang sudah rapih akan berangkat ke kantor. Alya hanya melirik sang suami karena malu dengan kejadian tadi pagi. Entah apa yang terjadi di dalam kamar mandi. Baru kali ini Daniel merasa jengah, ia merasa kalah dengan tenaga Alya. Rasanya tenaganya telah terkuras habis oleh Alya. Daniel di pagi ini sarapan dengan lahap tanpa nasi yang tersisa.


"Tumben, Tuan. Sarapan paginya makan nasi goreng, biasanya cuma roti saja?" tanya Mbak Ani.


"Uhuk-uhuk..." Daniel terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Mbak Ani.


"Mas, pelan-pelan ih. Makannya jangan kaya gitu dong," tegur Alya.


"Maaf, Tuan." Mbak Ani meminta maaf lalu pergi.


"Kamu sih, ini semua gara-gara kamu," seru Daniel.

__ADS_1


"Aku?"


"Iya kamu, Sayang."


"Tapi, kamu suka kan?"


"Kamu luar biasa, cepat sekali belajar menyenangkan suami," pujinya.


Alya hanya menggelengkan kepalanya, ia terus menyelesaikan makanannya. "Mas, aku berangkat kuliah dengan membawa mobil sendiri ya?"


"Hah, tidak. Aku Antar saja dirimu, ke kampus. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa di jalan."


"Terima kasih, suamiku." Alya mencium pipi Daniel sambil membenarkan dasinya.


Dalam perjalanan Daniel menggenggam tangan Alya. Serasa dunia ini adalah milik mereka berdua, tapi, semua itu tak bertahan lama. Sampai di kampus Alya berpamitan dengan Daniel dengan mencium kedua pipi Daniel. Daniel pun pergi karena hari ini adalah jadwalnya di kantor bukan di yayasan kampus.


"Hei, a... aku kangen kalian," ucap Alya sambil memeluk kedua sahabatnya. "Aku punya sesuatu buat kalian loh," lanjutnya.


"Apa, Al?" tanya Larisa dengan antusias.


"Ini dia." Alya memberikan jam tangan kepada Chika dan Larisa.


"Widih, keren banget, mana mahal lagi," puji Chika.


"Norak lu," ejek Larisa.


"Nih, liat. Keren kan, Kak? Pasti Kakak nggak punya."


"Kata siapa?"


"Kataku barusan aja."


"Nih, aku punya." Elsa menunjuk jam tangannya yang berada ditangannya.


"Kok di kasih juga si, Al. Padahal aku mau pamer ama, Kak Elsa."


"Aneh ih kamu, Sa. Dia kan adik iparnya Alya, jadi kamu yang tau diri, seharusnya kamu yang tidak dapat."


"Kamu juga nggak dapat jika aku tidak dapat," jawabnya enteng.


"Udah ah, aku duluan ya, aku ada kelas nih," pamit Elsa.


Tinggallah mereka bertiga, Larisa mengajak Chika dan Alya untuk stay, di kantin saja sambil menunggu jam kelas mereka di mulai. Dasar bumil yang gampang kelaparan, membuat Alya banyak makan di kampus. Larisa sampai tercengang melihat Alya makan, seperti orang tidak makan seminggu.


"Astaga, Al. Kamu nggak pernah di kasih makan sama suamimu, ya?" tanya Larisa.

__ADS_1


"Aku semenjak hamil bawaannya makan. Eh, bentar lagi aku mau ngadain resepsi nih, kalian mau jadi Bridesmaids nggak," tawar Alya.


Bridesmaids atau pengiring pengantin ini biasanya diperagakan oleh wanita muda yang sudah cukup umur. Seorang pengiring pengantin adalah seseorang yang pertama dan terutama diinginkan oleh pengantin wanita untuk menjadi bagian dari pernikahannya.


"Ya, mau lah Al. Dapet seragamnya kan?"


"Belum, tanya ama Oma Sintia, coba nanti aku tanyakan, ya."


"Siapa yang mau nikah," timpal Victor.


"Aku, Kak," jawab Alya sambil tersenyum.


What! Aku nggak salah denger nih, Nikah? Sakit banget nih hati, udah nunggu lama, eh, sekarang milik orang lain, batin Victor sambil tersenyum getir.


"Nikah sama siapa, Al?"


"Kakak, inget kan, waktu di pesta ulang tahunku?"


"Laki-laki itu adalah suamiku sekarang," tuturnya.


Victor mendengar pengakuan Alya, ia langsung terdiam tak mampu berkata-kata sedikit pun. Rasanya Victor ingin melompat dari atas gedung karena saja. Larisa yang tahu jalan pikiran sang kakak sepupu, mencoba menghiburnya.


"Sebentar, aku ke toilet bentar, ya." Alya pergi.


"Sabar ya, Bro." Larisa menepuk pundak Victor.


"Beh... gampang banget lu kalo ngomong."


"Udah hampir dua bulan kali, Alya menikah dengan suaminya," timpal Chika. "Kak Victor mah, ikhlasin aja Alya. kaya nggak ada wanita lain aja," nasihat Chika.


"Kalian tahu apa coba, aku udah mendem ini semua udah lama, eh, malah dia nikah ama orang lain."


"Bodoh, kamunya aja, Kak. Udah tahu suka, pakek dipendam-pendam segala, rasain lo," ejek Larisa.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


__ADS_1


Karya kak Ingflora best deh...


__ADS_2