
Tiba-tiba Johan datang dengan wajah yang panik membuat Daniel semakin tak karuan. "Kamu kenapa, Jo?" tanya Daniel.
"Huft, team IT ada kendala sedikit, kita harus menunggu sebentar," jawab Johan sambil menenangkan Daniel.
"Apa kamu bilang!" Daniel mendorong tubuh Johan hingga terhuyung ke belakang.
Otomatis Chika dan Larisa menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Daniel sedang marah besar dengan Johan. Padahal bukan kesalahan Johan, jika ada kesalahan sistem.
"Stop, Kak Daniel!" teriak Elsa sambil membantu Johan bangun.
"Tahan amarahmu, Dan. Tidak semua masalah diselesaikan dengan emosi," nasihat Riyan.
Akhirnya Daniel kembali duduk, sambil menerima kabar dari team IT mereka.
****
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Victor.
Alya bergeming sambil melihat keluar jendela, ia acuh dengan keberadaan Victor. Lagi-lagi Victor marah saat pertanyaannya tidak di jawab. Victor menjambak rambut Alya terlihat dari wajahnya sangat kesal.
"Kamu tuli? Sampai tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Victor sangat kesal.
"Sakit," rintih Alya sambil meneteskan air matanya.
Victor langsung melepaskannya, ia merasa iba saat melihat Alya menangis. "Maafkan, aku Al," ucap Victor berubah lagi sikapnya.
Kak Victor benar-benar sudah tidak waras, batin Alya sambil berpura-pura menangis.
Victor pergi dari kamar Alya, karena ia merasa bersalah takut berbuat lebih sadis dari itu. Victor mempunyai gangguan kepribadian membuatnya susah mengontrol emosinya. Alya merasa lapar, ia memakan makanan yang di berikan oleh asisten rumah tangga. Setelah selesai makan Alya merasakan kantuk yang sangat berat telah menyerangnya. Alya pun tertidur pulas di ranjang.
Victor membuka pintu masuk ke dalam kamar Alya, melihat Alya tertidur pulas. Victor merasa lega, "Sayang, coba kamu nurut denganku, kamu tak akan seperti ini." Victor membelai pipi cantik Alya lalu menciumnya.
****
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama, Johan mendapatkan kabar dari team IT jika sudah menemukan keberadaan Alya di mana. "Dan, team IT kita telah menemukan keberadaan Alya," ucap Johan penuh keyakinan.
"Di mana sekarang?" tanya Daniel penuh antusias.
"Di Bandung, seperti di pegunungan." Johan mencoba membaca maps.
"Ayo, kita berdua berangkat," titah Daniel.
"Stop!" teriak Larisa, ia tiba-tiba mengingat sesuatu jika keluarga Victor mempunyai banyak penjaga di sana.
"Kenapa?" Suara Daniel meninggi.
"Tolong, dengarkan aku sekali saja, saranku kalian jangan pergi berdua, di sana banyak penjaga." Larisa mencoba memberitahu.
"Sekitar berapa?" tanya Johan
"Dua puluh orang ada," jawab Larisa.
"Panggil anak buah kita, bawa sekitar tiga puluh orang," titah Daniel kembali.
"Kamu tahu lokasi tersebut?" Daniel mengamati Larisa dengan detail.
"Ya, Tuan. Saya tahu." Larisa berdiri.
"Kamu, ikut saya," titah Daniel.
"Siap, Tuan." Larisa berjalan mengikuti Daniel.
"Aku ikut," rengek Elsa.
"Bahaya Elsa, kalo kamu kenapa-kenapa gimana?" bentak Daniel.
"Ish, aku janji nggak bakal nyusahin," rengek Elsa lagi.
__ADS_1
"Kamu!" Daniel mulai kesal.
"Sudah, biar aku awasi Elsa." Johan mencoba merayu Daniel.
"Terserah kamu saja, sampai dia kenapa-kenapa, aku penggal kepalamu," sungut Daniel.
Emosi Daniel sedang tidak stabil, jika ia berbicara pasti bawaannya nada tinggi terus-menerus. Untung semuanya sudah paham dengan sifat Daniel yang arogan itu. Akhirnya Elsa dan Chika ikut dalam misi kali ini, yang mencoba menyelamatkan Alya dari sekapan Victor. Dalam perjalanan hanya hening, tanpa suara sedikitpun. Atmosfer terasa panas dan sesak, ingin bernapas saja rasanya sulit di dalam mobil. Semuanya sedang panik dengan keadaan Alya. Butuh Waktu tiga jam menempuh perjalanan ke Bandung.
Sedangkan mereka telah berangkat di pukul 21.00, sampai di Bandung tengah malam. Bukan hanya satu mobil untuk berangkat ke sana. Daniel membawa tujuh mobil termasuk mobilnya. Anak buah Daniel mengikuti dari belakang.
"Al, semoga kamu tidak apa-apa," lirih Elsa sangat khawatir.
"Kita berdoa, ya. Agar semuanya akan baik-baik saja." Chika memimpin jalannya doa.
****
Cukup lama Alya tidur, saat ia bangun kepalanya sangat pusing. "Sialan, aku di kasih obat lagi," gerutu Alya.
Alya mencoba bangun masuk ke dalam kamar mandi, untuk mencuci wajahnya. Ia pandangi wajahnya di depan cermin. Ia terbersit untuk kabur, saat keluar kamar mandi Alya mencari jam dinding ternyata menunjukkan tengah malam. Alya mencoba membuka pintu ternyata tidak di kunci. Alya langsung senyum sumringah terpancar dari wajahnya.
Ceklek ...
Bunyi pintu telah terbuka, Alya menengok ke kanan-kiri ia amati sekitar ternyata sepi. "Yes, sepi," lirihnya.
Baru selangkah saja ia melangkahkan kakinya dari kamarnya. Suara bariton terdengar sangat marah, membuat Alya membalikkan tubuhnya menatap orang tersebut.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤