
"Bukannya sudah rusak, waktu kamu kecelakaan, ini Mas Arsen yang membelikan untukmu."
"Carikan di ponsel Arsen, nomor suamiku," titah Velicia tidak sabar.
What? Yang benar saja, nomor suaminya, jadi Velicia punya suami? Astaga, Mas Arsen bodoh sekali! umpat Andini di dalam hatinya sambil menatap Velicia yang duduk di atas brankar.
"Sebentar aku akan carikan tunggu di sini," ketus Andini.
"Berani sekali kamu ngatur-ngatur aku!" teriak Velicia.
"Heh! Saya ini bukan pembantu kamu, saya itu cuma dimintain tolong saja, kalo nggak mau ya sudah. Pergi sendiri sana cari nomornya!" teriak Andini tak kalah sengit.
"Kamu!" Velicia mengeluarkan suaranya dengan lantang.
"Apa?" Suara Andini pun ikut meninggi.
"Oke, aku minta tolong, carikan nomor Daniel di ponsel Arsen sekarang," mohon Velicia.
Velicia terpaksa memohon kepada Andini untuk mencarikan nomor ponsel Daniel, karena Velicia sangat membutuhkannya. Andini mencarikan nomor Daniel di ponsel Arsen. Kebetulan ponsel Arsen, Andini yang membawanya.
"Ini sudah, tinggal nunggu diangkat saja sama suamimu." Andini memberikan ponsel kepada Velicia.
Berulang kali Velicia mencoba menghubungi Daniel, tetapi tidak ada jawaban sama sekali darinya. Membuat Velicia kesal membanting ponselnya ke lantai. Andini melihat tingkah kekanak-kanakan Velicia, ia sangat kesal.
"Vel, itu ponsel belinya pakai duit kali. Jangan dibanting-banting gitu," tegur Andini sambil mengambil ponselnya di lantai.
***
Daniel yang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Alya. Daniel berjanji akan menjemput Alya setelah jam kuliah selesai. "Mas, ponselmu getar terus, coba diangkat dulu, siapa tahu penting," ucap Alya yang penasaran dengan ponsel Daniel.
"Biarkan, Sayang. Sampai di rumah sakit saja, telepon balik, lagian juga lagi jalan," tolak Daniel, karena fokus dengan kemudinya.
__ADS_1
"Oke, Mas." Alya menuruti sang suami.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di rumah sakit. Daniel membuka ponselnya melihat siapa yang meneleponnya. "Nomor baru, yang telepon," ucap Daniel memberi tahu Alya.
"Telepon balik, Mas. Siapa tahu klien penting," titah Alya.
Daniel pun langsung menelepon nomor baru itu, tak menunggu lama Velicia langsung mengangkat teleponnya. "Daniel," panggil Velicia.
Daniel mendengar suara Velicia langsung mematikan teleponnya. Daniel langsung memblokir nomor Velicia, takut Alya curiga kepadanya. "Siapa, Mas? Kok dimatikan?" tanya Alya penasaran.
"Nggak tahu, Sayang. Aku telepon dia tidak bersuara malah dia yang mematikan teleponnya," kilah Daniel.
"Oh, jadi begitu, yuk, masuk ke dalam saja," ajak Alya sambil mengandeng Daniel dengan mesra.
Sampai di ruangan Dokter Leon, Daniel tak perlu mengantri karena ia sudah membuat janji dengan Dokter Leon. "Silakan duduk, Tuan Daniel." Dokter Leon duduk di kursi kebanggaannya.
Daniel dan Alya pun duduk. " Saya ingin mengecek luka saya, Dok. Apakah sudah sembuh?" tanya Daniel.
Daniel mengikuti perintah Dokter Leon, ia berbaring di atas brankar. Butuh beberapa menit saja untuk melihat bekas operasi Daniel. Dokter Leon sudah mampu mendiagnosa hasilnya.
"Wah, luka Tuan ternyata sudah kering, semoga cepat sembuh di bagian dalam tubuh. Karena luka luar sudah sembilan puluh lima persen sembuh. Jangan lupa jaga pola makannya, Tuan Daniel."
"Baik, Dok," jawab Daniel.
"Saya akan berikan obat untuk menyembuhkan luka dalamnya lebih cepat," ucap Dokter Leon.
"Dok, berarti nanti malam, saya bertempur sudah boleh dong?" tanya Daniel dengan polos.
"Boleh, Tuan. Jika Anda sudah mampu melakukannya," jawab Dokter Leon menahan tawanya.
"Mas, ih. Malu tahu," ucap Alya kesal.
__ADS_1
"Lagian si, dari kemarin aku di tolak terus," ejek Daniel.
Alya sudah kesal dengan ucapan Daniel, ia buru-buru pamit kepada Dokter Leon karena malu. "Jika sudah selesai, saya dan suami pamit dulu ya, Dok," ucap Alya tersenyum kaku.
"Terima kasih, Dok," timpal Daniel.
"Sama-sama, Tuan Daniel. Untuk Nona semangat untuk nanti malam," canda Dokter Leon.
Alya tersipu malu dengan ucapan Dokter Leon memilih keluar terlebih dahulu. Daniel hanya mengikuti sang istri berjalan. Waktu ingin memasuki lift, Daniel menahan tangan Alya.
"Mau ke mana?"
"Pulanglah, Mas," jawab Alya.
"Aku sudah berbuat janji dengan seseorang, ayo, temui dia," ajak Daniel.
Hah? Siapa? Jangan-jangan. Pikiran Alya sudah ke mana-mana.
Menurut kalian, Daniel akan mengajak Alya bertemu siapa, ya?
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤
__ADS_1