Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Operasi Mata


__ADS_3

"Don't touch me! (jangan sentuh saya)" Elsa kesal dengan Johan.


"Els," pengen Johan duduk di samping Elsa.


"Keluar sana!" usir Elsa.


Johan bukannya pergi ia memilih memeluk Elsa, tubuhnya terasa hangat saat ia peluk. "Percayalah, kamu adalah satu-satunya di hatiku," ucap Johan mencoba menenangkan Elsa.


"Aku nggak suka, ya. Ada wanita lain, yang menggoda Kakak, seperti itu," keluh Elsa.


"Tadi 'kan, aku sudah ingin menjelaskannya malah keburu Elita pergi," ucap Johan jujur.


"Kalian bukan mantan pacar 'kan?" selidik Elsa sambil menatap Johan.


"Bukan, Sayang," ucap Johan sambil menangkup wajah Elsa.


"Ehem." Oma Sintia berdehem.


Johan dan Elsa pun terkejut dengan kedatangan Oma Sintia secara tiba-tiba. "Oma, ganggu ya?" goda Oma Sintia yang sedari tadi mendengarkan semuanya.


Untung aku tadi tidak jadi mencium Elsa, hingga terlihat pasti aku bisa digantung oleh, Oma Sintia, batin Johan merasa was-was.


Johan langsung berdiri karena malu sudah ketahuan bermesraan dengan Elsa. Elsa hanya tersenyum melihat sang nenek datang. Oma Sintia hanya tersenyum juga melihat tingkah anak muda sekarang.


"Ya sudah, kalian berdua lanjutkan saja, Oma mau istirahat," pamitnya.


"Bye, Oma," seru Elsa.


Setelah kepergian Oma Sintia, Johan pamit pulang untuk beristirahat. "Els, aku pulang ya, jangan lupa di minum obatnya," pamit Johan.


Elsa tidak menjawab, hanya mengerucutkan bibirnya. Johan tahu jika Elsa tidak ikhlas dirinya pulang ke rumah. Johan mendekati Elsa mencium keningnya.


****


Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Velicia, hari di mana ia akan menjalani operasi mata. "Aku tidak sabar," ucapnya dengan antusias tanpa memikirkan perasaan Arsen.


"Ya, aku juga tidak sabar, menunggu kamu bisa melihat lagi," jawab Arsen.


Mereka berdua memasuki ruang operasi, akan menjalani operasi mata. Butuh waktu berjam-jam untuk melakukan operasi mata itu. Arsen sudah ikhlas dengan semua yang ia lakukan untuk wanita pujaan hatinya. Setelah operasi selesai Arsen dan Velicia di taruh di kamar inap yang berbeda. Arsen sudah menyiapkan kamar VVIP untuk dirinya dan Velicia. Tak lupa juga Arsen menyuruh wanita muda cantik bernama Andini untuk merawatnya selama ia sakit. Andini adalah sahabat kecil Arsen, yang mengenal seluk-beluk keluarga Arsen, yang mampu menerima Arsen apa adanya.


"Din," panggil Arsen dari tidurnya sambil meraba-raba.


"Iya, Mas. Mas butuh apa?" tanya Andini dengan lembut.


"Bagaimana keadaan Velicia, apa dia sudah sadar dan bisa melihat?" tanya Arsen penasaran.


"Dia sudah sadar, Mas. Tapi, perban belum bisa dibuka, Mas. Harus nunggu beberapa hari lagi," ucap Andini memberi tahu.


"Baiklah," jawab Arsen sendu.


"Mas, makan ya? Aku suapi," tawar Andini.

__ADS_1


"Boleh, Din. Aku lapar."


Mas, aku kecewa kepadamu, kenapa kamu memilih Velicia dari pada aku yang selalu di sisimu, batin Andini sambil menyuapi Arsen.


***


"Oma, nanti malam kami berdua akan pulang ke rumah," terang Daniel.


"Bukannya kamu belum sehat betul, Dan?" tanya Oma Sintia.


"Nanti mau check up ke Dokter, Oma. Jangan khawatir," jawab Daniel sambil tersenyum.


"Idih, kesambet apa kamu, Kak. Senyum-senyum gitu," timpal Elsa yang tidak percaya dengan tingkah Daniel.


"Memangnya salah, Els?" tanya Alya binggung.


"Aku kasih tahu ya, Kak Alya. Kak Daniel itu paling anti kalo suruh senyum gitu." Elsa melirik sang Kakak.


"Benar, Oma?" Alya tampak tidak percaya.


"Benar, Sayang," jawab Oma Sintia dengan yakin.


"Fitnah itu," timpal Daniel yang tidak terima.


"Daniel itu, terakhir senyum sewaktu mamanya masih hidup, Al." Riyan ikut menimpali.


Semua orang sedang berkumpul di meja makan kala itu, untuk sarapan pagi. Selesai dengan sarapan pagi Elsa dan Alya pergi ke kampus. Riyan dan Daniel pergi ke perusahaan seperti biasa, sedangkan Oma Sintia hanya di rumah saja.


"Sudah, Kak. Yuk, buruan masuk mobil, nanti kita telat ke kampus loh," titah Elsa.


Tiba-tiba Daniel mendekati Alya. "Sayang, nanti kita kerumah sakit ya, temani aku check up ke Dokter," pinta Daniel.


"Baik, Mas. Jemput aku ya," ucap Alya sambil membuka pintu mobil Elsa.


Alya masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Daniel mengganggu Alya mau pergi ke kampus. Daniel mengetuk jendela mobil Elsa berulang kali. "Tunggu sebentar, Els. Kakakmu pasti mau berbicara penting." Alya membuka jendela mobilnya.


"Ih, Kakak nih ganggu aja," gerutu Elsa takut telat ke kampus.


"Sebentar, Elsa!" teriak Daniel.


Alya menatap sang suami tanpa mengerti mau dia apa? Alya tersenyum saja untuk menghadapi kekesalan Daniel kepada Elsa karena protesnya. Daniel membuka pintu mobil Elsa, lalu mencium bibir Alya sekilas. Membuat Elsa panas dingin saat melihatnya.


"Astaga, mesum!" teriak Elsa tanpa sadar.


"Kenapa? Kamu tidak suka, aku kan suami istri sah," sanggah Daniel sambil pandangannya mengejek Elsa.


"Benar-benar ya kamu, Kak," gerutu Elsa.


"Kalo pengen, Johan diajak dong," ejek Daniel.


"Sudahlah, aku mau ke kampus." Elsa melirik Daniel kesal.

__ADS_1


Elsa dan Alya pun melajukan mobilnya, lalu mereka berdua pergi ke kampus.


***


Velicia telah sadar dari tidurnya, ia mencoba meraba sekitar. Velicia ingin turun dari brankar lalu pergi ke kamar mandi. Saat ia turun ternyata terjatuh ke lantai, tadinya Andini enggan membantu Velicia berdiri. Melihat Velicia tidak bisa melihat dengan susah payah Andini menahan egonya sendiri, lalu membantu Velicia membawanya ke kamar mandi.


Kalo bukan, permintaan Mas Arsen, mana aku mau membantu Velicia seperti ini, gerutu Andini di dalam hatinya sambil membantu Velicia berdiri.


"Kamu siapa?" tanya Velicia sambil melepaskan genggamannya di tangan Andini.


"Aku Andini," jawabnya datar.


"Kenapa di sini?" tanya Velicia sedikit was-was.


"Aku di suruh, Mas Arsen di sini untuk merawatmu."


"Oh, begitu." Velicia berjalan dengan hati-hati karena perbannya belum dibuka.


"Sini aku bantu, aku antar ke dalam kamar mandi," tawar Andini.


Velicia yang dituntun oleh Andini hanya menurut saja tanpa protes apa pun. Beberapa menit kemudian Velicia keluar dari kamar mandi. Andini dengan sabar menghantarkan Velicia ke brankar kembali.


"Ambilkan ponselku," titah Velicia dengan bossy.


"Ini," ucap Andini sedikit kesal diperintah oleh Velicia karena tidak ada kata tolong.


"Buka ponselnya," titahnya kembali.


"Lalu?" tanya Andini dengan suara mengejek.


"Carikan nomor ponsel suamiku, lalu telepon secepatnya."


"Tidak ada yang namanya itu. Ini ponsel baru, Vel," ucap Andini memberi tahu.


"Loh, ponsel lamaku di mana?" tanya Velicia.


"Bukannya sudah rusak, waktu kamu kecelakaan, ini Mas Arsen yang membelikan untukmu."


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤


karya kak ria aisyah

__ADS_1



__ADS_2