Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Dokter Obgyn


__ADS_3

Hah? Siapa? Jangan-jangan. Pikiran Alya sudah ke mana-mana.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Alya penasaran.


"Percayalah denganku, ayo, ikut aku," ajak Daniel.


Masih dalam lantai gedung yang sama, mereka berdua berjalan menghampiri orang tersebut. Mereka masuk keruangan obgyn, dokter telah menunggu. "Selamat sore, Nona, Tuan," sapa Dokter Jihan.


"Baik, Dok," jawab Alya.


"Silakan duduk." Dokter Jihan telah mempersilahkan.


Mereka berdua pun duduk, Alya terasa nervous saat bertemu Dokter Jihan. Daniel meraih tangan Alya, ia menyalurkan energi positifnya. Seolah ia berkata, tenang semua akan baik-baik saja.


Ya Tuhan, Mas Daniel. Perhatian sekali dengan kandunganku.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Dokter Jihan.


"Saya ingin memeriksakan kandungan, istri saya, Dok," timpal Daniel mencoba menjelaskan.


"Baik, Tuan. Untuk Nona, tolong naiklah ke atas brankar," titah Dokter Jihan.


Alya pun menuruti perintah Dokter Jihan, ia telah berbaring di atas brankar. Setelah melihat Alya sudah berbaring yang di bantu oleh Perawat. Dokter Jihan membuka sedikit baju Alya lalu Perawat mengolesi gel di perut Alya. Sudah selesai Dokter Jihan menempelkan alat transduser USG ke perut Alya, ia gerakkan ke kiri ke kanan untuk mencari posisi sang bayi di dalam perut Alya.


"Wah, lihat Tuan, anak Anda kembar," ucap Dokter Jihan.


"Benarkah, Dok!" seru Daniel, karena ia terlalu bahagia dengan kabari gembira ini.


"Mas," lirih Alya, meneteskan air matanya karena terharu.


Daniel mendekati Alya lalu menggenggam tangannya. Dokter Jihan melanjutkan USG-nya. "Untuk jenis kelamin, belum terlihat, Tuan. Karena usia kandungan hampir memasuki 14 minggu," terang Dokter Jihan.


"Jadi saya dapat melihat jenis kelaminnya, usia kandungan memasuki umur berapa ya, Dok?" tanya Daniel.


"Sebenarnya, sekarang sudah bisa, Tuan. Karena kembar jadi jenis kelaminnya tertutup." Dokter Jihan kembali ke tempat duduknya. Perawat membantu Alya bangun dari brankar.


"Jadi bayi-bayi kami sehatkan, Dok?" tanya Alya.


"Sehat sekali, Nona Alya. Saya akan memberikan vitamin untuk Anda, agar bayi-bayi Nona sehat selalu."

__ADS_1


Selesai kontrol dari rumah sakit, Alya mengajak Daniel untuk menjenguk Velicia. "Mas, kita jenguk Velicia, yuk."


"Nggak perlu, Sayang. Aku nggak peduli," ketus Daniel.


"Oke, kita pulang, ya?" rayu Alya.


"Kita pulang ke rumah saja."


"Mbak Ani belum kita bawa pulang, Mas."


"Biarin saja di rumah, Oma. Besok suruh sopir yang nganter pulang," tegas Daniel.


"Oke, jika maumu begitu." Alya pasrah.


"Jangan lupa nanti, malam," bisik Daniel di telinga Alya. Alya menghentikan langkahnya memandang sang suami, yang tengah menggodanya di tempat umum.


"Aku akan membuatmu kualahan, Mas," balas Alya sedikit kesal.


***


Elsa bersama Chika dan Larisa, mereka bertiga akan melakukan pemburuan makanan. Larisa tengah mengajak Velicia dan Chika pergi ke bazar makanan di pusat kota. Mereka bertiga mengelilingi stand-stand bazar untuk memilih makanan apa saja yang akan mereka makan.


"Bumil lebih, sayang suami, daripada kita," jawab Elsa.


"Ya iyalah, Kak. Masak sayang kita, rugi ...." Larisa menimpali.


Mereka bertiga pun tertawa bersama, membawa makanan mereka ke tempat duduk. Tiba-tiba ada segerombolan tiga pria tampan menghampiri mereka bertiga. Chika dan Larisa tercengang dengan ketampanan pria-pria tersebut.


"Ganteng banget," bisik Larisa kepada Chika.


"Hatiku meleleh, Sa," balas Chika sambil tersenyum kepada pria-pria tersebut. Hanya Elsa yang tak begitu menanggapi pria-pria tersebut.


"Boleh, kami bertiga duduk, di sini?" tanya salah satu Pria tersebut.


"Duduk, saja masih lebar tempatnya," jawab Larisa dengan sok manis.


"Kakak udah kerja ya?" tanya Chika penasaran.


"Iya, benar kami ini bagian marketing. Kenalin, ini Remon manager bagian marketing. Dan ini Tomi bagian marketing juga seperti aku, Oia, namaku Dimas," terang Dimas.

__ADS_1


"Perusahaan mana?" tanya Elsa dingin.


"Perusahaan xxxx," jawab Remon dengan bangga.


"Oh ...." Acuh Elsa.


"Itu 'kan perusahaannya ...." Chika menghentikan ucapannya, saat Elsa mencubit Chika secara diam-diam sambil menatapnya dingin seperti es di kutub utara.


"Nggak ada hebatnya perusahaan itu," cibir Elsa sambil mengunyah makanannya.


"Oh, ya?" ejek Remon.


"Hem." Elsa hanya berdehem.


"Kalian bertiga masih kuliah?" tanya Tomi.


"Iya, Kak. Aku baru semester dua," jawab Chika.


Mereka berenam pun berbincang-bincang, hanya Elsa yang diam saja tak menanggapi obrolan tak penting. Tiba-tiba Remon memberanikan diri untuk meminta nomor telepon Elsa. "Els," panggil Remon.


"Iya, kenapa?" Lagi-lagi Elsa menjawab dengan dingin.


"Aku boleh minta nomor telepon, kamu?"


Elsa hanya diam saja, karena kelamaan menjawab Chika menyenggol lengan Elsa. Chika memberi kode agar Elsa menjawab pertanyaan Remon.


Wah, Remon berani sekali ...


Kira-kira Elsa kasih nggak ya?


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & gift.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2