
Arsen pun turun dengan wajahnya mencoba tegar, tersenyum walaupun pahit yang ia rasakan. Arsen mengikuti Velicia sedang masuk ke dalam restoran. Velicia duduk dengan anggun lalu memesan makanannya.
"Kamu mau pesan apa?" ketus Velicia.
"Ngikut kamu aja," jawabnya singkat.
Velicia sudah memesan makanan kepada pelayan lalu ia berkata, "Kamu nanti sanggup bayar, nggak?" cibirnya.
"Bisa, jangan khawatir."
"Baguslah."
****
Dalam perjalanan Daniel hanya bisa menggerutu saja. "Apa sih, Alya itu. Masak aku suruh masak. Yang benar saja, seorang Daniel Danuarta megang pisau. Kaya suami-suami takut istri saja aku, ini." Daniel bermonolog.
Sampai di rumah, Daniel mencari keberadaan Mbak Ani di dapur. Dengan tergopoh-gopoh ia menghampirinya hampir saja terhuyung ke depan. Membuat Mbak Ani terkejut karena wajah Daniel hampir saja masuk ke dalam wajan.
"Aduh, Tuan. Ada apa? Sampai terburu-buru seperti ini."
"Mbak, tolong bantu saya, ya," pintanya.
"Silakan, Tuan. Pasti saya bantu jika saya bisa."
"Ajarkan saya buat nasi goreng."
"Saya aja Tuan, nanti malah kenapa-kenapa gimana? Kalo Tuan terkena pisau," larangan dari Mbak Ani.
"Ini Alya yang minta, Mbak. Kalo bukan bumil yang minta, saya juga malas, Mbak."
"Wah selamat, Tuan. Atas kehamilan Nona Alya."
"Iya, Mbak. Ini gimana Mbak? Cara buatnya," tanya Daniel.
"Ini resepnya, Tuan." Mbak Ani memberikan secarik kertas untuk Daniel.
"Terima kasih, mbak. Biar Alya percaya , mbak tolong pegang ponsel saya, rekam ya, mau saya pamerkan kepadanya."
"Baik, Tuan."
Perlahan tapi pasti Daniel membuat nasi goreng spesial buatannya untuk sang istri. Entah rasanya seperti apa, Daniel tetap bersemangat mencoba membuatnya dengan ketulusan. Beberapa saat membuat nasi goreng telah selesai. Daniel telah mempersiapkannya untuk di bawa ke rumah sakit. Daniel masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk mandi. Tiba-tiba ponselnya berdering id caller-nya menunjukkan jika Alya telah memanggil.
"Iya, Al. Ada apa?"
"Mas, kok lama."
"Ini sudah selesai, Sayang. Tunggu ya, aku mandi dulu, gerah rasanya."
__ADS_1
"Oke," jawabnya di seberang sana lalu mematikan ponselnya.
*****
Sudah pagi Elsa pun masih tertidur di bed cadangan. Membuat Oma Sintia sedikit kesal, tidak ada gunanya dia sana. Johan dengan telaten mengurusi Oma Sintia.
"Oma mau apa? Biar Johan carikan, sesuatu untuk Oma," tawanya.
"Tidak usah, Jo. Yang sabar ya, Jo. Buat ngadepin tingkah Elsa yang masih kekanak-kanakan."
Oma Sintia merasa jengah melihat cucu gadisnya masih tertidur lelap padahal sudah pagi. Johan hanya tersenyum menanggapi Oma Sintia. Johan tidak mau Oma Sintia banyak pikiran jadi ia harus bersabar dengan tingkah Elsa.
"El, bangun." Johan mencoba membangunkan Elsa.
"Iya, Oma, laksanakan perintah," igau Elsa.
"Astaga, Elsa." Oma Sintia jengah.
Johan tertawa melihat Elsa terduduk tapi matanya masih terpejam lalu tidur lagi. Johan mencoba sekali lagi untuk membangunkan Elsa. Ia mau mengerjai Elsa tidak berani karena ada Oma Sintia disana.
"Elsa," panggil Johan, sambil menggoyangkan bahunya.
Elsa tak bergeming, lalu Oma Sintia bereaksi. "Elsa Danuarta!" teriak Oma Sintia dengan khasnya.
"Iya, Oma." Elsa mengusap-usap matanya lalu duduk.
Semua ini adalah ujian, lumayan sarapan pagi dengan yang indah-indah, gumam Johan dalam hati.
Saat membuka mata Elsa terkejut melihat Johan didepannya. "Kamu, ngapain di kamar aku, kurang puas kemarin kita tidur berdua." Elsa belum sadar jika dirinya berada di rumah sakit. Johan langsung menutup mulut Elsa agar tidak melanjutkan ucapannya.
"El, ini rumah sakit, bukan kamar kamu," bisik Johan.
Elsa langsung membalikkan tubuhnya menghadap Oma Sintia. Elsa cengengesan karena sangat malu dengan Oma Sintia. Elsa mendekati sang Oma karena tatapannya mulai mengintimidasi butuh penjelasan.
"Oma, jangan salah paham ya, aku masih suci kok, belum diapa-apain," terangnya.
"Kamu kenapa bisa tidur berdua dengan Johan?" cecar Oma Sintia.
"Karena ..." Elsa binggung mau menjawab apa, ia langsung melirik ke arah Johan untuk meminta bantuan. Johan berpura-pura tidak melihat Elsa, makin kesal Elsa di buat oleh Johan. Johan merasa kasian melihat Elsa akhirnya ia membantu Elsa untuk berbicara dengan Oma Sintia.
"Jadi gini Oma, kemarin Elsa ngerjain tugas kuliah terus kita ketiduran, di sofa," alibi Johan, ia mengedipkan matanya di depan Oma Sintia. Kode bahwa Johan telah berbohong.
"Oke, jika begitu. Sana kamu cari sarapan pagi untuk Johan makan," titah Oma Sintia.
"Kak Johan bisa cari sendiri Oma," tolak Elsa.
"Sama calon ..." ucapan Oma Sintia terpotong oleh Johan.
__ADS_1
"Calon bodyguard kamu pastinya," kilahnya.
"Ayo, buruan atau Oma yang cari sarapan pagi untuk kalian berdua?"
"Iya-iya, Oma."
Sok keren banget sih, calon bodyguard aja, makan minta dibelikan. Kasih uang beli sendiri, gerutu Elsa di dalam hatinya. Akhirnya Elsa pergi dari kamar inap Oma Sintia.
Johan melihat Elsa sudah pergi, ia langsung membuka pembicaraan dengan Oma Sintia. "Maaf, Oma. Johan hampir saja gagal menjaga Elsa."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Jo?" cecar Oma Sintia.
"Setelah Oma memberitahu, Elsa. Ia akan dijodohkan, ia pergi ke club, Oma. Setengah mabuk Johan bawa ke rumah. Sebelum dia di bawa laki-laki hidung belang. Oma Sintia jangan khawatir, aku akan menjaga Elsa lebih baik lagi." Johan menyakinkan Oma Sintia.
"Oma percaya denganmu, Jo. Kamu adalah orang kepercayaan Daniel, sekaligus sahabatnya. Jangan buat kecewa Oma, ya. Oma titipkan Elsa denganmu."
Johan meraih tangan Oma Sintia lalu menggenggamnya, ia berkata, "Aku akan memberikan yang terbaik untuk Oma."
****
"Ini benar buatan mu, Mas?" Alya tidak yakin dengan nasi goreng yang telah Daniel bawa untuknya.
"Nih, kalo kamu nggak percaya." Daniel menunjukkan video yang telah ia buat dengan Mbak Ani.
"Ini beneran kamu, yang buat," ucap Alya matanya berbinar-binar seperti mendapatkan uang segepok.
"Demi kalian berdua, aku rela," celoteh Daniel.
"Emb, aku coba ya." Alya meminta izin.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya, "Gimana rasanya?"
"Lumayan," jawab Alya.
Tiba-tiba Elsa masuk ke dalam kamar inap Alya. Dengan wajahnya di tekuk, membuat Alya bertanya-tanya. Elsa mendekati Alya dengan manja bersandar di bahu Alya.
"Kamu kenapa lagi, El? Pagi-pagi udah cemberut gitu, ih, pamali tahu."
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤