Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)

Pernikahanku ( Pilih Aku Atau Dia)
Membohongi Velicia


__ADS_3

Selsai makan malam Johan dan Elsa duduk berdua di taman belakang. Johan melirik Elsa sedang kedinginan karena gaunnya sedikit terbuka. Membuat Johan melepaskan jasnya lalu memakainya di tubuh Elsa. Elsa menyambutnya dengan senang hati.


"Kamu udah nggak marah lagi, Els?"


"Marah si nggak, Kak. Cuma kesel aja gitu."


"Kenapa baru cerita sekarang, nggak dari awal Kakak tahu semua itu?"


"Aku nggak mau memaksa kamu, Elsa. Jika kamu menolak aku akan terima, habis itu aku bunuh diri, karena tak sanggup berpisah denganmu," gombal Johan.


"Ya Tuhan, Kak Johan."


"Apa aku salah, telah menyukaimu dari kamu masih kecil, apa lagi liat kamu SMP dulu, manis banget," pujinya.


"Hu... dasar pedofil," cibir Elsa.


"Memangnya kamu nggak suka, sama aku yang dulu?"


"Nggak, "jawabnya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Johan penasaran.


"Karena dulu Kakak nyebelin banget, dah. Suka usil sama aku," terang Elsa.


"Kamu tahu?"


"Nggaklah."


"Aku usil sama kamu karena aku cari perhatian kamu, tapi kamu nggak peka."


"Ya Tuhan, sampai sekarang pun aku tak sadar," ucap Elsa, sambil terkekeh.


Johan mengacak-acak pucuk rambut Elsa merasa gemas melihat Elsa. Elsa hanya tersenyum melihat kejahilan Johan, ia memilih bersandar di bahu Johan. Mereka berdua menikmati pemandangan yang indah di malam itu.


*****


Pagi yang indah bagi seseorang yang mensyukuri hidup. Tidak bagi Velicia pagi-pagi ia sudah sibuk menghubungi Daniel tapi tidak ada balasan sama sekali. Membuat Velicia kesal ditambah Arsen juga tidak ada kabar setelah pulang sebentar ia sudah pergi lagi. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar membuat Velicia bangun dari tidurnya. Ternyata Arsen sudah membuat sarapan pagi untuknya.


"Sarapan, Vel," ucapnya sedikit dingin.


Velicia menyergitkan dahinya mendengar Arsen tiba-tiba dingin. "Kamu kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kamu begitu dingin sekali dengan ku," tanya Velicia.


"Ah, biasa saja. Perasaan kamu saja, Vel."


"Nanti jadi nggak?"


"Ke mana?"


"Katanya mau ngasih surprise."


"Oh, itu. Nanti habis sarapan pagi, ya. Kamu siap-siap saja," titahnya.


Pagi ini mood Arsen tidak baik, karena semalam Arsen melayani tamunya yang sudah tua. Bisa dibilang oma-oma gaul, yang haus akan kasih sayang. Sebenarnya tak perlu mengeluarkan tenaga banyak oma pun sudah lelah. Tetapi, itu merusak mood Arsen pagi ini.


"Kamu cantik sekali, Vel?"


"Katanya, mau pergi, gimana sih kamu."


Velicia kira Arsen akan mengajaknya jalan-jalan ke sebuah mall untuk membelikannya sesuatu seperti berlian. Jadi hari ini Velicia dandan sudah seperti ibu-ibu sosialita. Arsen hanya ingin tertawa melihat gaya Velicia yang berlebihan seperti itu. Kenyataannya Arsen akan membawa Velicia bertemu dokter psikiater. Untuk mengobati obsesinya dengan Daniel.

__ADS_1


"Cepat kamu siap-siap Arsen," titah Velicia.


"Iya, Vel. Tunggu."


****


Alya dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi karena dia banyak memuntahkan cairan. Hamil semester pertama sangat menyiksa Alya. Niat hati pagi ini Alya berangkat ke kampus alhasil dia tidak jadi berangkat karena merasa lemah. Daniel di pagi itu dengan perhatian membawakan sarapan pagi untuk sang istri.


"Sayang, sarapan dulu, ya," pinta Daniel.


"Nggak mau, nggak enak," tolaknya.


"Sedikit saja, nanti kamu sakit, kasian anak kita juga kan," rayu Daniel.


Alya mendengar kata-kata sakit langsung ia dengan semangat makan dengan lahap. "Anak pintar," ucap Daniel sambil mengelus rambut Alya.


"Memangnya aku anak-anak apa," gerutu Alya.


"Iya, maaf. Istriku yang paling cantik dan pintar," ucap Daniel penuh dengan penekanan.


"Ingat istrimu, Mas. Bukan aku saja," ketus Alya.


Astaga, kenapa aku selalu salah di mata Alya, batin Daniel.


"Mas, kenapa diam saja!" teriak Alya kesal.


Daniel sedang berpikir dia harus menjawab apa, ia takut jika salah menjawab lagi. "Buat aku cuma kamu, Alya Alcie."


"Tuh, kan."


"Apa lagi?"


"Kenapa nyebut namaku, bukan pakai sayang?"


Daniel menarik napasnya dalam-dalam, ia keluarkan secara perlahan-lahan. Sabar, Dan, sabar, ulang Daniel berulang kali di dalam hatinya.


Tiba-tiba ponsel Daniel berbunyi, ternyata Johan menelepon terlihat dari id caller-nya. Dengan cepat Daniel mengangkat telepon dari Johan. Terima kasih, Jo. Kamu telah menyelamatkanku dari Alya, batin Daniel merasa menang.


"Halo, Jo kenapa?"


"Bos, saya di bawah, ayo kita berangkat ke kantor. Tugas numpuk nih."


"Oh, kamu di bawah ya, Jo. Tunggu aku di bawah." Daniel mematikan teleponnya.


"Duh, Sayang. Jangan marah, ya. Aku berangkat dulu," pamit Daniel sambil mencium kening Alya.


"Ke mana?


"Ke kantor dong, Sayang. Mau ke mana lagi coba?"


"Ke rumah Velicia bisa, jangan bohong," rengekannya.


"Beneran kok, nanti jika aku sudah sampai, aku telepon ya?"


"Oke." Alya mengizinkan Daniel pergi.


Daniel langsung keluar kamar, turun dengan cepat. Johan dengan santai duduk di sofa sambil meminum kopi buatan Mbak Ani. "Ngopi dulu, Bos," tawar Johan sambil menyeruput kopinya.


"Buruan," titahnya.


"Kenapa sih, buru-buru banget. Masih banyak ini kopinya."


"Nanti Alya berubah pikiran, Jo."

__ADS_1


"Kenapa Nyonya besar?"


"Nanti aku ceritakan di mobil." Daniel berjalan meninggalkan Johan.


"Wah, bahan ghibah nih," gumam Johan, sambil berjalan.


Daniel yang duduk di kursi depan, dengan wajahnya di tekuk olehnya. Johan jadi segan ingin bertanya tentang keinginan tahuannya. Akhirnya Johan lebih baik diam dari pada jadi bahan pelampiasan Daniel.


"Jo," panggilnya.


"Iya, Bos," jawabnya singkat.


"Aku pusing dengan sikap, Alya."


"Kenapa, Bos?"


"Dia makin agresif," jelasnya.


"Hah!" Johan terkejut bukan main.


"Bukannya, Bos pawangnya? Jangan sampai kalah, dengan bocah ingusan."


"Astaga Alya itu beda, Jo. Masih ..." ucap Daniel terhenti.


"Masih apa, Bos?" Johan ikut penasaran.


"Masih itulah, pokoknya, buat nagih sebenernya. Beda rasa sama Velicia."


"Ya pastilah, Bos. Alya masih suci nikah sama Bos. Sedangkan Velicia, wanita obralan nekat deketin Bos," ucap Johan keceplosan.


"Maksud kamu, apa?"


Matilah aku, kenapa bisa keceplosan sih, bodoh banget, batin Johan, sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Bos, kenal Velicia di club kan?"


"Kamu tahu dari mana," cecar Daniel.


"Sebenarnya..."


"Cepatan ngomong Johan!" teriak Daniel kesal.


"Aku tahu masa lalunya," ucap Johan hati-hati.


"Kenapa kamu tidak cerita, Johan. Jika dari awal kamu cerita, aku tidak akan seperti ini."


Mana ada orang bucin dengerin nasihat orang, gerutu Johan dalam hati.


"Saya takut, Bos tak percaya denganku," kilahnya.


"Astaga, Johan!" Daniel memukul kepala Johan.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like, komentar, vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys, jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2