Persembunyian Pewaris

Persembunyian Pewaris
papa Brian


__ADS_3

beruntung bantuan dari Brian datang, mereka langsung menyerbu tempat itu dan membawa Farel dan juga Yuna pergi dari sana, keduanya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. keadaan Yuna masih baik-baik saja tapi tidak dengan Farel yang sudah kritis


Brian datang dan langsung menghampiri putrinya, dia memeluk Yuna yang sudah menangis di depan ruang rawat Farel, Brian mencoba menenangkan dan juga meminta agar suster memberikan obat penenang untuk Yuna, Yoona yang sudah siap berat menangis sejadi-jadinya, suster langsung memberinya obat penenang karena memang itu yang dibutuhkan Yuna saat ini


Yuna telah sadar dan Farel sudah melewati masa kritisnya walaupun dia masih belum sadarkan diri, Yuna dan Brian berada di ruangan Farel, dua-duanya tak saling bicara karena sama-sama canggung hingga pak Brian memberanikan diri untuk memulai pembicaraan


"papa lapar, apa kamu lapar?"tanya Brian pada Yuna


Yuna menolak pada ayahnya, namun dia tidak mengatakan apapun selain menatap ayahnya


"papa akan cari makan, kamu tunggu di sini kalau ada apa-apa tekan bel itu atau langsung telepon papa" Brian berdiri sembari menunjuk bel yang ada di tembok dekat ranjang, setelah itu dia keluar ruangan untuk mencari makan siang


kini Yuna hanya tinggal berdua dengan Farel yang masih tidak sadarkan diri, dia merasa tidak enak pada ayahnya karena ayahnya sudah bersikap baik padanya tapi dia masih belum bisa mengakrabkan diri pada ayahnya lagi


beberapa saat kemudian Farel menunjukkan tanda-tanda kesadarannya, Yuna langsung menekan bel yang ditunjuk oleh ayahnya tadi, beberapa suster datang untuk memeriksa Farel, tak butuh waktu lama Farel siuman dari komanya


Yuna langsung memeluk kekasihnya itu sembari menangis dan bersyukur, sedangkan Farel tersenyum tipis karena dia masih sangat lemah saat itu,


saat Brian tiba dia sudah mendapati Farel yang berusaha untuk duduk dibantu oleh suster, Brian bertanya apakah tidak sebaiknya Farel untuk rebahan dulu, namun Farel mengatakan bahwa punggungnya terasa panas saat ini jadi dia ingin duduk


tiba-tiba Yoona mengatakan maaf kepada ayahnya

__ADS_1


"papa aku minta maaf karena tidak mengajak papa ngobrol dari tadi"


"sudah jangan pikirkan itu papa tahu kamu masih sungkan pada papa"


Setelah percakapan itu Yuna dan Brian memutuskan untuk makan siang di kamar Farel, sedangkan kalian sendiri masih belum diperbolehkan untuk makan makanan seperti yang Brian beli, Farel hanya memakan beberapa buah yang ada di sana


beberapa hari Farel menginap di rumah sakit sampai dia benar-benar pulih, Brian dan Yuna semakin dekat dan Farel bersyukur atas itu, dia merasa masibah ini tidak terlalu buruk karena bisa mempererat hubungan ayah dan anak itu, walaupun jujur Farel merasa agak trauma akan kejadian kemarin


setelah cukup baik Farel menghubungi Romeo yang memang sudah sangat panik mulai semenjak mengetahui kondisi Farel, farel meyakinkan bahwa dia sudah baik-baik saja.


Romeo, Bu Ira, Vincent dan yoga berencana untuk pergi ke Belanda menemui Farel namun Farel tidak mengizinkan apabila mereka pergi bersama-sama, enggak hanya diputuskan bahwa Vincent akan berangkat bersama Yoga sedangkan Romeo akan berangkat bersama Bu Ira dengan dua penerbangan yang berbeda


setelah mereka tiba di Belanda mereka langsung diarahkan untuk pergi ke kediaman Brian, Yuna dan Farel yang baru keluar dari rumah sakit juga langsung diminta untuk pergi ke rumah Brian sekaligus rumah Yuna


Yuna bertanya apakah ibunya juga masih ada di sana atau tidak, Brian hanya tersenyum tak memberi jawaban apapun. beberapa pelayan datang untuk mengantarkan Farel dan Yuna ke kamar masing-masing


karena hari sudah selamat sore jadi mereka dipersilahkan untuk beristirahat sebentar atau siap-siap untuk makan malam nanti


Brian mendatangi kamar Yuna dan mengatakan bahwa ibunya ada di rumah dan dia berharap Yuna bisa menemui ibunya saat ini, Yuna tampak ragu tapi dia juga sangat merindukan ibunya, walaupun dia juga sedikit takut untuk bertemu dengan ibunya yang mood-nya suka berubah-ubah


di depan sebuah kamar Yuna dan Brian berhenti sejenak, Yuna menatap ke arah ayahnya dan bertanya kenapa ayah betah hidup dengan ibu, tentu saja Brian mengatakan bahwa dia mencintai ibunya, itu saja alasan untuk mereka bisa tinggal bersama

__ADS_1


Yuna kembali menatap pintu itu dan mencoba untuk membukanya, di sana dia melihat seorang wanita dengan rambut yang panjang terurai sedang melukis


"ibu" ucap Yuna dengan ragu


wanita itu menoleh kepada Yuna dan tersenyum, dia melambaikan tangannya seolah sedang memanggil Yuna untuk datang menghampirinya


saat posisi Yuna sudah berada di dekatnya wanita itu langsung memeluk Yuna dan berkata bahwa dia sangat merindukan putrinya itu. Brian hanya terdiam dan menahan tangis karena sudah dari lama ibunya merindukan Yuna


Yuna langsung minta maaf karena tidak segera datang menemui ibu dan papanya, namun wanita itu menggeleng sambil terus menangis memeluk Yuna


"ini bukan salahmu, seharusnya ibu berobat lebih cepat ke psikiater agar bisa hidup normal dan menjagamu layaknya seorang ibu"


Yuna menangis lebih keras di dalam pelukan ibunya yang sepertinya sudah mulai membaik kondisi mentalnya


daripada keadaan Farel yang ketiduran hingga malam hari, dia kaget karena jam sudah menunjukkan jam 06.00 sore sedangkan dia masih belum mandi dan bersiap-siap, dengan tubuh yang masih belum sembuh sepenuhnya dia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, jam 06.30 ada seorang pelayan yang menutup pintu kamarnya, ternyata pelayan itu membawakan beberapa pakaian untuk pria kenakan malam itu


selamat bersiap Farel langsung keluar dan dipandu oleh seorang pelayan yang tadi memberikannya baju untuk pergi ke ruang makan, di sana sudah ada Yuna, Brian dan seorang wanita yang ternyata adalah Camelia ibu Yuna


Farel merasa gugup karena ini kali pertamanya dia harus bertemu dengan kedua calon mertuanya, dia berbicara dengan hati-hati karena takut membuat kesan yang buruk untuk pertemuan pertama ini, walaupun sebenarnya dia sudah pernah bertemu dengan Brian


Untung saja Brian langsung mengambil alih suasana, dia menceritakan betapa hebatnya Farel saat mengorbankan dirinya untuk melindungi Yuna, Camelia langsung memuji hal itu, dia juga mengatakan bahwa Farel adalah pria yang tangguh serta romantis

__ADS_1


Yuna hanya tersenyum malu, dia juga merasa bahagia karena kesan pertama kekasihnya di depan orang tuanya sangatlah baik, sesekali dia berdiri ke arah Farel sambil melebarkan senyumnya


__ADS_2