
"aku tak tau soal kalian, yang ku tau kamu sedang membantu wanita itu dan beberapa saat setelahnya Ravin keluar rumah juga dan mengejar kalian... aku melihat kamu menyembunyikan gadis itu di belakang tong sampah dan saat Ravin datang kamu seolah sedang mengejarnya juga dan memberikan petunjuk yang salah" jelas Ira pada Ringgo
Ringgo diam untuk beberapa saat, dia bimbang apakah akan menceritakan cerita yang sebenarnya atau tidak. hingga dia memutuskan untuk bercerita agar masih ada orang yang tau tentang kebenaran itu, setidaknya jika terjadi sesuatu pada Ringgo, Ringgo bisa pergi dengan tenang
" aku takut sesuatu terjadi padaku jadi aku akan ceritakan detailnya"
perlu waktu yang lama hingga Ringgo selesai menceritakan itu. Ira sangat terkejut akan hal itu tapi dia tak bisa berkomentar banyak, Ringgo hanya meminta agar dia membantu Yuna untuk menghadapi Ravin karena sekarang Ravin telah tak memperdulikan perusahaan dan dia tidak terkendali lagi
"sudah ya, aku mau pulang dan istirahat, sampai bertemu lagi kawan lama" Ringgo meninggalkan Bu Ira begitu saja
sebenarnya Bu Ira merasa khawatir tapi dia tak bisa melewati batasnya, dia hanya bisa membantu Ringgo dari belakang seperti saat Ira membantu Ringgo saat SMA dulu
Ira menelfon Romeo dan meminta untuk menjemputnya di dekat pantai. Romeo menyetujuinya dan segera bergegas
Di tempat lain Farel sedang sibuk dengan laptop dan beberapa dokumen, beberapa kali Farel mengacak rambutnya karena frustasi, sepertinya dia memaksakan diri untuk fokus walaupun kondisinya tidak memungkinkan untuk fokus
Tiba tiba Yuna mengagetkan Farel dengan bertanya sedang apakah Farel sampai seserius itu
"astaga" ucap Farel sambil terkejut
Yuna yang melihat itu hanya tertawa kecil. dia baru saja siuman tapi sudah jail pada Farel. tanpa menunggu lama Farel langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Yuna.
"sayang.... akhirnya kamu sadar, aku sudah tak tahan menunggumu siuman" tampak jelas jika Farel amat frustasi dengan keadaan saat ini.
" memang aku kenapa? aku pingsan berapa lama hingga membuatmu sangat khawatir?" tanya Yuna dengan polos
"oh iya tekan bel dulu agar suster tau kamu siuman, kamu koma hampir satu minggu sayang" Farel lantas memencet bel untuk mengabari suster
Yuna tak percaya kalau dia sudah hampir seminggu tak siuman. Namun jika di rasa rasa tubuhnya memang merasa kebas semua, mungkin karena dia tidur terlalu lama
seorang dokter masuk dan memeriksa kondisi Yuna, beliau mengatakan bahwa kondisi Yuna sudah membaik namun harus tetas istirahat total dulu, dokter juga menganjurkan agar Yuna belajar makan dan bergerak secara perlahan agar tubuhnya bisa beradaptasi dengan baik
__ADS_1
Yuna mengiyakan itu hingga dokter berpamitan dan meninggalkan mereka berdua lagi, Yuna bertanya bagaimana soal pernikahan mereka, apa akan di undur atau tidak, Yuna berharap acara itu tidak di undur toh sekarang Yuna sudah siuman
Farel memastikan bahwa acaranya akan tetap di gelar walaupun harus di lakukan di rumah sakit jga tidak apa apa
keduanya saling menatap dan Farel berjanji akan lebih memperhatikan Yuna, dia merasa gagal lagi karena Yuna harus sampai di rawat seperti ini
"bukan salahmu yank, kita kan tidak mau ini terjadi. "
Farel terbawa suasana dan hendak mencium bibir Yuna namun Yuna langsung reflek menutup mulutnya
"kenapa?"
"aku baru siuman dan belum gosok gigi selama hampir seminggu, jadi jangan mendekat, aku juga kecut" ucap Yuna sambil tetap waspada
Farel langsung memeluk Yuna dan berdiam diri untuk sejenak
"aku sebenarnya tidak peduli akan hal itu tapi jika itu maumu ya aku akan turuti, biarkan aku di pelukanmu untuk sementara, aku sangat sangat merindukanmu" ujar Farel
kembali pada Romeo dan Bu Ira yang sudah tiba di apartemen Bu Ira. mereka sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman di balkon, keduanya menikmati keindahan malam, laut yang berada di dekat apartemen itu juga terlihat dari sana
"iya, kenapa kamu di pantai itu malam malam, kamu sepertinya habis duduk di pasir"
"iya, aku duduk di sana bersama teman lamaku, hidupnya benar benar malang"
Romeo menoleh pada kekasihnya itu, dia tau Ira menyimpan cerita yang cukup menguras emosinya, tampak jelas bahwa Ira menyimpan kekhawatiran pada hal yang dia simpan sendiri itu
Romeo menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik untuk Ira, dia janji tak akan berkomentar jika Ira tak memintanya
"kamu tau Ringgo anak kakek Aron? dia adalah teman SMA ku, dan dia punya masalah dengan istrinya"
"aku tau soal masalahnya dengan Ravin dan istrinya, aku yang mencari tau soal itu dan mengetahui itu dari lama"
__ADS_1
Ira mengangguk, dia juga tidak heran apabila Romeo mengetahui itu, karena tadi Ringgo mengatakan bahwa informasi mengenai masalah Novita dan Ravin dia dapatkan dari Kakek Aron, dan siapa lagi kl bukan Romeo yang menjadi orang kepercayaan Kakek Aron
"apa hanya itu masalahnya" tanya Romeo pada Ira
Ira menggeleng dan mulai bercerita
" saat itu aku masih sangat muda, aku tidak tau harus melakukan apa di situasi malam itu. aku ingat betul kalau saat itu gerimis dan aku berlari dari supermarket yang agak jauh jaraknya dari rumah. Aku melihat seorang gadis dengan luka dan darah di bajunya, dia berusaha keluar dari pintu rumahnya, lali ada seorang anak laki laki yang membukakannya pintu dari dalam juga, mereka berdua berlari menembus grimis, dan aku yang masih anak SMP itu mengikuti mereka tanpa sadar" Ira berhenti dan menunggu respon Romeo
"apa anak lagi laki itu yang melukai gadis itu?" tanya Romeo penasaran
Ira menggeleng dan melanjutkan ceritanya
"anak laki laki itu terus menyeret gadis itu dan menyembunyikannya di belakang tong sampah, hingga kemudian seorang anak laki laki lain yang berpostur lebih dewasa dari keduanya datang, dia membawa pisau dan menanyakan kemana gadis bernama Dora itu pergi, Dora adalah gadis yang bersembunyi di belakang tong sampah, dan anak laki laki yang tadi memberi petunjuk yang salah pada anak remaja itu"
" jadi anak laki laki itu membantu anak gadis dari remaja psikopat itu?" tanya Romeo
" ya begitulah, aku panik dan keluar dari tempatku bersembunyi, Ku langsung membopong gadis itu dan membawanya ke toilet umum dekat sana, aku juga menelfon polisi, rasanya jantungku mau meledak saking takutnya, gadis itu bilang bahwa kakaknya mau membunuhnya dan luka luka sayatan itu adalah kakaknya, dan bisa di pastikan bahwa remaja pemegang pisau itulah kakaknya, lalu dia juga bilang kalau adiknya yang selama ini menurut pada kakaknya secara diam diam sering membantunya, dia bilang adiknya tak bisa lepas dari sang kakak itulah sebabnya sang adik hanya bisa menurut dan membantu sebisanya"
"apa kamu di teror oleh remaja itu sekarang"
"tentu tidak sayang, mereka kan tidak tau kalau aku yang membantu gadis itu, pokoknya gadis itu ciri cirinya memakai kaki palsu dan warna rambutnya kecoklatan seperti punya Yuna kalau tidak salah"
" temanmu itu Ringgo ya" ucap Romeo langsung bisa menebak
"kok tau? kamu juga tau soal informasi ini?"
Romeo menggeleng
"karena ciri ciri yang kamu sebutkan tentang wanita itu adalah ciri ciri ibunya Yuna "
"tidak mungkin, ibunya yuna kan Camelia "
__ADS_1
"iya namanya memang Dora Sandita Camelia"
"jadi remaja laki laki itu" ucap Ira sambil menutup mulutnya kaget