
setelah acara makan malam selesai, Yuna dan Farel memilih untuk berada di dekat kolam sembari mengobrol berdua. Yuna mengucapkan terima kasih atas semua yang sekarang telah lakukan untuk Yuna
"terima kasih untuk malam ini, terima kasih untuk kemarin, terima kasih untuk semuanya, terima kasih telah hadir di sisiku yang penuh dengan kekurangan ini" Yuna tampak berkaca-kaca, dia sadar sebegitu kerasnya usaha Farel untuk bisa berada di dekatnya
"kenapa harus bilang terima kasih, bukankah memang seharusnya aku menjagamu seperti sekarang" Farel menatap Yuna dengan intens
Untuk beberapa saat mereka saling memandang, terlihat jelas cinta dan kekhawatiran di antara keduanya.
Yuna tahu bahwa hidupnya penuh dengan bahaya, semua yang dia miliki tak sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Farel padanya. Jika ini adalah tentang harta maka mungkin tanpa Yuna pun kalian bisa menjadi orang yang besar, tak ada alasan selain cinta yang bisa membuat Farel bertahan dan berkorban sejauh ini untuk Yuna
Farel pun banyak berpikir saat itu, dia merasa bahwa tanpa Yuna mungkin Farel akan tetap berada di masa yang nyaman dan tidak pernah mau maju lagi, hanya Yuna yang bisa membuatnya bangkit bahkan berjuang mati-matian untuk mempertahankan sesuatu. Mungkin jika itu bukan Yuna Farel akan menyerah dan meninggalkan tempat kerjanya saat ini
"aku takut kehilangan kamu, jadi jangan pernah melakukan hal yang bodoh seperti kemarin, jikalaupun harus ada yang terluka di antara kita, biarkan aku yang terluka karena memang hidupku lah yang bermasalah bukan kamu" Yuna jelas masih memikirkan kejadian kemarin, di mana Farel membiarkan tubuhnya dipukuli berkali-kali hanya untuk mengulur waktu hingga papa Brian datang.
Tak ada keterangan yang bisa dicapai jika mengingat kejadian kemarin, tubuh orang yang sangat ia cintai harus dipukul dan berdarah-darah tepat di depan matanya sendiri. Hati mana yang takkan bergetar bila tahu musibah sebesar itu terjadi karena dirinya sendiri
"Yuna aku sudah memikirkan masak-masak apa yang kulakukan kemarin, aku tahu bahwa itu adalah solusi terbaik di antara kita, coba bayangkan apabila kamu terluka mungkin aku akan bermandikan dendam dan juga amarah. Apa kamu mau aku menderita seumur hidup karena melihatmu terluka di saat aku yang sebenarnya bisa menolongmu?" ucap Farel dengan lembut
Sebenarnya Yuna bisa menyanggah dan beradu argumen dengan Farel namun dia tidak ingin melanjutkan percakapan yang menguras emosi seperti itu.
__ADS_1
Yuna memeluk Farel dengan, Siti air matanya jatuh mengalir di kemeja Farel, Yuna benar-benar takut apabila seseorang yang saat ini sangat mencintainya itu pergi meninggalkannya
Farel menggenggam tangan Yuna dengan erat sembari membalas pelukan dari Yuna. setelah itu mereka berciuman dengan mesra dan hangat
Disisi lain orang tua Yuna mengintip mereka dari jendela kamar yang ada diatas kolam renang, Keduanya senyum senyum sambil menggosipkan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu
"apa Farel adalah orang yang pantas untuk Yuna pa?" tanya Camelia pada Brian
"kurasa dia adalah orang yang sangat tepat untuk Yuna, iya bisa berambisi dengan harta apabila ada Yuna di dekatnya, aku sudah cukup menyelidiki masa lalunya, dia adalah anak yang cerdas namun sayang masa lalunya membuatnya trauma dan tidak berkembang lagi, tapi perlahan namun pasti dia kembali bangkit hanya untuk melindungi Yuna dan teman-teman yang ia sayangi saat ini" terang Brian pada istrinya
"dia punya sahabat, apakah sahabatnya juga sahabat Yuna" Camelia tidak pernah memiliki seorang pun teman, dia khawatir apabila teman Farel bukanlah teman Yuna, dia takut Yuna ditelantarkan saat Farel tengah asik bersama kawan-kawannya
"lalu apa yang membuat Yuna mengalami kesulitan sampai sejauh ini"
sebenarnya Brian tidak ingin menjelaskan apa penyebab kesusahan yang dialami Yuna selama ini, namun dia tahu bahwa istrinya akan terus bertanya dan akan kecewa apabila Brian tidak jujur padanya
Brian menjelaskan bahwa dua pamannya membuat masalah di perusahaan, dan tentu saja itu hanya untuk mengusik Yuna, dia menceritakan bahwa kakek Aron memberikan seluruh hartanya kepada Yuna sehingga membuat paman-pamannya iri dan mencoba untuk menyingkirkan Yuna
Camelia sangat khawatir soal itu, dia meminta berlian untuk menarik Yuna dan memberikan posisi yang sama pada Yuna di perusahaan Brian saja. Namun Brian juga menjelaskan bahwa Yuna tidak ingin melepaskan jabatan itu dan akan bertahan di perusahaan G&J
__ADS_1
"ini bukan hanya soal urusan jabatan atau harta, Yuna memiliki tekad yang kuat untuk bertahan di sana agar paman pamannya tidak lagi meremehkannya dan tidak mengganggu dirinya lagi"
Mendengar penjelasan itu Camelia berharap agar Yuna tidak membuat urusan dengan Ravin ataupun Ringgo, tapi kamera juga tahu bahwa dia tidak bisa seenaknya melarang Yuna, dia hanya bisa memohon pada Brian untuk terus menjaga Yuna walaupun itu harus dari jarak yang jauh
"itu sudah pasti sayang, aku akan menjaga anak kita" Brian sepertinya adalah orang yang sangat lembut dan perhatian hingga dia bisa berbicara semanis itu pada istrinya
setelah hari mulai larut terlihat Yuna dan Farel masuk ke dalam rumah untuk istirahat, Yuna menawarkan agar mereka berdua sekamar saja namun Farel menolak karena dia takut melewati batasnya kali ini
Yuna hanya tersenyum mendengar jawaban polos dari kekasihnya itu, dia langsung mengantar Farel ke kamarnya dan memastikan Farel tidur dengan benar karena luka di tubuh karena memang masih terlihat jelas dan pasti masih terasa sakit juga
Sebelum meninggalkan Farel, Yuna memberikan kecupan hangat pada kekasihnya itu, awalnya kecupan itu hanyalah kecupan biasa tapi lama-kelamaan mereka saling ******* dan menikmati ciuman dalam waktu yang agak lama
Farel mencoba menyadarkan dirinya dan menghentikan ciuman itu, dia tidak ingin berbuat lebih saat belum memiliki ikatan pernikahan dengan Yuna
"sudah cepat tidur kau benar-benar menakutkan malam ini, jangan harap bisa menggodaku ya, aku akan menjagamu sampai kita masuk ke dalam jenjang pernikahan, cepat sana tidur dasar anak nakal" ucapkan sambil menarik selimutnya dan membelakangi Yuna
"ya iya....,, selamat tidur anak baik, besok kita sarapan bersama lagi ya, aku mencintaimu" ucap Yuna sembari menepuk pundak, tampak jelas senyum manis merekah di bibir Yuna
Yuna keluar dari kamar Farel dan langsung menuju kamarnya, di jalan dia bertemu dengan papa Brian, Brian lantas mengajak Yuna untuk berbicara sebentar di ruang makan. Sepertinya itu adalah hal yang cukup penting karena wajah Brian sangat serius
__ADS_1