Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Kata bijak?


__ADS_3

Terkadang, apa yang kamu inginkan berjalan tak sesuai dengan harapan. Batu sandungan datang silih berganti menguji kekuatan mental. Namun bukan berarti semua masalah itu membuatmu lemah. Menjadi dewasa adalah salah satu jalan tengah. Meski terdengar mudah, bersikap dewasa ternyata tidak mudah.


Singkirkan rasa putus asa. Selama kita masih bernapas, bersyukurlah, Tuhan masih memberi kesempatan dan waktu untuk terus berusaha.


''Kamu beneran mau resign, Sha?'' tanya Naya.


''Hm.'' jawab Daisha sambil mengunyah bubur ayam di mulutnya.


''Apa udah kamu pikirkan matang-matang keputusan ini?''


''Iya, lagian sebentar lagi kuliahku juga selesai. Jadi udah nggak begitu terlalu membutuhkan biaya besar.''


''Kok aneh ya? Seperti bukan Daisha yang selama ini aku kenal gitu.'' ucap Naya.


''Mau kenalan lagi?'' canda Daisha mengulurkan tangan kanannya.


''Apa sih, garing!''


''Terus apa langkah kamu ke depannya? Cari kerja itu nggak mudah lho, Sha.''


''Iya, aku tahu. Aku juga udah masukin beberapa lamaran kok.''


''Saran aku, mendingan kamu resign kalau udah beneran dapat kerjaan baru. Jadi, nggak bingung mikirin duit.'' kelakar Naya.


''Ngomongin duit mah nggak akan ada habisnya. Ibarat kata, menggapai dunia itu kayak makan kuaci, kenyangnya minimal tapi lelahnya maksimal.” ucap Daisha.


Daisha dan Naya baru saja menghabiskan semangkuk bubur ayam dan secangkir teh hangat di pinggir taman kota yang rimbun dan asri. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, suasana taman cukup ramai. Banyak di antara mereka yang menghabiskan waktu paginya untuk berolah raga di taman itu. Dan beberapa yang lainnnya datang untuk menghabiskan waktunya untuk sekedar bermain, bercengkrama, dan juga cuci mata. Banyak pula yang datang ke taman kota itu untuk sekedar mengisi perut dengan menikmati jajanan-jajanan yang dijajakan di sana.


''Kalau kamu resign, pengeluaranku jadi makin banyak dong.''


''Kenapa gitu?''


''Ya aku kan jadi harus nyiapin dana khusus buat ongkos jalan. Hilang sudah ojek langganan kesayanganku.'' ujar Naya.


''Sial*n. Makanya jangan boros-boros jadi cewek. Kalau mau lebih hemat lagi, jalan kaki dah tuh tiap pulang pergi kantor, hematnya dapat, sehatnya juga dapat.'' kelakar Daisha.


''Yang ada mah sekarat, bukan sehat!'' jawab Naya memanyunkan bibirnya.


''Eh, Sha. Beneran kan kamu nggak ada masalah apa-apa di kantor? Atau jangan-jangan kamu di pecat?''


''Enggak Naya cantik.''


''Sha, aku pernah dengar sebuah kata-kata bijak. Dengerin baik-baik ya. Berjalan, jangan berlari. Sebab hidup itu perjalanan, bukan pelarian.'' ucap Naya lantang.


''Buset, tumbenan pinter.'' ucap Daisha bertepuk tangan.

__ADS_1


''Terima kasih. Terima kasih.'' jawab Naya berbunga-bunga.


''Tapi Nay, aku juga pernah denger sebuah kata-kata bijak. Dengerin ya!''


''Ada banyak cara untuk maju, tetapi hanya satu cara untuk diam." ucap Daisha.


''Sial*n!''


''Bukan karena omongan orang-orang di kantor kan Sha tentang hubungan kamu sama Pak Rendi?'' tanya Naya hati-hati.


''Memangnya ada hubungan apa aku sama Pak Rendi?'' tanya Daisha balik.


''Ya kali aja kamu jadi down dan galau gitu karena nyinyiran-nyinyiran mereka.''


''Nggak semua orang tahu apa yang sudah aku alami. Dan beberapa dari mereka bahkan merasa berhak mengomentari hidup yang aku jalani. Cukup abaikan. Karena orang lain tidak pernah berada di posisi itu, itulah mengapa mereka hanya bisa menilai dan ikut komentar asal-asalan.'' ucap Naya bak motivator handal yang sedang berorasi.


''Luar biasa! Udah kaya Mari Tangguh aja kamu.'' ucap Naya terkekeh.


''Iya, dong.''


''Sepositif itu sih kamu, Sha. Jadi makin sayang deh sama kamu.'' ucap Naya.


''Dih, amit-amit.''


Ia buka pelan-pelan sebuah berkas yang semalam ia terima dari asistennya. Dengan teliti dan hati-hati ia baca setiap rangkaian kata yang tertuang di sana.


''Oh, jadi dia mahasiswa jurusan psikologi tingkat akhir, pantas saja.'' ucap Rendi.


''Ternyata dia cukup pekerja keras juga. Baiklah, aku rasa aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk Arka.'' ucap Rendi menutup berkas di tangannya.


Rendi segera keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamar Arka untuk menemui putranya.


''Arka, papa masuk ya.''


''Kamu sedang apa?''


Arka menunjukan sebuah gambar pada Rendi.


''Gambar siapa ini?''


''Yang ini papa, Arka, dan ini mama Daisha.'' jawab Arka.


''Mama Daisha?'' tanya Rendi.


''Iya.'' ucap Arka berbinar.

__ADS_1


''Kenapa bukan mama Raline yang Arka gambar di sini? Apa Arka tidak menyayangi mama Raline?'' tanya Rendi.


''Kata mama Daisha, Arka harus sayang sama mama Raline. Dan Arka juga harus selalu mendoakan mama Raline agar bahagia di surga.'' ucap Arka apa adanya.


...ΩΩΩ...


Daisha merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya. Mereka sedang menyaksikan pertandingan bulu tangkis yang disiarkan langsung di layar kaca. Ditemani secangkir teh hijau hangat, Daisha dan ibunya asyik membicarakan banyak hal.


''Bu, besok aku akan ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah aku buat. Ibu setuju kan?''


''Ibu ikut saja apa yang dirasa baik untuk kamu, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu berhak menentukan sendiri langkahmu ke depan.''


''Makasih, ya bu. Aku sayang banget sama ibu.'' ucap Daisha mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.


''Lalu, bagaimana dengan Arka? Dia pasti sedih jika tahu kamu akan berhenti bekerja.''


''Sebenarnya aku juga sedih bu harus berpisah dari Arka. Nggak tau kenapa, aku tuh sayang banget sama anak itu. Tapi, aku harus melakukan ini, bu.'' ucap Daisha yang bangkit dari posisi tidurnya.


Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu utama.


''Siapa sih malam-malam begini bertamu ke rumah orang.'' ucap Daisha.


''Biar aku saja bu yang bukain pintunya.'' Daisha berjalan ke depan dan membukakan pintu rumahnya.


''Arka? Kenapa nangis sayang?'' tanya Daisha dan mengambil alih gendongan Arka dari tangan Rendi.


''Cup cup cup, sayang.'' Daisha mencoba menenangkan tangis Arka.


''Lho Arka kenapa nangis?'' tanya Ibu Rahayu.


''Maafkan kedatangan kami malam-malam begini mengganggu waktu istirahat ibu. Tapi Arka terus merengek ingin bertemu dengan Daisha.'' ucap Rendi.


''Ayo, masuk dulu. Di luar dingin, kasian Arka.''


''Terima kasih.''


''Arka kenapa nangis, nak?'' tanya Daisha setelah Arka berhasil menghentikan tangisnya.


''Arka mau sama mama.'' jawabnya disela nafas yang masih sesenggukan.


''Mama di sini nak, sekarang Arka jangan nangis lagi ya.''


''Maafkan kami ya bu, Arka selalu merepotkan keluarga ibu.'' ucap Rendi merasa tak enak hati.


Tatapan ibu Rahayu menjadi ikut terharu melihat kedekatan putrinya dengan anak dari atasan tempat putrinya bekerja tersebut.

__ADS_1


__ADS_2