Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Teman baru?


__ADS_3

Cuaca pagi ini cukup cerah. Daisha tersenyum riang begitu menapakkan kaki pada sebuah taman kota yang terletak tak jauh dari kediaman rumah bosnya. Ditariknya nafas perlahan, ia menghembuskan di dadanya sama pelannya saat ia menghirupnya tadi. Sesekali Daisha mencium wangi bunga-bunga mekar yang terlihat segar pagi ini. Mengumpulkan doa kepada Tuhan pemilik rejeki, agar hari-harinya selalu dimudahkan. Ia siap menyambut matahari yang sudah mulai bergerak meninggi. Berjuang dengan waktu dan masa mudanya, setelah ia resmi menyandang gelar alumni universitas X beberapa waktu lalu.


Angin berhembus dengan tenang, menyisir setiap langkah orang-orang yang sedang menikmati suasana taman. Pandangannya menerawang jauh ke arah gedung bangunan sekolah yang bercorak warna-warni dan berhias berbagai macam mainan yang khas diperuntukkan bagi anak-anak kecil bermain. Mungkinkah? Ah, semoga saja. Pikirnya.


Lamunannya seketika buyar ketika seorang anak kecil memanggil-manggil namanya.


''Mama!''


''Eh, iya sayang.''


''Mama kenapa melamun?''


''Enggak kok, mama cuma lagi lihat itu. Bagus ya?'' telunjuknya mengarah ke arah bangunan gedung sekolah di ujung taman.


''Iya, ma.''


''Arka, kamu lihat anak-anak kecil yang di sana?'' tunjuk Daisha pada sekumpulan anak-anak kecil yang sedang asyik bermain-main. Dan arah pandangan Arka pun dengan spontan mengikuti gerakan jari pengasuhnya tersebut.


''Arka mau nggak bermain bersama mereka?'' Arka pun kembali diam.


''Mau nggak?'' tanyanya sekali lagi.


''Nggak mau, Arka nggak suka sama mereka.'' jawabnya.


''Kenapa? Mereka kan teman-teman Arka. Lihat, tinggi mereka juga sama dengan Arka. Dan sepertinya mereka senang sekali bisa bermain bersama-sama. Ada yang berlari-lari dengan gembira, main perosotan, ada yang main ayunan juga. Itu mereka nampak bahagia dan tertawa semua lho.'' ucap Daisha dengan tenang.


''Tapi Arka nggak mau!''


''Padahal mama pengen banget main ke sana, Arka mau temenin mama nggak? Kita kenalan sama teman-temen itu, yuk.'' ajak Daisha.


Sejenak Arka terdiam berpikir dan terlihat bimbang dengan penawaran yang Daisha ajukan.


''Baiklah.'' jawabnya lesu.


''Nah, gitu dong. Ini baru anak papa Rendi yang hebat. Kita ke sana yuk, kita kenalan sama bu guru dan teman-teman yang lain.''


''Anak mama Daisha juga.'' jawabnya.


''Oke, ralat anak papa dan mama ya.'' ucap Daisha senang.

__ADS_1


Pagi tadi Daisha memang sengaja meminta izin pada bosnya untuk membawa Arka pergi jalan-jalan ke taman. Daisha ingin membawa Arka menikmati suasana dunia luar yang memang bagus untuk perkembangan anak seusianya. Sebenarnya, ada alasan lain mengapa Daisha membawa Arka ke taman ini, karena beberapa hari lalu, ia sudah mencari informasi mengenai sebuah sekolah TK yang dirasa cukup bagus untuk Arka kelak. Ya, Daisha berniat untuk mengenalkan Arka pada sekolah itu.


''Mama!'' ucap Arka menghentikan langkah kakinya ragu.


''Kenapa sayang?''


''Arka nggak mau.''


''Anak mama kan jagoan, kita hanya bermain-main saja di sana sayang. Kita coba kenalan dulu yuk sama mereka.'' bujuk Daisha.


''Tapi mereka jorok.''


''Enggak sayang, setelah bermain kan mereka akan cuci tangan. Jadi pasti seru, yuk.''


''Baiklah.''


Setelah beberapa kali Arka menolak ajakan Daisha, akhirnya ia mampu membawa Arka ke sekolah itu. Pertama, ia mendatangi ruang kepala sekolah dan berbincang-bincang di sana. Ia juga mengatakan semua yang terjadi pada Arka selama ini. Kemudian, ibu kepala sekolah mengajak Arka ke arena tempat bermain siswa-siswi di sana yang menyediakan berbagai macam permainan yang diberi warna yang menarik hati.


''Arka, mau coba main itu?'' tanya Daisha. Namun, Arka kembali menggeleng.


Melihat respon Arka yang masih sulit, ibu sekolah pun memanggil beberapa siswa taman kanak-kanak itu ke arah mereka.


Arka pun berjalan sedikit mundur dan berada di pelukan Daisha.


''Sayang, tenang saja.'' ucap Daisha menenangkan.


''Anak-anak, kita kedatangan teman baru, ada yang mau kenalan?'' tanya ibu kepala sekolah. Beberapa siswa di sana, berebut ingin berkenalan dengan Arka. Namun, Arka masih saja diam dan acuh.


Daisha membawa Arka ke hadapannya dan membelai lembut rambut hitamnya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Perlahan, Arka mau mengulurkan tangannya dan bergantian bersalaman bersama mereka.


''Pinter!'' puji ibu kepala sekolah.


''Arka, mereka teman-teman Arka sekarang. Mau bermain bersama mereka?'' tanya ibu kepala sekolah lagi.


Arka memandang ke arah Daisha seolah meminta sebuah persetujuan dan Daisha pun kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Arka melangkah mengikuti teman-teman barunya itu dari belakang. Ia mulai mengikuti temannya bermain perosotan dan mencoba berbagai mainan lain yang disediakan di sana.


''Pelan-pelan saja, bu. Nanti anaknya pasti mau. Kita sebagai orang tua harus selalu sabar untuk mendampinginya.'' ucap ibu kepala sekolah.

__ADS_1


''Terima kasih, bu. Jika Arka betah dan mau sekolah di sini, saya akan segera menghubungi ayahnya untuk mendaftarkan Arka sekolah di sini.'' jawab Daisha.


''Baik, bu. Kita pelan-pelan saja, kita ikuti kemauan anak dan jangan dipaksa. Kalau begitu, saya permisi dulu. Jika membutuhkan bantuan saya, saya berada di kantor yang tadi ya, bu.'' ucap ibu kepala sekolah.


''Silahkan, bu. Sekali lagi terima kasih.''


Daisha mengambil ponsel dari tas kecilnya dan mengambil beberapa gambar dan video ketika Arka bermain bersama teman-teman barunya yang kini sudah mulai nampak akrab. Beberapa kali, Daisha menangkap wajah Arka yang tersenyum senang. Kemudian, sebuah pesan ia kirimkan pada bosnya.


''Semoga ini yang terbaik untuk Arka.'' ucap Daisha dengan sedikit kelegaan di hatinya. Karena, Arka sudah mulai berani dan mau untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya itu. Daisha duduk di pinggir arena bermain untuk mengamati dan membiarkan Arka untuk bersosialisasi dengan teman-teman barunya.


Di sebuah gedung pencakar langit, Rendi baru saja menyelesaikan meeting bersama kliennya. Ia mengambil ponsel yang bergetar di saku celananya. Sebuah pesan dari pengasuh anaknya.


Ia buka pesan itu dan betapa terkejutnya ia melihat sang putra sedang bermain-main dengan anak-anak di sebuah sekolah itu.


Segera ia melakukan panggilan telefon pada Daisha.


''Hallo?''


''Iya, pak.'' jawab Daisha.


''Bagaimana mungkin Arka bisa bermain bersama anak-anak itu?''


''Seperti yang bapak lihat sendiri. Arka senang bermain bersama mereka.''


''Tunggu di sana dan kirimkan alamat sekolah itu. Saya akan segera ke sana.'' ucap Rendi dengan perasaan bahagia. Pasalnya ia tidak menyangka jika sang putra bisa berada di sana.


Setelah beberapa saat, Rendi sampai pada sebuah alamat sekolah yang Daisha kirimkan kepadanya. Ia berjalan menuju arena bermain dan mencari keberadaan putranya dan Daisha. Setelah pandangannya berhasil menangkap Arka yang sedang bermain bersama temannya, Rendi pun menemukan keberadaan Daisha yang nampak sedang tersenyum ke arah Arka. Sebuah senyum ketulusan nampak jelas di raut wajah Daisha.


''Hei!'' ucap Rendi menepuk pelan pundak Daisha.


''Eh, bapak mengagetkan saja.''


''Kenapa Arka bisa di sini?'' tanyanya.


''Bapak diem dulu deh, sini duduk di sini. Tuh, lihat Arka seneng banget bermain bersama mereka.'' ucap Daisha bahagia dan tangannya menarik pergelangan tangan Rendi untuk duduk di sebelahnya. Jarak antar mereka sangat dekat, bahkan hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter saja.


''Pak, bapak lihat kan. Saya senang banget pak Arka mau bermain bersama mereka.'' ucapnya bersemangat.


Tanpa ia sadari, sedari tadi tangannya menggenggam erat jemari sang majikan. Rendi diam memperhatikan genggaman tangannya yang kini berada di depan wajah Daisha yang nampak sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2