
Daun-daun masih basah menetesi tanah, tercium aroma segar udara pagi ini. Sisa gerimis tersapu cahaya mentari, menebar kehangatan dalam pelukan. Demikianlah cinta yang sederhana dan tanpa pamrih. Semburat cahaya menelisik melalui celah-celah ruangan yang sejak semalam terselimut napas panas yang terus saja beradu.
''Selamat pagi, istriku.'' ucap Rendi mengecup lembut kening istrinya.
Pada pagi hari yang masih berselimut kabut, Rendi kembali menyambar bibir ranum yang terus saja menggodanya, bibir mungil yang selalu membuat telinganya terasa panas karena tak pernah berhenti bicara, namun kini juga telah menjadi candu untuknya, tak lain adalah bibir milik Daisha yang belum genap dua puluh empat jam telah resmi menjadi miliknya. Bertaut, bermain, dan memutar. Mengajak lidah Daisha untuk saling berbelit sempurna. Seketika tangan Rendi masuk ke dalam perut Daisha. Menggelitik di sana dengan gerakan nakal. Merabanya dengan mesra. Sambil bibirnya masih bertaut sempurna dengan bibir milik istrinya. Setelah itu, secara perlahan jari jemarinya itu naik ke puncak d*da Daisha.
''Mas!'' lenguh Daisha begitu merdu.
''Iya, sayang.'' kembali Rendi menautkan pagutan bibir mereka sambil jemari tangannya terus bergerilya pada dua bukit sintal yang begitu menggemaskan bagi Rendi.
''Mas, aku udah mandi.'' protes Daisha namun dari suara dan sorot matanya nampak begitu menikmati setiap sentuhan yang Rendi berikan.
''One more time, baby.'' ucap Rendi dengan kabut gairah yang semakin tebal.
Rendi kembali mer*mas dan memilin dua bukit kembar milik istrinya yang kini menjadi mainan kesukaannya. Terasa aliran listrik begitu menyambar hingga ke kulit kepala ketika Rendi memainkan sesuatu aset berharga milik Daisha.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan dari balik pintu itu sedikit membuyarkan dua insan yang sedang menggebu hendak menuju puncak gair*h.
''Oh, ****!'' pekik Rendi sembari melepas cengkeramannya. Ia merasa kesal karena aktifitasnya menjajaki istrinya terganggu oleh suara ketukan pintu.
''Jangan marah dong mas. Aku lihat dulu ya, mas. Siapa tau ada hal penting.'' ucap Daisha dengan tersenyum. Jujur saja ia merasa sedikit tertolong oleh suara ketukan pintu itu. Badannya seperti remuk redam karen kelelahan melayani suaminya semalaman, apa lagi hal ini merupakan pengalaman pertama bagi Daisha. Meskipun ia merasa sangat kewalahan, namun ia juga begitu menikmatinya.
''Aku buka dulu ya pintunya.'' ucap Daisha sambil merapikan kembali pakaiannya.
''Hmm.'' jawab Rendi yang memilih berjalan menuju kamar mandi.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu itu semakin keras terdengar.
''Sebentar!'' jawab Daisha dengan segera menambah laju kecepatan langkah kakinya.
Ceklek! Pintu mulai terbuka.
''Mama! Kenapa mama lama sekali buka pintunya?'' kesal Arka dengan bibir manyun dan kedua tangan saling menyilang di dadanya.
''Eh, maaf sayang. Tadi mama baru selesai mandi.'' ucap Daisha dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
''Ayo, masuk sayang. Kamu dengan siapa ke kamar papa?'' ajak Daisha mencoba membujuk anaknya yang sepertinya sedang merajuk karena terlalu lama menunggu.
''Eyang sama oma udah nungguin mama dan papa dari tadi untuk sarapan bersama di restoran hotel. Kenapa telepon Arka tidak di angkat?'' kesal Arka.
__ADS_1
''Maaf ya sayang, mama nggak tahu.'' ucap Daisha merasa bersalah.
''Ya sudah kita turun ke bawah yuk, tapi tunggu papa kamu sebentar ya.''
Setelah itu, mereka bertiga pun berjalan menuju sebuah restoran yang merupakan fasilitas hotel tempat mereka menginap.
''Ini dia yang ditunggu dari tadi.'' ucap Naya begitu melihat kedatangan Rendi, Daisha, dan juga Arka.
''Maklum saja, pengantin baru suka lupa waktu.'' ucap ibu Rahayu terkekeh.
''Memangnya gitu ya bu kalau jadi pengantin baru?'' tanya Beni pura-pura tak mengerti.
''Lu mah sok polos, Ben!'' sahut Naya.
''Kan abang emang masih polos dan belum berpengalaman neng Naya.'' canda Beni.
''Ih, naj*s lu!'' kesal Naya.
''Sudah-sudah, kalian ini selalu saja berantem.'' sergah ibu Rahayu.
''Kenapa lama sekali sih, Sha? Mentang-mentang pengantin baru terus suka lupa waktu gitu.'' ucap Naya begitu Daisha mendudukkan dirinya pada kursi meja makan itu.
''Em, maaf ya kalian jadi nunggu lama.'' ucap Daisha merasa tak enak hati. Sedangkan Rendi hanya diam dengan gaya cool nya.
''Udah berapa ronde bos?'' tanya Beni.
''Ratusan!'' sahut Naya dengan nada sebuah iklan komersil wafer yang berlapis-lapis.
''Apa sih, kalian. Ada anak kecil nih lho sembarangan aja ngomongnya.'' jawab Daisha dengan salah tingkah.
''Ronde itu apa ma?'' tanya Arka.
''Emm, apa ya.'' Daisha merasa kebingungan menjawab pertanyaan putranya yang sangat aktif dan kritis itu.
''Ronde itu...'' belum selesai Beni mengutarakan kalimatnya, Daisha sudah memotong pembicaraan Beni.
''Stop! Jangan dilanjutkan!''
''Jangan dengerin om Beni ya sayang, dia itu kadang-kadang emang.'' ucap Daisha.
''Sudah-sudah, ayo kita mulai saja sarapannya.'' kata mommy Marina menengahi.
''Iya.''
__ADS_1
''Oh iya, setelah ini ibu dan mommy kamu akan pulang ke rumah. Kalau kamu dan nak Rendi masih ingin tinggal di sini, biar Arka ikut ibu pulang ke rumah ya.'' ucap ibu Rahayu.
''No! Arka maunya sama mama dan papa.'' protes Arka.
''Rasain lu bos!'' canda Beni dengan terkekeh.
Rendi pun menatap tajam pada asisten yang menyebalkan itu.
''Untung saja kerjamu bagus!'' ucap Rendi dingin.
''Hahahaha bercanda bos.''
''Ben, kamu nanti antar ibu dan mommy ya.'' perintah Rendi.
''Sendiko dawuh, bos.''
Kemudian mereka pun melanjutkan sarapan dengan berbagai candaan yang tak lepas dari topik humor pengantin baru.
''Setelah ini kalian akan jadi pindah rumah?'' tanya tante Maya.
''Iya, tante. Rumahnya juga sudah selesai di bersihkan dan barang-barang kami juga sudah dibereskan dan di bawa ke sana.'' jawab Rendi dengan meletakan sendok dan garpunya pada piringnya yang sudah kosong.
''Kalau kalian jadi pindah, pasti rumah akan jadi terasa sepi nanti.''
''Kami akan sering berkunjung nanti.'' jawab Rendi kembali.
''Iya tante, maaf ya tante kami harus pergi. Daisha hanya mengikuti kemanapun suami Daisha berada. Seperti yang mas Rendi bilang, kami pasti akan sering berkunjung ke rumah.'' ucap Daisha kembali tak enak hati.
''Baiklah, tante mengerti. Semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu diberikan keberkahan ya.'' ucap tante Maya dengan tersenyum.
''Aamiin, terima kasih tante.'' ucap Daisha dan juga ikut di aminkan oleh semua orang.
''Duh, so sweet banget sih. Jadi pengen nikah juga deh kalau gini.'' celetuk Naya yang merasa terbawa akan suasana.
''Ya udah yuk, Nay!'' ajak Beni.
''Kemana?'' tanya Naya.
''Katanya kamu mau nikah, ya sudah ayo kita ke KUA sekarang.'' ucap Beni.
''Apa sih, lu Ben!''
''Ciyeee, kode keras tuh Nay.'' goda Daisha.
__ADS_1
''Bodo!''