Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Anak senja


__ADS_3

Tertawa dengan mereka yang memahami kita adalah musik untuk jiwa. Sebuah pelukan di saat yang tepat dan bahu yang baik untuk bersandar, adalah taburan sihir yang membuat kita terus berjalan menuju sebuah harapan. Sebuah pelukan adalah bahasa yang tidak dapat dituangkan dalam kata-kata.


Daisha sedikit mengesampingkan tujuan utamanya masuk ke ruangan bosnya itu. Karena, sedari tadi Arka menangis di pelukannya. Setelah Daisha berhasil menghentikan tangis Arka, kini anak lelaki kecil itu tengah tertidur pulas di pangkuannya. Belain lembut tangan Daisha, semakin membuai anak lelaki itu dalam tidur yang begitu damai dan menenangkan. Sungguh suatu pemandangan yang kembali mendebarkan dan mengguncang sanubari seorang Rendi Atmaja. Ia kembali merasa dilema dengan keadaaan yang terjadi. Antara mengikuti kemauan sang putra untuk menjadikan Daisha selalu berada di dekatnya atau tetap kekeh pada pendirian dan egonya.


Suasana mendadak menjadi canggung. Hanya suara denting detik pada jam di dinding yang seolah berani bersuara. Rendi kembali fokus pada layar leptopnya dan sesekali ia menatap jarum jam di pergelangan tangannya. Merasa tak tahan dengan kebisuan yang ada, Daisha pun mencoba merangkai suara.


''Pak Rendi, sebentar lagi jam pulang kerja. Bagaimana dengan pekerjaan saya?'' tanya Daisha yang masih terduduk di sofa dan Arka berada dalam pangkuannya.


''Kamu boleh pergi sekarang.''


''Baik, pak.''


Daisha mencoba memindahkan kepala Arka pada sebuah bantal persegi kecil, namun percobaannya lagi-lagi gagal. Arka semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Daisha.


''Pak?''


''Biar saya gendong saja dan bawa ke mobil, tunggu sebentar.'' ucap Rendi sambil membereskan berkas-berkas di mejanya.


Dengan perlahan Rendi mencoba mengambil alih tubuh sang putra dari pengakuan Daisha. Rendi sedikit berjongkok di hadapan Daisha. Sebelah tangannya mencoba merengkuh kepala putranya dan sebelahnya lagi mengangkat tubuh Arka yang begitu nyaman dalam dekapan Daisha. Tanpa mereka sadari, kini tubuh mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. Hingga hembusan nafas diantara mereka pun saling beradu.


Untuk beberapa saat, mata mereka berada dalam satu tatapan yang sama. Sejenak pandangan mereka beradu. Rendi menatap lekat manik mata Daisha. Memindai wajahnya untuk beberapa saat. Tak sanggup berlama-lama memandangi, Daisha pun sedikit memalingkan wajahnya.


''Ehem.'' Rendi melepas kembali tangannya.


''Biar saya saja pak yang menggendong Arka ke mobil. Kita tunggu setelah jam kantor selesai agar tidak banyak karyawan lain yang melihat, dan bapak akan merasa lebih nyaman.'' ucap Daisha sedikit salah tingkah.


''Ya, begitu lebih baik.''


Selama menunggu jam kantor selesai, selama itu pula hanya keheningan yang tercipta. Diantara mereka tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Daisha kini tengah asyik dengan ponselnya dan Rendi kembali fokus pada berkas-berkas di mejanya.


Pukul lima sore lebih lima belas menit, setelah kantor dirasa mulai sepi Daisha segera menggendong Arka menuju mobil bosnya itu terparkir. Kemudian ia menidurkan Arka pada bangku belakang. Segera Rendi melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan kantor. Setelah itu, Daisha pun kembali masuk ke dalam kantor untuk mengambil tas dan baju gantinya di loker.


''Oh, jadi ini wanita ****** yang berani menggoda Pak Rendi?'' ucap seorang perempuan pada temannya yang mengenakan setelan kerja dengan rok mini dan rambutnya yang begitu panjang dan sangat lurus bak jalan tol. Dari penampilannya Daisha bisa menebak jika mereka adalah salah satu karyawan dari bagian divisi di lantai atas.

__ADS_1


''Bagaimana mungkin seorang CEO tampan mau dengan pegawai rendahan seperti dia kalau nggak dengan menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma?'' ucap perempuan dengan rambut blonde itu dengan begitu sinis.


''Selera Pak Rendi itu perempuan kelas atas, mana mungkin Pak Rendi mau sama perempuan rendahan kaya dia. Hahaha.'' ucap perempuan tadi dengan tawa yang merendahkan.


Daisha mencoba untuk tetap tenang dan mengabaikannya.


''Sekali ****** tetap saja ******! Gila ya perempuan jaman sekarang, menghalalkan berbagai cara hanya demi uang. Murahan!'' ucap mereka dengan tawa terbahak-bahak.


Berbagai sindiran dan hinaan Daisha coba acuhkan, namun kini ucapan dan hinaan mereka sudah sangat keterlaluan. Maka habis sudah batas kesabarannya. Daisha melangkah mendekati dua perempuan tadi, dengan langkah cepat Daisha mencekal dan memelintingkan salah satu tangan perempuan dengan rambut panjang lurus tadi ke belakang.


''Aw! Sakit! Gila ya loe!'' teriak perempuan itu kesakitan.


''Lepasin temen gue!''


''Berani sekali lagi kalian fitnah dan ngomong macem-macem tentang aku, habis kalian!'' Daisha menghempaskan tangan itu dengan keras dan beranjak pergi.


''Sialan! Awas ya loe!'' maki perempuan tadi dengan kesakitan.


Daisha berjalan menuju parkiran dengan perasaan yang begitu dongkol. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran dua perempuan yang ia temui tadi, yang dengan mudahnya menuduh ia seperti itu.


''Sha!'' panggil Naya kembali.


''Apa!'' jawab Daisha ketus.


''Ada apa sih? Ditanya baik-baik jawabnya galak banget.''


''Udah yuk, pulang sekarang. Keburu malam.'' jawab Daisha.


''Nggak mau cerita dulu nih, gimana rasanya membersihkan ruangan pak bos? Kamu itu beruntung tau Sha, banyak dari kita yang pengen bisa bersihin ruangan Pak Rendi.'' ucap Naya.


''Kenapa memangnya?''


''Ya biar bisa mengagumi wajah Pak Rendi dari deket dong. Secara, ganteng banget gitu.'' jawab Naya.

__ADS_1


''Ganteng tapi nyebelin gitu, ya sama aja.''


''Bener-bener duren sawit.''


''Apaan duren sawit?''


''Duda keren sarang duit.'' jawab Naya terkekeh.


''Sekalian aja, duren sawit mateng.''


''Artinya?''


''Duda keren sarang duit manis dan ganteng.'' jawab Daisha.


Sepanjang jalan pulang, banyak obrolan-obrolan kocak yang mereka lontarkan. Gelak dan tawa pun mewarnai laju motor yang Daisha kemudikan di tengah padatnya arus lalu lintas.


''Aku heran deh, Sha. Kok bisa ya anaknya Pak Rendi lengket banget sama kamu?''


''Ya mana aku tahu.'' jawab Daisha acuh.


''Kalau di lihat-lihat kalian cocok dan serasi deh, vibes nya tuh udah kaya keluarga kecil yang bahagia gitu.''


''Udah ngehalunya?'' tanya Daisha jengah.


''Diem atau aku turunin di sini.''


''Bercandanya nggak asik ah.'' jawab Naya.


''Makanya diam dan anteng. Ganggu konsentrasi aja.''


Sebuah mobil mewah memasuki pelataran kompleks hunian elit di tepi kota. Mobil Rendi telah sampai di garasi rumahnya dan Arka masih tertidur dengan begitu lelap. Sepertinya putranya itu nampak sangat kelelahan. Rendi menggendong tubuh putranya menuju kamar. Setelah itu ia kembali turun ke mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Saat ia hendak mengambil ponselnya yang terselip pada jok mobil, ia menemukan sebuah pesawat kertas yang sudah tidak berbentuk rapi. Ia buka kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.


''Semoga kebahagian selalu bersama Arka.'' Rendi membaca tulisan itu dengan seksama. Segera ia menghubungi seseorang dari ponselnya.

__ADS_1


''Segera cari tahu informasi tentang karyawan yang bernama Daisha dari bagian kebersihan. Kabarkan informasi secara detail dan jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!''


__ADS_2