Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Teman sepermainan


__ADS_3

Suasana kediaman rumah Ibu Rahayu sore ini nampak begitu ramai, beberapa karyawan yang biasanya membantu Ibu Rahayu menyiapkan pesanan para pelanggan pun masih betah duduk bersantai di sebuah gubuk yang belum lama didirikan di dekat pohon Kersen. Semenjak Daisha bekerja menjadi pengasuh Arka, sebagian penghasilannya ia gunakan untuk merenovasi rumah peninggalan ayahnya tersebut agar lebih layak dan nyaman untuk ibunya tempati. Diam-diam tanpa sepengetahuan Daisha, beberapa waktu lalu Rendi juga membuatkan dapur khusus di samping rumah ibu Rahayu untuk membantu memudahkan ibu Rahayu dan beberapa karyawannya ketika sedang memasak berbagai menu makanan pesanan pelanggan dalam jumlah yang cukup besar.


''Eh, ada mas Beni sama mbak Naya datang.'' sapa Mirna.


''Baru pulang kerja, mas?'' sapa Desi.


''Iya.'' jawab Beni.


''Kok belum pulang kalian?'' tanya Naya.


''Belum, mbak. Ngadem dulu di sini.'' jawab Desi.


''Si Ujang kemana?'' tanya Beni.


''Udah pulang duluan mas. Tadi pagi kan dia berangkat sebelum subuh.'' jawab Mirna.


''Oh iya, nih ada es cendol buat kalian. Diminum ya.'' ucap Naya menyerahkan sebuah bungkusan kantong plastik berwarna putih.


''Makasih, mbak Naya. Sering-sering, ya mbak!'' canda Desi.


''Kita masuk dulu ya ke dalam.'' pamit Naya.


Mendengar suara berisik dari arah luar rumah, ibu Rahayu segera berjalan menuju ke halaman depan.


''Wah, ternyata ibu kedatangan tamu orang-orang penting rupanya. Tumben ini anak-anak ibu mau mengunjungi ibu. Ibu kira setelah kalian sukses jadi melupakan ibu begitu saja.'' canda ibu Rahayu menyambut kedatangan Beni dan Naya.


''Ibu ngomongnya jangan gitu deh. Bercanda mulu nih.'' jawab Naya sembari mencium tangan ibu Rahayu begitu pula dengan Beni.


''Bu, ibu udah masak apa hari ini?'' tanya Beni to the point.


''Ben, malu-maluin aja sih lu! Basa basi dulu kan bisa! Datang-datang langsung minta makan.'' sambung Naya.


''Ya gimana ya bu, pulang kerja tuh capek, bu. Lapar dan haus juga. Terus ibu tau sendiri kan, kalau abang Beni yang tampan ini masih single alias bujangan, jadi belum ada yang nyiapin makanan dan menyambut dengan segelas kopi panas ketika pulang kerja.'' ucap Beni


''Kode tuh, Nay!'' goda ibu Rahayu.


''Ibu apaan sih. Kayak nggak ada cowok lain aja bu!'' protes Naya.


''Hahaha.. Kalian ini ada-ada saja. Ya sudah ayo masuk ke dalam. Ibu sudah siapkan makanan khusus untuk kalian.''


''Asiap bu. Dengan senang hati.'' jawab Beni senang.


Beni dan Naya begitu menikmati masakan ibu Rahayu yang terkenal lezat dan bikin nagih. Saat mereka sedang duduk di meja makan, terdengar sebuah teriakan dari arah depan rumah.

__ADS_1


''Eyang!'' teriak Arka berlari ke dalam rumah.


''Ya Allah, cucu eyang sudah datang.'' sambut ibu Rahayu yang membawa Arka ke dalam gendongannya.


''Cucu eyang udah besar ya, sekarang? Bentar lagi sepertinya eyang udah nggak kuat kalau disuruh gendong Arka lagi.'' ucap Ibu Rahayu.


''Iya eyang, Arka kan sudah besar sekarang. Kalau Arka udah besar, Arka bisa jagain mama Daisha dari penjahat.'' jawab Arka.


''Pinternya cucu eyang!''


''Papa dan mama mana?'' tanya ibu Rahayu.


''Itu, eyang.'' tunjuk Arka.


Daisha dan Rendi berjalan menghampiri ibu Rahayu dengan membawa beberapa barang belanjaan yang cukup banyak.


''Kalian kenapa harus repot-repot bawa barang-barang sebanyak ini?'' tanya ibu Rahayu tak enak hati.


''Pak Rendi bu yang beliin ini semua. Katanya buat stok di dapur. Udah Daisha bilangan tapi tetep aja maksa buat belanja.'' ucap Daisha.


''Ya ampun nak Rendi, lagi-lagi ibu jadi ngerepotin ya.''


''Sama sekali enggak bu, malah saya senang bisa membantu ibu.'' jawab Rendi.


''Kalau begitu ayo masuk, Naya dan Beni sedang makan di dalam. Sekalian kalian juga makan, ibu udah masak banyak untuk kalian semua.'' ucap ibu Rahayu.


Gemerlap lampu warna-warni menghiasi pohon Kersen yang rindang berpadu dengan kilauan bintang di angkasa semakin menambah meriahnya suasana pesta barbeque dadakan malam itu.


''Arka, kita masuk ke dalam yuk. Udah malam sekarang waktunya Arka tidur.'' ucap Daisha melihat jam di tangan kirinya.


''Tapi Arka belum ngantuk, ma.'' jawab Arka sembari menguap.


''Tuh, udah menguap gitu. Ayo kita bobok dulu di kamar mama.'' bujuk Daisha.


''Baiklah.'' jawab Arka lesu.


Daisha segera membawa Arka menuju kamarnya dan menidurkan Arka di sana. Sepeninggal Daisha dan Arka suasana menjadi hening dan kikuk.


''Ayo dimakan daging barbequenya.'' ucap Rendi memecah keheningan.


''Baik, bos.'' jawab Beni sungkan.


''Kalian santai saja, malam ini kita adalah teman tanpa embel-embel jabatan di perusahaan.'' kata Rendi dengan santai.

__ADS_1


''Wah, Pak Rendi. Sungguh hamba tak menyangka bapak bisa ngomong seperti itu.'' ucap Daisha yang baru saja kembali setelah menidurkan Arka. Ia merasa takjub mendengar ucapan bosnya yang biasanya sangat kaku bak kanebo kering itu.


''Apa maksud kamu!'' protes Rendi.


''Peace, bos. Bercanda.'' sambung Daisha terkekeh.


Naya dan Beni pun kembali ke setelan awal dengan sikap barbar dan tak tau malu di manapun mereka berada. Mereka kembali hanyut dalam suasana yang akrab dan penuh tawa.


''Bos, denger-denger dari anak pantry mak lampir dan kawan-kawan udah dipecat ya?'' tanya Naya hati-hati.


''Mak lampir?'' ucap Rendi heran dan kemudian menganggukkan kepalanya setelah ia memahami siapa yang dimaksud oleh Naya.


''Memang patut itu mak lampir dan para pengikutnya dihempaskan dari kantor. Cuma bikin polusi suasana di kantor aja.'' ucap Naya dengan nada berapi-api.


''Selow neng! Kayaknya dendam amat kamu sama mereka?'' tanya Beni.


''Tapi bener juga sih kata Naya.'' sambung Daisha menyetujui pendapat sahabatnya itu.


''Aku heran deh, kenapa ya orang-orang seperti mereka yang minim etika dan tata krama bisa diterima kerja di perusahaan besar milik Pak Rendi?'' tanya Naya heran. Beni yang menyadari pertanyaan Naya pun menginjak kaki Naya dengan keras.


''Aduh, sakit woi!'' teriak Naya kesakitan.


''Kenapa sih, Ben. Sakit tau kaki gue! Oops!'' Naya segera menutup mulutnya dan menyadari pertanyaannya yang kebablasan.


''Maaf Pak Rendi, bukan bermaksud gitu.'' ucap Naya tak enak hati.


''Hahahaha.. Makanya disaring dulu kalau mau ngomong.'' sambung Daisha terkekeh.


''Sebenarnya sudah lama saya sering mendengar keluh kesah beberapa karyawan tentang perbuatan yang mereka lakukan, namun saya menunggu waktu yang tepat untuk memecat mereka. Tidak etis bukan, jika saya memberhentikan mereka begitu saja padahal kinerja mereka di kantor bagus.'' jelas Rendi.


''Iya juga sih, Pak.'' jawab Naya.


''Kalau ada yang melemparmu dengan batu. Lemparlah balik dengan bunga, dan jangan lupakan potnya". ucap Beni terkekeh.


''Dengerin tuh, Nay. Makanya jangan grusa-grusu, langsung lempar aja pakai pot bunga!'' kata Daisha ikut tertawa.


''Mati dong, ntar.'' ucap Naya.


''Diam seperti kupu, bergerak seperti suhu!'' sambung Beni.


''Pinter juga kamu.'' ucap Rendi.


''Asisten pak bos mah harus pinter dong.'' goda Daisha.

__ADS_1


''Makasih, bu bos atas bimbingannya selama ini. Ini semua berkat arahan dari bu bos.'' jawab Beni terkekeh.


''Sialan, kamu Ben!'' gerutu Daisha.


__ADS_2