
Desir angin malam yang berhembus pada malam itu meninggalkan jejak sebagai bukti singgah, berderit kemudian hilang meninggalkan setitik noda yang menjadi kanvas sempurna untuk jejak kenangan yang telah lalu.
Desah nafas si gadis hilang terbawa lembutnya semilir angin malam. Membelai rambut sepunggungnya yang di ikat ke atas. Sekali lagi hela nafas berat Daisha lakukan. Sementara wajahnya meratapi bagaimana air matanya yang jatuh berulang-ulang.
Genangan air di pelupuk matanya mulai meluncur saru persatu. Dadanya kian sesak, sementara helaan nafas berat masih Daisha coba pertahankan berharap tangisnya terhenti. Daisha tidak mau, ia tidak suka menangis. Namun, ia justru malah semakin terisak.
Di bawah guyuran cantiknya cahaya rembulan, Daisha menelungkup kan kepalanya demi menyembunyikan tangisnya. Jemarinya terkepal erat, pun pegangannya pada sebuket bunga yang tergenggam di jemari kirinya teremas erat. Semilirnya angin malam seolah tak mampu menyapu tangis milik Daisha. Namun, harus ia akui. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba saja berdesir di hatinya.
Tak ubahnya dengan ibu Rahayu, malam itu benar-benar menjadi malam yang tak akan terlupakan bagi mereka. Pertemuan kembali dengan seseorang yang telah pergi lama lebih dari dua puluh tahun lalu begitu mengejutkan hatinya.
Seorang perempuan berpakaian anggun berjalan dengan langkah pasti ke arah tempat duduk mereka. Ia menyapa dengan begitu hormat, santun. Ia tersenyum seraya menundukkan kepalanya anggun.
''Selamat malam. Apa kabar Mbak Rahayu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.''
''Mbak Rahayu, aku telah kembali. Aku sudah menepati janjiku pada mas Rama untuk kembali ke sini.'' ucap perempuan itu dengan bait yang dibuat seramah mungkin.
Ibu Rahayu tersentak tak percaya akan apa yang ada di depan matanya. Setelah semua berlalu sekian lamanya. Bagaimana mungkin malam ini?
Ibu Rahayu hanya diam mematung seperti kehilangan nyawa. Tenggorokannya tercekat, ia seperti kehilangan suaranya. Mendadak suasana menjadi hening.
''Halo Daisha..'' sapanya pada gadis cantik yang begitu mirip dengannya. Turut katanya begitu lembut. Garis tawanya, manik matanya, senyumannya, bahkan lurus rambutnya.
__ADS_1
Daisha yang merasa terpanggil hanya diam saja sambil menatap lekat pada wajah yang terasa tak asing untuknya. Di sebelah sana, pikirannya mulai menerka-nerka. Sapaan lembut yang terasa menjalar menghangatkan hatinya. Ia seolah begitu mengenal suara itu sudah sangat lama. Perasaan hangat yang bercampur dengan rasa tak percaya mengalir di dadanya. Ada rasa marah, kecewa, dan hangat. Sungguh sesak.
''Perkenalkan, saya Marina Mandadara.'' ucap Marina kembali dengan lembut. Sebisa mungkin Marina menahan gejolak hatinya, ia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan rasa haru sekaligus perasaan gugup yang menyeruak di hatinya. Ingin sekali ia segera meraih dan merengkuh anak perempuan di depannya. Ingin ia peluk tubuh itu dengan erat dan rasanya enggan untuk ia lepaskan sedetik pun. Namun, kembali harapan-harapan itu harus ia tahan.
''Mbak Rahayu, tidak kah mbak Rahayu ingin melepas rindu dengan saya?'' ucap Marina kembali dan menatap lekat manik mata milik ibu Rahayu.
''Kenapa kamu kembali?'' hanya itu kalimat yang terlontar dari bibir ibu Rahayu.
''Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, saya kembali untuk memenuhi janji saya pada mas Rama dan..'' Marina menjeda kalimatnya.
''Saya merasa tidak berhak dan tidak pantas untuk melanjutkan apa yang akan saya ucapkan.'' kata Marina dengan menundukkan kepalanya. Sebisa mungkin ia menyimpan agar tangisnya tidak luluh lantah.
''Daisha..'' kembali ibu Rahayu berucap.
''Iya, bu?'' jawab Daisha dengan terbata. Matanya mulai memanas, hatinya semakin terasa sesak.
''Ada yang harus kamu tahu nak. Dan, sudah seharusnya kamu tahu.'' ucap ibu Rahayu dengan suara berat.
''Apa maksud ibu?'' tanya Daisha tak mengerti. Ia tidak sanggup mendengar apa yang akan ibunya katakan.
Seketika tangis ibu Rahayu pecah. Ia tak kuasa lagi menahan rasa berat yang menggumpal di dadanya. Kilatan kisah masa lalu begitu menyayat-nyayat ingatannya. Masih jelas tergambar bagaimana sosok kecil nan mungil itu ia terima, ia jaga, ia rawat, dan ia besarkan dengan penuh limpahan cinta kasih. Dan kini, bayi mungil itu telah tumbuh dewasa. Tumbuh menjadi gadis yang sangat mempesona, baik hati dan budi pekertinya, dan menjadi sumber kebahagiaan bagi siapa saja yang mengenalnya.
__ADS_1
''Maafkan saya.'' ucap Marina lirih nyaris tak terdengar karena isak tangisnya yang mulai menggema memenuhi hening malam. Untuk menyematkan sebuah panggilan dengan kata mama pada putri kandungnya saja ia merasa sangat tak pantas. Dan sudikah kiranya putri kandungnya itu memanggilnya dengan sebutan itu?
Suasana malam yang semula hangat mendadak menjadi haru. Pertemuan kembali beberapa orang yang terpisah jarak dan waktu lama itu semakin membuat suasana malam semakin membiru. Beberapa pasang mata yang berada di sana pun kembali diam membisu. Menyaksikan drama pertemuan yang begitu membius perasaan siapa saja.
''Maafkan saya. Saya mohon maafkan saya.'' ucap Marina bersimpuh di kaki Daisha.
Buru-buru Daisha menahan dan membawa tubuh yang jatuh itu untuk berdiri kembali.
''Tante, jangan seperti ini.'' ucap Daisha kelu.
''Maafkan saya. Saya memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari kamu, tapi saya mohon maafkanlah saya.'' ucap Marina ditengah isak tangisnya.
Daisha menghela nafasnya berat. Ia tak kuasa lagi menahan rinai air matanya. Perasaannya terasa begitu bercampur baur.
Beberapa waktu lalu, semua bermula ketika Rendi tanpa sengaja menemukan sebuah benda kecil yang tertinggal di bangku mobilnya sesaat setelah mengantarkan pulang Marina ke apartemennya. Ia menemukan sebuah liontin yang sama persis dengan liontin yang Daisha kenakan. Ia pun mulai menduga-duga. Menerka-nerka dengan semua yang telah terjadi.
Bersama dengan Beni, ia mulai menyelidiki tentang liontin itu. Beberapa waktu lalu, Rendi pernah melihat Daisha memakai sebuah kalung dengan liontin yang sama persis dengan yang ia temukan kini. Sebuah liontin yang berhiaskan bunga berwarna putih bermekaran yang berjumlah lima tangkai. Persis seperti bunga yang terukir dalam sapu tangan milik Daisha. Kemudian, ia menugaskan Beni untuk menyelidiki latar belakang yang selama ini Marina kubur secara rapat-rapat dan nyari tak meninggalkan jejak. Dan ternyata sosok Marina adalah orang yang sama dengan apa yang pernah ibu Rahayu ceritakan.
Setelah melalui berbagai kesulitan dan rintangan yang ia tempuh, akhirnya Rendi berhasil menemukan titik terang akan kebenaran itu.
Tidak ada maksud lain dari apa yang ia lakukan, semua hanya demi sebuah restu. Karena restu Tuhan adalah melalui restu orang tua.
__ADS_1