Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Skenario Tuhan


__ADS_3

''Apa maksud kamu?'' tanya ibu Rahayu dengan tatapan penuh tanya.


''Sebenarnya sejak dulu ayah sudah merestui hubungan pernikahan kalian, mbak. Bahkan sebelum kalian memohon-mohon pun ayah sudah memberikan restu untuk kalian berdua. Namun, karena harga diri dan gengsi ayah yang teramat tinggi, beliau hanya diam dan mengamati kalian dari jauh.''


Semua kembali diam. Dalam hati ibu Rahayu ia merasa sangat bersyukur atas hal itu. Namun, satu hal yang sangat ia sesalkan kini adalah karena ia dan suaminya, Ramadhan belum sempat memohon ampun dan maaf pada almarhum tuan Atmaja.


''Benarkah begitu?'' tanya ibu Rahayu seakan tidak percaya.


''Iya, mbak. Itu kenyataan yang sebenarnya. Selama ini aku dan almarhum mas Pras selalu mencari keberadaan mas Rama dan mbak Rahayu, namun bak hilang ditelan bumi kalian menghilang dan tak pernah kembali. Beruntung waktu itu Rendi membawa Daisha ke rumah ini, jadi sepertinya ini skenario Tuhan untuk mempertemukan kita kembali meksipun sekarang keadaannya sudah tak sama seperti dulu lagi.'' ucap tante Maya sedih.


''Maafkan kami, Maya.'' ucap ibu Rahayu dengan tulus.


''Aku juga minta maaf mbak atas nama almarhum ayah.'' ucap tante Maya. Kini ibu Rahayu dan tante Maya pun saling berpelukan melupakan kesedihan dan kelegaan hati yang selama ini terbelenggu oleh keadaan.


''Syukurlah kalau begitu, aku merasa sedikit lega sekarang.''


''Baiklah, Daisha sayang. Akan ibu lanjutkan cerita ibu yang tadi.'' sambung ibu Rahayu.


Tanpa berniat menyela sedikitpun apa yang ingin ibunya sampaikan, Daisha hanya menganggukkan kepalanya.


''Daisha anakku, waktu itu setelah menunggu kurang lebih satu tahun usia pernikahan ayah dan ibu, Tuhan akhrinya menitipkan seorang buah hati untuk kami. Namun, rupanya itu tidak berlaku lama. Karena saat kakak kamu berusia lima bulan, kakak kamu diambil kembali oleh Tuhan ke dalam pangkuannya.'' ucap ibu Rahayu begitu meratapi nasib sedihnya.


''Jadi Daisha punya kakak bu?'' tanya Daisha.


''Iya sayang, seorang kakak laki-laki yang begitu menggemaskan dan tampan.'' terang ibu Rahayu.


''Kenapa ibu tidak pernah membawa Daisha untuk sekedar melihat pusara kakak, bu?'' tanya Daisha sedih.


''Maafkan ayah dan ibu, nak. Ini semua karena ada kaitan dengan apa yang akan ibu sampaikan kepadamu.''


''Kenapa bu? Apa yang sebenarnya terjadi?'' tanya Daisha mulai tak sabar.


''Sesaat setelah melahirkan kakak kamu, waktu itu rahim ibu juga di angkat oleh dokter karena mengalami permasalahan.'' ucap ibu Rahayu kembali mengatur ritme nafasnya.


Deg!

__ADS_1


Bagai petir di siang bolong, tubuh Daisha mendadak kaku. Apa maksud dari perkataan ibunya itu? Bukankah jika sudah tidak memiliki rahim itu artinya tidak mungkin bisa untuk kembali mengandung? Lantas dari rahim siapakah ia dilahirkan?


''Apa maksud ibu?'' tanya Daisha dengan suara yang bergetar.


''Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu.'' ibu Rahayu kembali tak kuasa menahan air matanya.


''Katakan bu! Sebenarnya Daisha ini anak siapa?'' tanya Daisha dengan tatapan nanar. Air matanya pun seolah kering tak menetes.


Ibu Rahayu pun meraih dan menggenggam erat tangan Daisha.


''Dengarkan ibu sayang, maaf jika kebenaran ini begitu melukai kamu, nak.''


''Sebenarnya...''


...*flashback*...


Di sebuah taman kecil di pinggiran kota yang baru saja diresmikan oleh bupati terpilih, ibu Rahayu bersama suaminya, ayah Rama baru saja pulang dari rumah sakit guna memeriksakan rahimnya yang baru saja di angkat oleh dokter. Waktu itu, mereka merasakan sedih yang begitu teramat. Ibu Rahayu menangisi nasib sedihnya, belum kering air matanya karena baru saja ia kehilangan putra pertamanya, kini ia juga harus merelakan rahimnya untuk di angkat karena mengalami masalah.


''Sudahlah sayang, jangan terus menerus menyalahkan diri seperti ini. Ini semua sudah kehendak yang Maha Kuasa.'' ucap ayah Rama menenangkan ibu Rahayu yang nampak kalut.


''Terus kita harus gimana mas? Aku pikir dengan kelahiran putra kita akan bisa meluluhkan hati tuan Atmaja. Namun, belum sempat beliau melihat cucunya, anak kita sudah pergi mas. Dan kini, aku tidak akan bisa hamil lagi, mas!'' ucap ibu Rahayu penuh sesal.


''Sekarang kita pulang ya, sebentar lagi hari akan petang.'' ajak ayah Rama.


Belum sempat mereka beranjak dari sebuah bangku kayu di taman itu, mereka mendengar sebuah rintihan dari arah timur taman. Kebetulan waktu itu suasana taman cukup sepi. Hanya menyisakan mereka di sana.


''Mas suara siapa itu? Sepertinya suara orang kesakitan.'' ucap ibu Rahayu berusaha menajamkan telinganya.


''Kamu benar, ayo kita cari. Siapa tau orang itu membutuhkan bantuan kita.'' kata ayah Rama.


Dan betapa terkejutnya mereka melihat seorang perempuan muda yang nampak dengan perut buncitnya seperti hendak melahirkan.


''Mas ayo kita bawa dia ke rumah sakit! Sepertinya dia mau melahirkan!'' teriak ibu Rahayu panik.


Dengan perintah ibu Rahayu, ayah Rama pun membawa wanita itu ke dalam mobilnya dan segera melajukan kendaraan mereka menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


''Sabar ya, mbak. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.'' ucap ibu Rahayu mencoba menenangkan. Ia masih ingat betul saat-saat dimana ia akan melahirkan putranya beberapa waktu lalu.


Setibanya di rumah sakit, perempuan muda itu langsung dibantu dan ditangani oleh dokter. Dengan perasaan cemas, ibu Rahayu dan ayah Rama setia menunggu detik-detik menjelang kelahiran bayi milik perempuan muda yang baru saja mereka temui.


Hingga sebuah suara tangis bayi pertama memekik melengking memecah ketegangan.


''Alhamdulillah..'' ucap ibu Rahayu dan ayah Rama merasa lega.


Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dan memberikan kabar bahwa ibu dan bayinya telah lahir dengan sehat.


''Maaf bapak dan ibu, salah satu dari pihak keluarga bisa ikut dengan saya ke ruang administrasi terlebih dahulu?'' tanya perawat itu dengan ramah.


Ibu Rahayu dan ayah Rama pun saling beradu pandang. Pasalnya mereka tidak mengetahui dan mengenal siapa perempuan yang mereka tolong. Sebuah rasa kemanusiaan yang akhirnya membawa mereka kini telah berada di ruang administrasi dan membayar semua biaya perawatan yang dibutuhkan oleh perempuan muda itu.


''Apakah kami boleh menemui pasien sekarang dokter?'' tanya ibu Rahayu.


''Silahkan bapak dan ibu.'' ucap dokter tadi mempersilakan.


Ceklek!


Suara pintu mulai terbuka. Nampak seorang perempuan muda dengan paras yang begitu cantik sedang membopong buah hatinya yang baru saja ia lahirkan dengan kedua tangannya.


''Permisi.'' ucap ibu Rahayu sopan.


''Silahkan masuk tuan dan nyonya.''


''Terima kasih tuan dan nyonya sudah sudi membantu proses kelahiran anak saya. Karena kebaikan tuan dan nyonya anak saya bisa lahir dengan selamat. Semoga Tuhan membalas kebaikan tuan dan nyonya.'' sambung perempuan tadi dengan tulus.


''Aamiin. Kalau boleh kami tahu, siapa nama nona? Dan dimanakah keluarga nona berada biar suami saya memberitahukan kabar baik ini pada mereka.'' tanya ibu Rahayu dengan hati-hati.''


''Nama saya Marina, nyonya. Tapi saya mohon, jangan beri tahukan kelahiran anak saya pada siapapun. Tolong rahasiakan ini.'' pintanya dengan air mata yang mulai membasahi manik matanya yang indah.


Merasa tak tega, akhirnya ibu Rahayu dan ayah Rama pun menyetujui permintaan perempuan muda itu.


''Oh ya tuan dan nyonya, bolehkah saya meminta tolong sekali lagi?'' tanya perempuan itu.

__ADS_1


''Selagi kami bisa membantu, kami akan lakukan.'' jawab ayah Rama penuh wibawa.


''Terima kasih. Maaf tuan, sudikah kiranya tuan untuk mengadzani dan mengiqomahkan bayi saya?'' ucap wanita itu dengan bergetar.


__ADS_2