Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Tom & Jerry


__ADS_3

Pagi yang indah. Langit menampakkan warna biru cerahnya. Udara pagi pun terasa sangat menyegarkan. Perlahan kaki mereka melangkah menuju mobil mewah yang terparkir di halaman rumah.


''Kamu duduk di depan!'' perintah Rendi pada Daisha ketika hendak membuka pintu mobil bagian belakang.


''Ba baik, pak.'' jawab Daisha terbata dan segera beralih ke depan.


''Arka, kamu duduk di belakang ya sama eyang.'' sambung ibu Rahayu


''Oke, eyang.''


Mobil melaju dengan perlahan menuju arah tujuan. Suasana canggung menyelimuti dua insan yang duduk di kursi depan. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hening dan sepi.


Naya yang biasanya banyak bicara pun menjadi ikut anteng dan kalem karena suasana kecanggungan yang terjadi.


Rendi menyalakan musik dari audio mobilnya guna memecah keheningan. Suara merdu penyanyi wanita muda yang terkenal dengan lagu-lagu romantisnya mengiringi perjalanan mereka.


''Bu, ini Naya nggak lagi ngimpi kan bisa naik di mobil pak Rendi?'' ucap Naya berbisik pada ibu Rahayu.


''Makanya jangan bangun dulu, biar kamu mimpi terus.'' gurau ibu Rahayu dengan berbisik pula.


''Ibu bercanda mulu deh.'' Naya masih merasa heran dan merasa bahwa ini seperti tidak nyata ia bisa menaiki dan menumpang di mobil atasannya itu. Tak pernah terbayangkan berada di dekat atasannya menjadi momok tersendiri baginya, ia tidak bisa bersikap leluasa dan seolah harus tunduk. Tidak seperti yang selama ini ia pikirkan dan bicarakan bersama karyawan yang lain ketika di kantor, akan bahagia jika berada di dekat bosnya yang tampan dan rupawan itu. Naya pun menjadi membayangkan betapa tertekan dan tersiksanya sahabatnya itu selama ini ketika berada dalam satu atap yang sama dengan bosnya tersebut.


Sesekali Rendi melirik ke wajah ayu di sampingnya. Pandangannya lurus ke depan fokus pada kemudinya, namun ekor matanya sesekali diam-diam memperhatikan gadis yang biasanya cerewet dan menyebalkan di sampingnya kini mendadak menjadi tak banyak bicara.


Setelah beberapa menit perjalanan, mobil hitam mewah itu memasuki pelataran hotel. Seorang petugas parkir dan security segera mengawal kedatangan mobil tersebut.


''Kalau jadi orang kaya gini ya bu, datang-datang terus disambut dengan hormat, nggak kaya kita-kita ini.'' bisik Naya.


''Huss! Diem kamu jangan sembarangan kalau ngomong.'' ucap ibu Rahayu memperingatkan. Naya segera menutup kembali mulutnya yang sedari tadi sudah gatal ingin berbicara tentang banyak hal.

__ADS_1


Mereka segera turun dan berjalan menuju ballroom hotel. Beberapa pasang mata menatap ke arah pria tampan yang berjalan memasuki hotel itu dengan tatapan-tatapan memuja. Siapa yang tidak mengenal seorang Rendi Atmaja, salah satu pengusaha muda sukses yang terkenal dengan kecakapan dan ketampanannya. Sungguh suatu keberuntungan dan kesempurnaan dari sang pencipta, pikir mereka. Dan kini tatapan mereka beralih ke arah wanita yang berjalan di belakang Rendi yang sedang menggandeng seorang anak lelaki yang juga tak kalah tampan, yang diyakini adalah putra dari seorang Rendi Atmaja.


Bisikan-bisikan mulai mewarnai suasana hotel yang semula riuh akan euforia kegembiraan. Tak lupa kilat lampu cahaya para pemburu berita dikejutkan oleh kedatangan seorang Rendi Atmaja yang nampak menghadiri acara wisuda universitas X tersebut. Apa lagi, kedatangannya bersamaan dengan seorang wanita muda yang cantik jelita yang sepertinya sudah nampak akrab dengan sang putra mahkota. Pasalnya selama ini, Rendi dikenal sangat dingin dan tidak pernah terhembus kabar mengenai kedekatannya dengan wanita manapun setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Sungguh akan menjadi suatu berita yang akan menghebohkan jagat maya nantinya.


''Bu, ini lho maksud aku menolak ajakan Pak Rendi tadi. Jadi nggak nyaman kan kalau gini.'' bisik Daisha.


''Sudahlah, abaikan saja.'' ucap ibu Rahayu.


Seorang petugas hotel membawa Rendi menuju sebuah kursi khusus untuk tamu VVIP.


''Biarkan Arka sama ibu saja, nak Rendi.'' ucap Ibu Rahayu.


''Arka sama eyang ya kita duduk di sana?''


''Iya, eyang.'' jawab Arka.


''Baiklah, jika tidak merepotkan.''


Berbagai rangkaian acara telah selesai di laksanakan. Kini, hampir tiba saatnya pada akhir acara. Di mana akan di panggil satu persatu para wisudawan dan wisudawati ke atas panggung guna di sematkan gelar baru bagi mereka.


Daisha termasuk ke dalam salah satu dari dua puluh mahasiswa teladan yang terpilih oleh pihak kampus. Satu persatu nama dipanggil ke atas panggung guna disematkan selempang wisuda oleh rektor.


''Berikutnya, Daisha Lituhayu, S.Psi'' ucap pemandu acara.


Daisha menaiki panggung dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya dan menatap ke arah ibunya dengan haru. Sontak semua orang di sana ikut memberikan sorak dan tepuk tangan untuknya. Tak ketinggalan, ibu Rahayu bersama Arka dan Naya pun ikut berdiri memberikan sebuah tepuk tangan kebanggaan pada Daisha. Dan di sudut sebelah sana, Rendi pun ikut merasa bangga terhadap pencapaian yang telah berhasil Daisha raih. Hal ini pun tak luput dari sorotan para awak media yang hanya boleh meliput dari luar ruangan acara. Pihak kampus telah menyediakan sebuah layar lebar yang di pasang di lobby hotel bagi pihak keluarga pengantar yang tidak memiliki undangan.


Setelah acara selesai, beberapa dari mereka masih berada di ruangan itu guna saling memberikan ucapan selamat dan juga sebagai salam perpisahan karena harus meninggalkan kampus tercinta.


''Neng Shasha!'' teriak Beni setengah berlari.

__ADS_1


''Beni!'' seru Daisha.


Kedua sahabat itu pun saling memberikan ucapan selamat. Mereka merasa haru karena akhirnya bisa sampai pada tahap ini. Tak lupa, Beni pun ikut menyalami ibu Rahayu yang juga sudah akrab dengannya.


''Selamat ya Neng Shasha, abang bangga banget sama neng Shasha. Neng Shasha emang best banget!'' ucap Beni memeluk Daisha dengan haru.


Namun, pelukan antar kedua sahabat itu pun harus berakhir ketika dengan posesifnya Arka menarik tubuh Daisha.


''Mama!'' protes Arka.


''Mama?'' tanya Beni heran mendengar ucapan anak lelaki di hadapannya tersebut.


''Jangan peluk mama sembarangan! Nggak boleh!'' ucap Arka yang berdiri berkacak pinggang dengan kedua tangannya yang berada di pinggul seolah memberi ancaman dan mencegah orang lain untuk mendekat.


''Anak siapa sih, ini ganggu aja!'' protes Beni.


''Anak gue.'' jawab Daisha yang membawa Arka ke dalam genggaman tangannya.


''Rasain lu!'' ucap Naya terkekeh.


''Diem, lu!'' jawab Beni tak kalah sengit pada Naya.


''Udah-udah. Jangan pada berantem, kebiasaan deh. Kalau lagi jauh-jauhan aja pada kangen nyariin.'' ucap Daisha.


''Dih, amit-amit!''


''Siapa juga yang mau sama cewek modelan kaya situ!'' ejek Beni.


''Mulai lagi, deh.'' protes Daisha.

__ADS_1


''Sepertinya kalian ini cocok, ibu doakan agar kalian berjodoh!'' ucap ibu Rahayu.


''Ibu!'' protes keduanya. Daisha dan Ibu Rahayu pun hanya tertawa melihat tingkah Naya dan Beni yang seperti tom and jerry yang selalu berseteru ketika bertemu, namun dalam hati yang terdalam saling menyayangi.


__ADS_2