Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Sebuah prediksi


__ADS_3

''Ya, terima kasih.'' sebuah kalimat untuk mengakhiri sambungan telepon. Rendi kembali meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sudah menggoda di atas meja.


Begitu sibuk dengan pekerjaan, hingga ia tak sadar kalau langit di luar sana sudah mulai menggelap.


Rendi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja, baru saja ia menyelesaikan semua pekerjaan kantor yang sudah lama menumpuk tak terurus. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah menunjukkan pukul enam sore.


''Astaga! Sampai tak sadar kalau sudah hampir petang.'' segera ia menutup layar laptopnya dan ia pun merapikan meja kerjanya untuk bersiap pulang.


Kembali sebuah panggilan telepon berdering. Kali ini panggilan video yang masuk ke ponselnya.


''Halo sayang.'' ucap Rendi ketika membuka sambungan panggilan itu.


''Papa! Kenapa papa belum pulang?'' tanya seseorang dari balik telepon.


''Sebentar lagi papa akan jalan pulang, maaf ya papa sedikit terlambat.''


''Arka tunggu ya, pa! Papa hati-hati ya pulangnya. Mama udah kangen katanya, dari tadi mama nungguin papa.'' goda Arka yang kini tengah tertawa cekikan karena mendapat serangan gelitik perut dari Daisha di sana.


''Ampun, ma. Ampun! Geli!'' mohon Arka dengan tawanya yang terbahak-bahak karena Daisha yang terus menggelitik perutnya tanpa ampun.


''Kalian ini ibu dan anak sama saja.'' ucap Rendi tersenyum mengamati mereka dari balik telepon.


Tiba-tiba seluruh layar ponselnya dipenuhi dengan tampilan wajah yang menampilkan sebuah hidung dan mulut saja di sana.


''Saya matiin ya pak, bapak hati-hati.'' seru Daisha sebelum memutus sambungan telepon.


Tut.. tut! Layar ponsel menjadi hitam dan kembali ke dalam tampilan utama.


''Kenapa udah ditutup aja? Sedang apa mereka?'' tanya Rendi sambil menatap layar ponsel yang menampilkan foto jagoannya.


''Ah, sudahlah. Sebaiknya saya segera pulang saja.''


Rendi kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jas berwarna biru tua. Ia segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar untuk segera pulang.


Rendi berjalan seorang diri karena beberapa karyawannya sudah terlebih dahulu membubarkan diri sehubungan dengan jam kantor yang telah usai. Hanya tersisa beberapa karyawan saja yang memang di tugaskan pada saat malam hari.


''Malam pak bos, baru mau pulang pak?'' sapa salah satu dari mereka dan yang lainnya pun ikut menunduk memberi hormat.


''Iya. Kalian semua selamat bertugas dan tetap jaga kesehatan.'' ucap Rendi sambil berlalu.


''Siap, pak! 86!'' jawab mereka.


Saat Rendi sudah berlalu, berbagai obrolan pun mulai memenuhi ruang tengah itu. Ditemani layar televisi yang menyala terang, mereka pun asyik berbisik.


''Pak bos lagi seneng apa gimana yak? Tumben-tumbenan adem gitu jawabnya.'' ucap salah seorang scurity.

__ADS_1


''Ssst... Jangan keras-keras. Ntar orangnya denger habis kau!''


''Tapi bener juga ya, pak bos sekarang mah baek, ramah pula.'' tambahnya.


''Bener pan! Biasanya juga hmm doang kalo di sapa. Boro-boro nengok, senyum aja kagak!'' ucap scurity dengan tampilan rambut yang begitu licin bak porselin.


''Tapi untung deh, jadi ayem ngelihatnya kalau pak bos jadi ramah begini, makin tampan kaya saya!'' ucap scurity berbadan gempal tersebut dengan congak.


''Wuuuuu!'' sorak yang lainnya.


''Ehem!''


Sebuah suara dari arah dalam begitu mengagetkan mereka. Sontak mereka semua pun menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka mendapati seseorang yang tengah berdiri dengan gagah di sana dengan kedua tangan tersilang di dada.


''Sedang membicarakan siapa kalian?'' tanya lelaki itu ketus.


''Emm, bukan pak. Anu..'' jawab kepala keamanan itu dengan terbata.


''Kalau berani ngomong langsung di depan orangnya, jangan beraninya di belakang. Kalian ini di sini dibayar untuk bekerja, bukan untuk menggunjing orang!'' ucapnya dengan tegas membuat semua orang di sana pun seketika menjadi panas dingin.


''Maaf, pak. Ampun. Lain kali kami tidak akan mengulanginya lagi.''


''Tolong maafkan saya dan anak buah saya, pak. Jangan pecat kami.'' mohon kepala keamanan itu dengan cemas.


''Hahahahaha...'' sebuah tawa menggelegar memenuhi ruangan yang luas itu.


''Pak Beni ini bikin kami takut saja.'' ucap salah satu dari mereka dengan perasaan lega.


''Makanya kerja yang bener! Nyali juga harus digedein, jangan cuma badan doang yang gede! Nih, buat beli gorengan.'' ucap Beni menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada mereka.


''Saya duluan!'' pamitnya.


''Makasih pak Beni! Sering-sering ya!''


''Wah, kita makan enak malam ini!'' seru mereka senang.


''Otw beli kambing guling!'' girang mereka.


...ΩΩΩ...


Rendi melajukan kendaraannya dengan cukup tenang. Suasana senja yang hampir gelap kini dipenuhi oleh ratusan kendaraan yang berjejer di sepanjang jalan. Kemudian ia belokkan arah kemudinya ke sebuah jalan yang menuju arah kompleks rumahnya. Saat ia sedang melewati jalan, pandangannya terarah ke seberang jalan. Buru-buru ia putar kemudinya ke arah berlawanan. Segera ia turun dari mobilnya dan berjalan ke luar menghampiri mobil di depannya.


''Tante Marina.'' sapa Rendi yang melihat Marina sedang bersandar pada mobilnya sambil memegangi ponselnya. Nampaknya ia sedang melakukan sebuah panggilan telepon.


''Pak Rendi? Kenapa anda bisa berada di sini?'' tanya Marina.

__ADS_1


''Kebetulan ini jalan arah ke rumah saya. Kenapa dengan mobilnya tante?''


''Entahlah, tiba-tiba saja mesinnya mati. Saya sudah mencoba menghubungi asisten saya tapi belum ada jawaban.''


''Kalau begitu, biar saya panggilkan orang bengkel langganan saya saja tante.''


''Wah, terima kasih banyak ya Pak Rendi. Maaf saya jadi merepotkan.''


''Sama sekali tidak merepotkan tante. Panggil saya Rendi saja tante kalau di luar kantor.'' jawab Rendi.


''Maaf, tante suka lupa.'' ucap Marina tersenyum.


''Kalau boleh saya tahu, tante mau kemana? Biar saya antar sekalian sekarang sudah malam.''


''Sebenarnya saya baru saja berkunjung ke rumah teman lama saya tinggal di daerah sini. Saat saya mau pulang tiba-tiba saja mobilnya mogok.'' keluh Marina.


''Kalau begitu biar saya antar saja tante.''


''Terima kasih ya nak Rendi.''


Setelah orang bengkel kepercayaannya datang, mobil milik Marina pun segera diderek dan dibawa ke bengkel untuk diperbaiki, Rendi pun kembali melajukan mobilnya menuju sebuah alamat yang Marina berikan tadi.


''Oh iya, nak Rendi. Boleh tante bertanya satu hal?'' tanya Marina hati-hati.


''Silahkan tante.''


''Maaf jika pertanyaan tante terlalu pribadi. Kalau tante boleh tahu, perempuan yang pernah diberitakan dekat dengan nak Rendi itu?'' tanya Marina terjeda.


''Namanya Daisha.'' sahut Rendi.


''Oh iya, Daisha.''


''Kenapa dengan Daisha?'' tanya Rendi kembali.


''Oh enggak, dia sangat cantik. Sepertinya juga dia perempuan yang baik.'' ucap Marina akhirnya dan Rendi pun hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Marina.


''Sudah sampai tante, maaf saya tidak bisa mengantarkan tante sampai ke dalam. Anak saya sudah menunggu di rumah.''


''Oh tidak apa-apa nak Rendi, terima kasih sekali lagi. Maaf saya jadi merepotkan.'' ucap Marina.


''Untuk mobilnya biar nanti diantarkan oleh orang bengkel ke alamat apartemen ini.'' sambung Rendi.


''Terima kasih ya nak Rendi. Hati-hati di jalan dan salam untuk keluarga.''


Rendi pun segera bergegas melajukan kembali mobilnya menuju rumah. Setibanya di rumah, ia pun memarkirkan dan mematikan mesin mobilnya. Saat Rendi hendak beranjak turun, tanpa sengaja ia melihat sebuah benda yang tak tergeletak di bangku sebelahnya, tempat Marina duduk semula.

__ADS_1


''Benda ini?'' gumam Rendi.


__ADS_2