Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Arti


__ADS_3

Sahabat itu seperti kutukan. Iya, kutukan indah yang tak akan pernah bisa dihapus dalam hidup. Meneduhkan di kala gelisah, dekat di kala susah, mengobati di kala sakit, dan mesra di kala bahagia.


Tok.. tok.. tok..


''Permisi, assalamualaikum.''


''Spada! Any body home!'' teriak Naya yang sudah pegal karena terlalu lama berdiri. Setelah sebelumnya, ia juga sudah mendapatkan pemeriksaan keamanan dari security yang berjaga sebelum memasuki gerbang rumah mewah itu. Kali ini ia tidak bisa sembarangan menyelonong masuk ke dalam rumah seperti biasa yang ia lakukan ketika berkunjung ke rumah Daisha sebelumnya.


''Maaf dengan siapa dan ada keperluan apa ya nona datang kemari?'' ucap salah satu pekerja di rumah Daisha begitu membukakan pintu untuk Naya.


''Ehem. Perkenalkan nama saya Naya Saraswati owner dari NAYS MUA, mitra kerja ibu Daisha Lituhayu. Apakah ibu Daisha ada? Dan bisakah saya bertemu dengan beliau?'' tanya Naya dengan kalimat yang ia susun sebaik mungkin. Ini adalah kali pertamanya ia mengunjungi rumah baru milik Daisha. Dalam hatinya ia menertawakan dirinya sendiri ketika mendengar kata-kata yang ia ucapkan.


''Oh, tunggu sebentar. Nona bisa duduk dulu, biar saya sampaikan dulu pada nyonya.'' ucap pekerja itu mempersilakan Naya duduk pada sebuah sofa yang terletak di teras rumah.


Daisha yang baru saja melintas, tanpa sengaja melihat kedatangan sahabatnya. Maka ia pun segera menghampiri ke luar.


''Maaf nyonya, ada tamu untuk nyonya.'' ucap bibi Menik.


''Terima kasih bi, dia sahabat saya. Tolong buatkan minuman segar dan cemilan ya, bi untuk kami.'' ucap Daisha ramah.


''Baik, nyonya. Permisi.'' ucap bi Menik undur diri.


Sedari tadi Naya memperhatikan keadaan rumah Daisha yang begitu mengagumkan dan tak lupa juga telinganya tetap ia tajamkan guna mendengar percakapan antara Daisha dan juga pembantunya.


''Gila! Ternyata kawan gue udah jadi nyonya besar betulan.''


''Memangnya ada nyonya yang bohongan?'' tanya Daisha memicingkan sebelah matanya.


''Banyak! Lihat aja tuh di sosial media, banyak bertebaran nyonya-nyonyaan. Gaya elit tapi ekonomi sulit.''


''Hahaha ada-ada aja lu.'' jawab Daisha dengan tawanya.


''Oh iya satu lagi, ternyata nyonya besar ini masih menganggap gue yang tak lebih dari remahan rengginang ini sebagai sahabat, terharu gue Sha!'' ucap Naya dengan gaya yang selalu menjadi ciri khasnya.


''Dih, lebay! Nyebelinnya nggak ilang-ilang!'' seru Daisha sebal.

__ADS_1


''Sha, bukannya ini rumah yang pernah lu lihatin ke gue ya waktu kita lagi chatting mode halu tingkat dewa itu. Masih inget banget gue sama foto rumah yang lu kirim ke gue, tentang gambar rumah impian lu.'' ucap Naya mengingat-ingat tentang isi chat nya dengan Daisha beberapa bulan lalu.


''Yoi!'' jawab Daisha santai.


''Ya Tuhan, maha baiknya engkau yaAllah!! Semoga nular rejekinya ya Allah!'' seru Naya seraya menengadahkan tangannya seraya berdoa.


''Aamiin...'' jawab Daisha dengan tersenyum dan ikut mengaminkan doa sahabatnya itu.


''Ngomong-ngomong dapat alamat rumah ini dari siapa? Beni ya?'' tebak Daisha.


''Bukan, tapi dari laku lu!''


''Hah? Mas Rendi? Kok bisa?''


''Iyalah, siapa lagi. Tadi laki lu telponin gue mulu. Katanya lu lagi sakit, terus elu cuma sendirian di rumah. Makanya nyuruh gue ke sini.'' jawab Naya jujur.


''Jadi hanya karena itu?'' tanya Daisha dengan tatapan meremehkan.


''Dih, nggak usah baperan! Niatnya gue juga pengen main ke sini abis kelar meeting sama customer, sekalian ngeliat rumah baru lu.'' ucap Naya terkekeh.


''Sakit apa sih lu, Sha? Gue lihat nggak ada yang sakit deh. Tuh muka juga seger begitu.'' ucap Naya memperhatikan keadaan sahabatnya itu.


''Syukur deh, gue kira udah langsung isi aja lu.'' canda Naya.


''Mohon doanya saja. Tapi kalau soal proses produksi sih sedang kami usahakan dengan intens.'' ucap Daisha terkekeh.


''Sialan lu, nggak paham gue soal begituan.'' protes Naya.


''Ngomong-ngomong, si ganteng kemana, Sha? Belum pulang sekolah?'' Naya celingukan mencari keberadaan si tampan Arka.


''Sebentar lagi juga pulang, baru di jemput sama pak Budi. Harusnya aku yang jemput, tapi nggak dikasih ijin sama mas Rendi bawa mobil sendirian.'' jawab Daisha.


''Dih posesifnya laki lu. Pantesan kok rumah sepi banget dari tadi.''


''Ya begitulah.''

__ADS_1


''Terus nyokap lu udah balik ke Paris lagi?'' tanya Naya menanyakan keberadaan mommy Marina.


''Udah kemarin.'' jawab Daisha sembari memakan kentang goreng yang baru saja dihidangkan oleh bi Menik.


''Lu tau, Sha? Hidup elu sekarang tuh ibarat kata sedang ketiban durian runtuh. Udah dapet laki kaya raya, ditambah nyokap kandung lu ternyata juga seorang pengusaha parfum terkenal di dunia!'' seru Naya ikut mencomot kentang goreng itu.


''Bonyok dong ketiban durian! Lagian juga untuk apa harta dunia, jika tak ada cinta yang menyerta. Eits, tapi gue udah punya cintanya juga sih, lengkaplah sudah.'' jawab Daisha terkekeh.


''Bahagia bener hidup lu!'' seru Naya ikut merasa bahagia dengan apa yang sahabatnya kini tengah rasakan.


Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat, hingga tiada disangka petang telah menjelang. Gelap sebentar lagi menyergap. Menyambut malam yang sinarnya temaram membawa tenteram. Waktu untuk melepas peluh setelah seharian beraduh penuh kayuh pada dunia yang mulai rapuh.


''Sekalian makan malam di sini aja, Nay. Aku udah minta bibi untuk masak banyak kok.'' ucap Daisha pada Naya yang kini tengah bermain bersama dengan Arka di ruang tengah.


''Iya tante, kita makan malam sama-sama ya.'' sahut Arka.


''Kata mas Rendi, si Beni juga katanya mau ikut pulang ke sini.''


''Oke, oke. Karena kalian semua memaksa jadi gue nggak bisa nolak.''


''Bilang aja mau numpang makan lu!'' sahut suara seorang lelaki dari arah depan. Siapa lagi kalau bukan suara dari seorang Beni Prasetyo.


''Nggak ada benang putus sukanya nyambung-nyambung!'' kesal Naya.


''Benang putus sih emang nggak ada Nay, adanya layangan putus!'' jawab Beni.


''Bodo!'' seru Naya sebal.


''Om Beben tuh pacaran ya sama tante Naya? Kata temen Arka di sekolah, kalau mereka lagi marahan sama pacarnya tuh suka berantem terus kaya gitu.'' sahut Arka dengan polosnya.


''Ya ampun, anak mama. Anak kecil nggak boleh pacar-pacaran dong sayang.'' sergah Daisha dan segera memeluk putra kesayangannya.


''Kan bukan Arka yang pacaran ma, tapi om Beben sama tante Naya!''


''Arka, ih. Siapa juga yang mau pacaran sama dia!'' protes Naya menunjuk ke arah Beni.

__ADS_1


''Apa sih lu!'' sahut Beni ikut tak terima.


''Sudah-sudah! Ayo kita segera makan malam saja. Saya sudah lapar sekali.'' potong Rendi. Jika ia tidak segera bertindak, bisa dipastikan perdebatan itu akan semakin panjang dan lebar.


__ADS_2