Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Yang tersembunyi


__ADS_3

Berkali-kali Daisha membaca pesan dari atasannya itu, ia usap layar ponselnya yang nampak foto dirinya bersama Arka yang ia ambil beberapa waktu lalu. Ia bingung harus membalas apa pesan yang ia baca tersebut. Akhirnya, ia pun hanya membaca berulang-ulang pesan di layar ponselnya itu.


''Mama kenapa senyum-senyum sendiri?'' tanya Arka yang kini sedang bermain catur bersama Naya.


''Kesambet lu ya?'' tanya Naya masih fokus dengan papan caturnya.


''Sembarangan. Enggak lah, orang lagi baca pesan di chat room kok.''


''Lagi chatting sama siapa sih? Gebetan ya? Atau pacar baru? Kayaknya kok muka lu happy gitu, Sha.''


''Mama tuh lagi chatting sama papa, tante.'' jawab Arka yang sedikit melirik layar ponsel mamanya itu.


''Ih, Arka ngintip hp mama ya?''


''Sedikit, ma habisnya kelihatan sih dari sini.'' jawab Arka terkekeh.


''Jadi lu pacaran sama pak Rendi, Sha? Sejak kapan? Kok nggak bilang sih sama gue? Jadi bener dong apa yang Beni omongin kemarin kalau kalian ada hubungan spesial?'' tanya Naya terkejut.


''Enggak! Siapa juga yang pacaran.'' kilah Daisha.


''Udah ngaku aja, kalau beneran kan gue ikut seneng. Akhirnya, setelah sekian purnama ada juga sosok lelaki beruntung yang telah berhasil meluluhkan hati seorang Daisha Lituhayu!'' ucap Naya begitu dramatis.


''SKAK! Yey, Arka menang lagi!'' sorak Arka senang.


''Ih, curang nih. Tadi kan tante lagi ngobrol sama mama kamu.'' protes Naya.


''Ya enggak curang dong tante, makanya kalau lagi main tuh harus fokus ke permainan, jangan ngobrol terus.'' jawab Arka.


''Anak lu nih, Sha!'' ucap Naya gemas.


''Kenapa? Genius kan dia? Udah akuin aja kalau kamu kalah. Tos dulu sayang! Anak mama hebat!'' ucap Daisha membela Arka.


''Nggak asik, ah.'' keluh Naya.


''Seru sekali sepertinya.'' ucap ibu Rahayu yang baru saja ikut bergabung bersama mereka.


''Eh bu, ibu tahu nggak. Sebentar lagi ibu akan punya mantu!'' seru Naya dengan gaya layaknya emak-emak biang rumpi.


''Oh, ya? Siapa? Kamu mau menikah dengan Beni?'' tanya ibu Rahayu.

__ADS_1


''Dih, ibu! Ya enggaklah, tapi anak ibu yang itu tuh.'' tunjuk Naya pada Daisha.


''Iya, eyang. Sebentar lagi mama Daisha akan menikah dengan papa.'' sambung Arka.


''Deg!'' ibu Rahayu menatap Daisha dengan sorot mata yang begitu sulit terbaca.


''Bu! Hello! Ibu kenapa jadi bengong sih?'' ucap Naya seraya mengibaskan telapak tangannya di depan wajah ibu Rahayu.


''Eh, maaf. Ibu hanya terkejut saja tadi.'' jawab ibu Rahayu dengan berusaha menunjukkan ekspresi yang biasa saja.''


''Ibu saja kaget, apalagi saya bu!'' seru Naya.


''Eyang seneng kan kalau mama menikah dengan papa?'' tanya Arka.


''Iya sayang, eyang seneng.'' jawab ibu Rahayu.


''Eyang tahu tidak, papa sudah siapkan rumah baru untuk mama.'' ucap Arka.


''Kamu minta rumah sama nak Rendi?'' ucap ibu Rahayu dengan raut wajah tak percaya.


''Enggak bu, enggak! Daisha nggak minta kok. Memang Pak Rendi sendiri yang mau membeli rumah baru.'' jelas Daisha.


''Iya, bu. Daisha tahu itu kok.'' ucap Daisha sedikit membaca guratan di wajah ibunya jika ada sesuatu yang disembunyikan dari ibunya tersebut. Tidak sepertinya biasanya ibunya bersikap begitu.


Daisha mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari ibunya setiap kali membicarakan kedekatannya dengan bosnya itu. Dan ia akan segera mencari tahu tentang itu, pikirnya.


Di sudut tempat yang berbeda, Rendi sedang duduk di sebuah kursi kebesarannya.


“Kenapa kamu begitu menggemaskan? Nggak tahan pengen segera halalin kamu.” gumam Rendi.


Ia terkekeh, lalu membuka jasnya dan sedikit melonggarkan dasinya, kini hatinya sedang bahagia meski hanya mendapatkan sebait pesan dari seseorang di sana.


Lama ia menunggu namun tetap saja tak ada balasan dari seseorang itu, membuat ia gusar dan bangkit serta menutup laptopnya. Ia berdiri di dekat jendela kaca di dalam ruang kerjanya. Rendi kembali bermain dengan ponsel pintarnya sambil sesekali mengecek room chat miliknya.


“Lagi sibuk kali ya? Atau Arka sedang rewel? Ah, tapi sepertinya tidak mungkin. Tuhan, tidak salah kan jika saya jatuh cinta lagi? Bukan bermaksud untuk mengkhianati Raline, namun rasa ini tumbuh dan berkembang tanpa saya minta.''


Tok tok tok..


Rendi yang mendengar ketukan pintu langsung datang menghampiri dan membukanya.

__ADS_1


“DAAARRRR” goda Beni, ia tertawa saat melihat raut wajah terkejut atasannya itu.


“Ngapain, kamu?” tanya Rendi kesal.


“Dih bos, jahat amat!” Beni langsung melengos dan mendudukkan dirinya di sofa, ia tak perduli dengan muka masam bosnya itu.


“Ada perlu apa?'' tanya Rendi yang ikut duduk di sofa.


''Bos, ada yang mengirim pesan ke e-mail saya, katanya orang ini ingin bertemu dengan bos.''


''Siapa?''


''Namanya Marina Mandadara. Orang ini pemilik brand parfum terkenal, DLY parfum dari Paris. Kebetulan orang ini berasal dari Indonesia juga namun telah lama tinggal di Perancis. Dan saat ini orangnya sedang berada di kota ini, jadi ingin bertemu dengan bos secara langsung.'' terang Beni.


''DLY parfum? Sepertinya brand itu tidak asing di telinga.'' tanya Rendi nampak berpikir.


''Iya bos.'' ucap Beni seraya menyerahkan berkas pada Rendi.


''Kamu atur saja, yang penting tidak mengganggu jadwal yang lain.'' ucap Rendi setelah membaca berkas yang baru saja Beni serahkan.


''Baik, bos.''


''Oh iya bos, ada lagi yang ingin saya konfirmasi. Bos beneran udah ehem ya sama neng Shasha? Kalah lagi dong saya. Sepertinya bos ini adalah lelaki paling beruntung di muka bumi. Bayangin saja bos, kalau ditotal bisa sampai ratusan cowok yang udah ditolak sama Daisha. Tapi saya sebagai lelaki sejati akan mengakui kekalahan ini. Oh ya bos, seperti yang pernah saya katakan beberapa waktu lalu, Daisha itu sedikit trauma dengan laki-laki, jadi jangan pernah sekalipun bos berniat untuk sekedar bermain-main atau menyakitinya. Kalau sampai itu terjadi, saya orang pertama yang akan beraksi.'' ucap Beni panjang lebar.


''Hm. Ya sudah sana, pulang!''


''Gini nih, habis manis sepah dibuang, lagi butuh aja nyariin, giliran udah dapat apa yang dimau ngusir.” keluh Beni kesal.


''Memang tugas kamu seperti itu! Saya yang bos di sini!” ucap Rendi tak kalah kesal.


''Iya iya, bos!''


Beni pun berjalan menuju arah pintu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia kembali menyembulkan kepalanya dari balik pintu ke dalam.


“Ada apa lagi?” tanya Rendi yang mulai tersulut emosi.


“Pulang nanti, saya nebeng ya bos. Si kecil lagi nginep di bengkel soalnya, lagi pengen dimanja.'' ucap Beni terkekeh.


“Hm..” jawab Rendi singkat kemudian menutup pintunya dengan keras yang membuat Beni semakin terkekeh merasa puas telah berhasil mengerjai bosnya itu.

__ADS_1


__ADS_2