Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Hilang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mereka terhampar pemandangan hijau pucuk-pucuk pohon teh. Begitu segar dan menenangkan. Beni dan Naya turun ke kota guna memenuhi keinginan ngidam sahabat mereka. Yaitu, mencarikan seporsi martabak telur dengan daging cincang dan potongan daun bawang didalamnya.


''Jadi kita harus ke kota dulu hanya untuk beli martabak?'' tanya Naya sembari menikmati pemandangan hamparan hijau itu.


''Ya gimana lagi, di sini mana ada yang jual martabak.'' sahut Beni.


''Lagi pula kan lumayan, kita jadi punya banyak waktu berdua.'' goda Beni dengan mengedipkan sebelah matanya.


''Kenapa lu? Kelilipan? Atau butuh obat minus?'' tanya Naya.


''Nay, emangnya kamu beneran nggak ada rasa gitu sama aku?'' tanya Beni tiba-tiba.


''Apaan sih lu, Ben. Jangan ngadi-ngadi deh! Fokus aja nyetir mobilnya, jalannya banyak yang berlubang itu lho.'' jawab Naya sedikit salah tingkah.


''Hahaha.. bercanda sayang.'' goda Beni kembali.


''Sayang sayang! Kepala lu peyang! Fokus aja sih, Ben jangan becanda mulu!''


''Jangan ngambek gitu ah, jelek tau!''


''Bodo!'' kesal Naya.


''Nah, udah mulai masuk pinggiran nih. Semoga aja di sekitar sini ada tukang martabaknya!'' seru Beni.


''Daisha ngidamnya nggak kira-kira deh. Kenapa nggak dari tadi sebelum kita sampai di kebun teh, sih. Ngerepotin orang kan jadinya!'' gerutu Naya.


''Ssst! Hitung-hitung kita lagi simulasi andaikan besok kamu ngidam kaya gini juga jadi kan kita udah berpengalaman.'' canda Beni.


''Ben!'' teriak Naya.


''Apa sayang, abang Beni di sini.'' goda Beni.


''Tau ah!'' Naya mengepalkan kedua tangannya di dadanya. Ia begitu kesal dengan sikap Beni yang terus saja menggodanya.


''Nah, itu dia! Akhirnya ada yang jualan juga.'' seru Beni begitu melihat pedagang martabak sedang mempersiapkan gerobak dagangannya.


Beni dan Naya pun segera turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah penjual martabak itu.


''Bang, martabak telur spesial ditambah daging cincang dua porsi ya!'' seru Beni.


''Iya, mas. Tapi tunggu sebentar ya. Belum beres ini.'' ucap penjual martabak itu sambil menata dagangannya.


''Oke.''


''Silahkan duduk dulu, kasian atuh si eneng kalau berdiri terus.'' ucap penjual martabak itu dengan menyerahkan dua buah bangku yang terbuat dari plastik, bangku khas para pedagang kaki lima.


''Makasih, bang.'' ucap Naya.

__ADS_1


''Mas, istrinya cantik.'' bisik penjual martabak itu pada Beni. Namun, bisik-bisik itu masih terdengar di telinga Naya.


''Iya, bang. Luna Maya aja lewat sama kecantikan istri saya!'' sahut Beni dengan terkekeh.


''Bener mas, kebangetan dah cantiknya!''


''Eits, jangan lama-lama lihatin istri saya!'' usir Beni pada penjual martabak itu.


''Iya mas, maaf. Guyon, mas.'' ucap penjual martabak.


Naya yang mendengar itu pun menginjak kaki Beni dengan sengaja. Sedangkan Beni hanya meringis kesakitan dan nyengir tanpa rasa berdosa.


Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, akhirnya martabak telur pesanan Daisha itu pun telah matang. Beni segera membayar dan kembali melajukan mobilnya.


''Kita mau kemana lagi nih? Mumpung kita masih di sini. Siapa tau kamu mau ngidam juga.'' canda Beni.


''Sembarangan kalau ngomong! Udah buruan balik, keburu dingin ntar martabaknya.''


''Bener kamu nggak pengen yang lain?'' tanya Beni memastikan.


''Nggak!''


''Baiklah, kakanda siap melajukan mobilnya kembali ke penginapan sesuai dengan perintah tuan putri.'' jawab Beni dan hanya mendapat balasan dengusan dari Naya.


...ΩΩΩ...


''Nih, martabak telurnya! Aku panasin di microwave dulu deh ya biar hangat lagi.'' ucap Naya.


''Yey, makan!'' seru Daisha senang.


''Aku keluar dulu ya, mau jalan-jalan sebentar lihat pemandangan.'' ucap Beni setelah menghabiskan dua potong martabak itu.


''Mau ngapain?'' tanya Naya.


''Ya bersosialisasi dengan masyarakat sekitar lah. Kali aja warga sini ada yang punya anak gadis cantik terus mau dijodohin sama gue.'' ucap Beni terkekeh.


''Cewek mulu yang lu pikirin!'' sahut Naya.


''Kamu nggak mau ikut abang jalan-jalan Nay?'' tanya Beni pada Naya.


''Nggak ah, takut ganggu yang mau berburu cewek. Lagian gue mau mandi dulu. Udah lengket nih badan!'' jawab Naya.


''Yaudah, gue keluar dulu.'' ucap Beni.


''Hati-hati, Ben. Jangan sampai nyasar!'' ucap Daisha dengan mulut penuh dengan suapan martabak telur kesukaannya. Beni pun mengacungkan jempolnya pada Daisha seraya berjalan keluar.


Hingga menjelang petang, Beni belum juga kembali ke penginapan. Mendadak perasaan Naya menjadi tidak tenang. Melihat tingkah sahabatnya yang nampak gelisah, Daisha segera menghampiri sahabatnya itu.

__ADS_1


''Kamu kenapa sih, Nay?'' tanya Daisha dengan berjalan pelan. Kelincahannya sedikit berkurang karena kini kondisi perutnya yang mulai membuncit, sehingga sedikit membatasi gerakannya.


''Emm, nggak apa-apa kok.'' kilah Naya.


''Nungguin Beni?'' tebak Daisha membaca raut wajah sahabatnya itu.


''Enggak! Ngapain juga gue nungguin dia. Kaya nggak ada kerjaan lain aja.''


''Pakai nggak ngaku segala. Ntar orangnya hilang beneran, nangis.'' goda Daisha.


''Jangan ngomong aneh-aneh deh!''


''Tuh kan, nggak terima. Udah sih Nay, akuin aja kalau kamu khawatir sama Beni. Dia juga nggak bakalan ilang kok, paling cuma diculik sama ibu-ibu pemetik daun teh tadi.'' ucap Daisha terkekeh. Karena semenjak kedatangan mereka di kebun teh itu, Beni yang memang sudah tampan dari lahir itu selalu saja tebar pesona pada siapapun yang ia temui. Ditambah lagi dengan sikap supel dan ramah yang ia miliki, Beni menjadi mudah akrab dan mudah berbaur dengan siapa saja, termasuk dengan sekelompok ibu-ibu pemetik daun teh di dekat penginapan mereka.


''Nggak lah!'' jawab Naya.


''Kalau kamu khawatir, di telfon aja Nay! Dari pada uring-uringan sendiri.''


''Siapa juga yang khawatir!''


''Udah buruan di telfon. Bentar lagi hari mulai gelap, suruh balik gih!''


''Gue telfon aja kali ya? Tapi ntar si Beni GR lagi.'' kata Naya.


''Buruan!'' perintah Daisha.


''Iya iya! Gue telfon beneran nih?'' Naya meminta persetujuan pada Daisha dan dibalas dengan sebuah anggukan oleh Daisha.


''Nggak aktif, Sha! Duh, tuh anak kemana sih.'' kesal Naya yang sudah berulang kali mencoba mengubungi Beni.


''Jangan-jangan Beni kenapa-kenapa lagi! Atau beneran di culik sama ibu-ibu tadi? Gimana dong Sha!''


''Beneran nggak aktif nomornya?'' tanya Daisha mulai ikut khawatir.


''Iya, udah puluhan kali gue telfon tapi nggak nyambung.'' ucap Naya.


''Mas, Mas Rendi!'' teriak Daisha memanggil suaminya yang sedang asyik bermain PS dengan putra mereka.


''Apa sayang? Lagi tanggung nih.'' sahut Rendi masih fokus dengan permainannya.


''Buruan kesini. Beni hilang mas!'' teriak Daisha.


''Ntar juga pulang sendiri orangnya.'' jawab Rendi acuh.


''Mas Rendi! Arka!'' teriak Daisha.


''Iya sayang.'' jawab Rendi dengan meletakan stik PS nya.

__ADS_1


''Beni belum pulang mas. Kami jadi khawatir. Sekarang mas Rendi nyari Beni ya, Arka nunggu di rumah sama mama dan tante Naya. Oke!'' perintah Daisha.


''Saya ikut pak Rendi.'' sahut Naya.


__ADS_2