
Malam ini adalah malam pertama bagi Daisha dan Rendi yang telah resmi menyandang status baru sebagai sepasang suami dan istri. Namun, Daisha tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya bercabang tak menentu. Hatinya mendadak ragu, sekelebat kilatan di masa lalu semakin mengusik ketenangannya.
Ia tarik dalam-dalam nafasnya, lalu ia hembuskan kembali secara perlahan. Berulang-ulang kali ia melakukan hal itu untuk menata hati dan pikirannya. Ia berpikir harus segera berdamai dengan masa lalu. Bahwa kini, keadaanya telah berbeda. Rendi adalah suaminya. Dan Rendi berhak atas hidupnya.
Akhirnya, Daisha berjalan dengan langkah kecil menuju keberadaan suaminya dan ia memberanikan dirinya untuk memeluk Rendi dari arah belakang. Sontak saja, Rendi yang mendapat perlakuan itu pun sangat tersentak. Sudah kepalang tanggung, karena malu dan gugup Daisha semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar milik Rendi. Sejenak mereka terdiam, nyaman.
''Jangan seperti ini, jangan memancing saya. Saya tahu kamu belum siap. Saya mengerti akan hal itu.'' ucap Rendi dengan tenang. Ia tidak ingin egois dalam hal ini.
''Bantu, saya pak.'' jawab Daisha masih dengan memeluk Rendi erat.
''Tapi saya tidak ingin sedikitpun untuk memaksa kamu. Dan saya tidak akan menuntut kamu untuk melakukan itu sekarang.'' jawab Rendi.
''Saya siap, pak. Saya siap!'' ucap Daisha dengan mantap.
Rendi pun membalikkan tubuhnya dan menatap wajah istrinya yang tertunduk dengan raut wajah yang merah padam. Ia pun mengangkat wajah istrinya yang sedari tadi tertunduk dengan hati-hati.
''Benarkah?''
Daisha hanya mengangguk memberi jawaban. Ia tak mampu untuk berucap. Lidahnya mendadak kelu, jantungnya berdegup lebih kencang.
''Baiklah, kalau begitu kita masuk ke dalam.'' jawab Rendi membawa Daisha masuk ke dalam kamar hotel mereka.
''Duduk di sini.'' ucap Rendi menepuk sebelah kasur yang ia duduki.
Daisha pun bergerak patuh dan duduk di atas ranjang itu.
''Kemarilah, lebih dekat.'' ucap Rendi.
Lagi-lagi Daisha patuh dan semakin merapatkan duduknya dengan Rendi.
''Daisha, ada yang ingin saya sampaikan pada kamu.''
''Emm, apa pak?'' tanya Daisha masih dengan kepala tertunduk.
''Daisha, lihat saya.''
''Terima kasih. Terima kasih karena kamu telah bersedia menjadi istri saya, sekaligus menjadi ibu untuk Arka.'' ucap Rendi dengan mengangkat dagu Daisha agar berani untuk menatapnya.
''Iya, pak. Saya juga bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga bapak.'' ucap Daisha dengan senyumnya yang menawan.
__ADS_1
''Hanya itu?'' tanya Rendi dengan mengerutkan keningnya.
''Emm, saya bahagia bisa menjadi istri bapak.'' jawab Daisha malu-malu.
''Buktinya?'' goda Rendi.
''Ya buktinya saya mau menikah dengan bapak.'' jawab Daisha merona.
''Mulai sekarang jangan panggil saya bapak terus dong, memangnya saya bapak kamu. Tidak lucu bukan kalau saat kita ingin melakukan itu nanti tapi kamu memanggil saya dengan bapak.. bapak..'' protes Rendi.
''Ih, Pak Rendi mesum deh.'' Daisha pun mencubit dan menggelitiki perut sixpack milik suaminya.
''Hahaha. Ampun.'' mohon Rendi merasa geli.
''Bapak sih!'' kesal Daisha.
''Terus saya manggilnya harus gimana dong pak? Kakak, abang, om?''
''Memangnya saya abang penjual bakso, sembarangan saja!'' protes Rendi tak terima.
''Terus apa dong?'' tanya Daisha dengan berpikir keras.
''Apa saja selain yang kamu sebutkan tadi!''
''Bagaimana kalau Mas atau sayang?'' ucap Daisha malu-malu.
''Boleh juga. Coba panggil saya dengan apa yang kamu sebutkan barusan.'' ucap Rendi menggoda Daisha.
''Ah, bapak nih, saya jadi malu tau!''
''Kan sudah saya katakan ganti panggilan kamu!'' kesal Rendi.
''Eh, maaf pak. Udah kebiasaan sih soalnya. Eh, ralat mas. Ini mulut kadang masih suka kepleset. Kan belum terbiasa.'' ucap Daisha terkekeh.
''Mulai dari sekarang harus dibiasakan.''
''Siap, bos!''
''Daisha istriku.'' ucap Rendi dengan serius.
__ADS_1
''Iya, mas.''
''Aku mencintaimu, bukan hanya karena siapa kamu. Tapi juga karena menjadi apa diriku saat bersamamu, istriku." ucap Rendi dengan tulus.
Hangat, tiba-tiba saja hatinya berdesir hangat. Seperti ribuan kupu-kupu yang menari-nari di perutnya. Ia pun terpanjat. Sesaat dunia seakan berhenti berotasi pada porosnya.
Kamu datang ke dalam hidupku dan menjadikan duniaku seperti mekar untuk ditinggali. Kamu membuat aku merasa begitu istimewa dengan hal-hal yang kamu lakukan dan semua yang kamu katakan. Aku pun begitu mencintaimu.
Mereka pun tersenyum simpul di antara temaram abu-abu pelita malam. Saling melemparkan tawa dan candaan guna memecah kegugupan. Dengan lantunan doa dan hati-hati Rendi mulai mencium kening Daisha, hangat dan lekat. Perlahan, ciuman-ciuman itu pun beralih dan menelusuri ke setiap inch seluruh wajah ayu milik Daisha.
''Mas...'' ucap Daisha menghentikan perbuatan Rendi.
''Iya, sayang.''
''Aku juga mencintaimu.'' ucap Daisha dengan mata yang berkaca-kaca.
Rendi tersenyum. Hatinya membuncah bahagia. Sungguh, anugerah dari yang maha Kuasa.
''Bolehkah?'' tanya Rendi yang telah diliputi dengan kabut gairah.
Daisha pun mengangguk takzim.
''Pelan-pelan, aku takut.'' ucap Daisha menggigit bibir bawahnya.
''Sesuai permintaan yang mulia.'' ucap Rendi dengan menggoda Daisha.
Mereka pun mulai bercengkrama, bercerita lewat denyut nadi tanpa kata-kata. Nafas mereka mulai memburu dan menderu. Mereka terus mengendap dan menyelusuri setiap ramu, mengejar bulan di ujung telaga hingga di perbatasan hutan. Menuju terang. Nafas mereka semakin kencang mengerang. Sejuta rancauan seperti igauan yang terus berkumandang. Seakan tak lelah mendaki rasa di antara gemerisik kelambu dan nafas yang semakin memburu.
''Mas!'' suara pekikan itu begitu nyaring terdengar.
''Ohh.. Daisha!''
''Terima kasih, sayang.'' ucap Rendi dengan mencium lembut kening Daisha.
''Aku sangat mencintaimu.'' tambahnya.
''Aku juga sangat mencintaimu, mas.''
Lalu mata mereka kembali beradu, saling menatap mantap. Saling melempar senyum dengan nafas yang kembali bergemuruh. Saling merangkul tubuh mereka ke dalam rengkuh. Mereka pun kembali mengaduh. Merangkai bait-bait kenikmatan yang begitu teduh. Menelusuri kembali keindahan yang semakin bergemuruh. Meniti setiap jalan tanpa rasa jenuh. Dengan lantang mereka kembali melenguh. Gaduh, seakan tak pernah lelah mengayuh. Bercumbu rayu lewat alunan syair yang menderu yang bercampur dengan peluh.
__ADS_1
Sepasang kekasih yang baru saja memadu kasih. Kembali merebahkan tubuh mereka ke dalam pembaringan setelah berulang kali menyemai benih. Jerih yang selalu gigih. Letih, tak membuat batin pamrih. Tidak membuat berkurangnya kasih, tidak jua membuat luka menjadi perih. Hangat dan nikmat yang menjadi tagih. Malam-malam panjang yang menjadi saksi perjalanan kasih. Pertanda dimulainya sebuah kisah. Penghapus gelisah dalam langkah. Rasa yang semakin membuncah. Perjalan panjang yang terbalut ibadah. Sungguh, tak akan pernah terlupa, saat-saat yang mempesona. Tiada tara di dunia.
Ingin selalu ku dekap kekar tubuhmu yang tegap. Wangi parfum mu yang sedap. Di setiap waktu yang menghadap.