
Sementara itu, di sebuah restoran yang mewah seorang wanita paruh baya sedang duduk di salah satu ruangan VIP yang ada di restoran tersebut. Wanita tersebut memesan ruangan VIP untuk bertemu dengan seseorang yang sebelumnya telah membuat janji untuk bertemu dengannya. Wanita yang sangat cantik dan anggun meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Penampilannya juga elegan menandakan bahwa ia adalah seorang wanita terpandang dan kaya raya.
Wanita itu adalah Marina Mandadara, seorang pemilik brand parfum ternama di kota Paris. Ia adalah salah satu wanita yang cukup populer di kalangan pebisnis. Parasnya yang cantik meskipun usianya sudah tak cukup muda lagi ditambah dengan kemampuan berbisnis yang cukup mumpuni. Meskipun cukup terkenal, namun dia dikenal sangat tertutup perihal asmara dan kehidupan pribadinya. Di usianya yang sudah memasuki kepala empat, ia lebih memilih untuk menjalani hidup sendiri.
Sebenarnya waktu yang sudah ditentukan untuk bertemu masih setengah jam lagi, namun ia merasa sudah tak sabar untuk bertemu dengan sosok Rendi Atmaja. Berkali-kali dia melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Sambil melirik ke arah pintu berharap orang yang akan ia temui segera tiba. Dan tidak lama seorang pelayan datang dan memberitahukan bahwa orang yang memiliki janji dengannya sudah tiba dan sudah menunggu di luar.
''Maaf nyonya, orang yang memiliki janji bertemu dengan anda saat ini sudah ada di luar.'' kata pelayan di restoran tersebut memberitahukan keberadaan orang yang ditunggunya sedari tadi.
''Antar dan bawa beliau ke sini.'' sahur Marina memberi perintah.
Pelayan tersebut segera keluar dan membawa Rendi menuju meja VIP yang sudah dipesan oleh Marina. Dan tak lama pun pintu kembali terbuka. Sosok lelaki tampan dan gagah perkasa memasuki ruang itu.
''Silahkan duduk tuan.'' ucap Marina ramah dan menjulurkan tangannya mengajak Rendi berjabat tangan begitu sudah ada di depannya.
''Terima kasih, maaf membuat anda menunggu.'' sahut Rendi yang ikut menjabat tangan Marina dan kini telah duduk di sofa yang saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh meja kecil.
Mereka berdua duduk berhadapan dan pelayan tadi langsung memberikan buku menu pada Rendi untuk memesan minuman dan makanan sesuai dengan seleranya.
Setelah memesan makanan dan minuman, pelayan tersebut segera beranjak pergi dengan membawa pesanan tadi.
Sejenak Rendi menatap lekat sosok wanita di hadapannya. Paras dan senyumnya begitu mengingatkan ia pada seseorang yang begitu ia puja.
''Terima kasih tuan Rendi bersedia memenuhi undangan saya.'' ucap Marina ramah.
''Sebelumnya saya meminta maaf telah menyita waktu tuan Rendi Atmaja yang begitu berharga hanya untuk memenuhi undangan saya.'' ucap Marina membuka pembicaraan.
''Tidak, saya senang bisa bertemu dengan anda dan kebetulan saya juga sedang tidak sibuk.'' jawab Rendi.
''Sebenarnya saya hanya ingin bertemu dan mengenal anda secara langsung, saya begitu kagum setelah membaca beberapa artikel tentang kemampuan berbisnis anda yang cukup mumpuni.'' lanjutnya.
__ADS_1
''Terima kasih, anda terlalu memuji.'' jawab Rendi singkat.
''Sebelumnya, perkenalkan saya adalah Marina Mandadara seorang yang masih belajar dalam dunia bisnis ini.'' ucapnya merendah dengan senyum yang begitu menawan.
''Sebelumnya apa kita pernah bertemu sebelumnya?'' tanya Rendi yang sedari tadi memperhatikan sosok wanita di hadapannya.
''Tidak pak, kita belum pernah bertemu sebelum ini.'' jawab Marina.
''Maaf, tapi kenapa saya merasa sangat familiar dengan wajah anda?'' tanya Rendi kembali.
''Mungkin karna wajah saya begitu pasaran.'' jawab Marina dengan terkekeh.
''Jelas saja kamu merasa tidak asing, karena kamu selalu bertemu dengan seseorang yang begitu mirip denganku.'' ucap Marina dalam hati.
''Mungkin anda benar, karena anda adalah wanita yang hebat dalam dunia bisnis ini.'' jawab Rendi.
Rendi sedikit menautkan kedua alisnya begitu mendengar ucapan wanita paruh baya di hadapannya.
...ΩΩΩ...
Di lain tempat dalam waktu yang sama, Daisha sedang menghabiskan waktunya di rumah ibu Rahayu. Ia sedang asyik membersihkan rumah. Saat ia sedang menyapu di dekat kamar ibunya, tanpa sengaja ia mendengar ibunya yang sedang bercakap dengan seseorang melalui sambungan telepon. Ibu Rahayu berbicara dengan setengah berbisik, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat rahasia dan takut apabila ada yang mendengar percakapan mereka.
''Maaf saya tidak bisa keluar sekarang, anak saya sedang berkunjung kemari.'' ucap ibu Rahayu lirih.
Setelah beberapa saat mendengar jawaban dari balik telepon, ibu Rahayu kembali berucap.
''Seperti yang kamu tahu, Daisha dan Rendi tidak akan pernah bisa bersatu. Mereka itu masih saudara. Jadi hentikan omong kosongmu itu!'' sahut ibu Rahayu.
Deg! Daisha begitu terkejut mendengar ucapan ibunya dengan seseorang dari dalam kamarnya. Ia pun menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat ke arah kamar ibunya yang sedikit terbuka pintunya.
__ADS_1
''Jangan sok tahu kamu, Daisha itu anak saya. Anak perempuan saya!'' ucap ibu Rahayu yang mulai tersulut emosi.
''Sudah, saya matikan.'' ucap ibu Rahayu mengakhiri sambungan teleponnya dan segera bangkit dari duduknya untuk berjalan ke luar.
Deg! Ibu Rahayu berdiri mematung di depan pintu kamarnya menyaksikan putrinya yang diam tak bergeming di hadapannya.
''Daisha, kamu sedang apa di sini nak?'' tanya ibu Rahayu berusaha menampilkan raut wajah yang dibuat senormal mungkin.
''Ayo kita makan siang, ibu sudah siapkan makan siang untuk kita.'' ajak ibu Rahayu.
Namun, Daisha sama sekali tidak bergeming dan terus menatap ibunya dengan tatapan yang seakan menuntut sebuah penjelasan atas apa yang ia dengar tadi.
Ibu Rahayu mulai merasa resah dan menjadi salah tingkah dengan situasi yang terjadi saat itu.
Setelah cukup lama diam, akhirnya Daisha pun mengeluarkan suaranya.
''Apa maksud ucapan ibu tadi?'' tanya Daisha dengan ekspresi yang begitu datar dan cukup dingin.
''Maksud yang mana? Ibu tidak mengatakan apapun. Sepertinya kamu salah dengar.'' ucap ibu Rahayu mencoba menutupi kebenaran yang ada.
''Ibu jangan bohong sama Daisha. Daisha tahu ada sesuatu yang ibu sembunyikan akhir-akhir ini dari Daisha. Daisha bisa lihat itu dari wajah ibu. Daisha bisa melihat ibu sekarang menunjukkan sikap yang sedikit berbeda tiap bertemu atau sekedar membahas tentang Pak Rendi.'' sahut Daisha masih dengan nada tenang.
''Enggak sayang, nggak ada yang ibu sembunyikan dari kamu.'' ucap ibu Rahayu dengan mata yang kini mulai memerah menahan air mata.
''Sampai kapan akan terus ibu tutupi kenyataan yang sebenarnya?'' tanya Daisha.
''Apakah Daisha tidak berhak mengetahui yang sebenarnya, bu?'' tanya Daisha dingin.
''Maafkan ibu sayang, maafkan ibu.'' ucap ibu Rahayu yang kini telah berderai dengan air mata dan berusaha memeluk putri semata wayangnya.
__ADS_1