Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Rumah impian


__ADS_3

Malam ini aku masih terjaga bersama dengan semua risalah dan pikiranku, betapa malam ini aku ingin berteriak lepas bukan karena aku gundah atau terjebak diantara persoalan yang biasa disebut cinta. Menikmati malam bersama suara desir hati yang terus terbayang.


Ia biarkan sepoi angin malam mencumbu kulit halusnya dan terpaan semilir angin sedikit menggerakkan helai rambutnya yang mulai panjang.


''Kamu ngapain malam-malam begini duduk di luar?'' ucap seorang laki-laki dari arah belakang.


''Eh, bapak. Kok bapak belum tidur?'' tanya Daisha membalikkan tubuhnya.


''Seperti yang kamu lihat.'' jawab Rendi ikut berdiri di sebelah perempuan itu.


''Kau terlihat indah malam ini. Senyummu terpancar layaknya rembulan. Tanpa bergeming dan akan ku yakini, kau akan menjadi satu, milikku. Terlukis luka dalam duka, semoga dapat ku ganti dengan suka. Lekuk indah hadirkan pesona, simbol keagungan dan kemuliaan. Wahai kau sang pemilik hati, janganlah bermuram durja. Terendap lara yang memudar jadi cinta. Sesak bagai tak bernafas, namun jadi lega sejak kau ada. Lindungi dari sengat dunia yang mengancam sucinya lahirnya. Hukum siapapun yang berani menyakiti hatinya, termasuk aku.'' Ucap Rendi dari relung hatinya yang terdalam.


''Bapak kenapa sih senyum-senyum sendiri begitu?'' tanya Daisha menatap wajah lelaki di sebelahnya yang ternyata semakin nampak tampan.


''Memangnya tidak boleh?'' jawab Rendi balik bertanya.


''Ya boleh sih, pak. Tapi bapak tau nggak, bapak yang senyum-senyum, saya yang bahagia.'' jawab Daisha tersipu malu.


''Kamu ini ada-ada saja. Selain cerewet kamu juaranya gombal ya. Pantas banyak cowok jadi korban rayuan kamu.'' jawab Rendi.


''Enak aja, enggaklah pak.''


''Daisha?''


''Hm.'' jawab Daisha masih memandang hamparan langit luas berbintang.


''Berjanjilah bahwa kamu akan selalu bahagia dan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang kamu sayangi.'' ucap Rendi.


...ΩΩΩ...


Sehabis lari pagi keliling komplek, masih dengan celana pendek dan kaos yang basah karena cucuran keringat yang mengalir.


''Baru pulang, Ren?'' tanya tante Maya.


''Iya.” Rendi menuju meja makan dan mengambil segelas susu yang memang dikhususkan untuknya.


“Keluar jam berapa tadi pagi, Ren?” tanya tante Maya.


''Jam enam. Daisha kemana?''


''Daisha saja nih yang dicariin, anakmu nggak ditanyain?'' tante Maya menghirup segelas teh hijau di cangkir keramik berwarna putih.


Suasana menjadi hening, Rendi diam tak menggubris ucapan tantenya itu.


“Saya mau mandi dulu, nanti setelah selesai sarapan segera bersiap. Kita akan melakukan perjalanan jauh.” Rendi beranjak dari kursinya.


''Tapi pak?'' belum juga Daisha menjawab namun atasannya itu sudah berlalu.

__ADS_1


''Kita nggak jadi ke rumah eyang Rahayu ya ma?'' tanya Arka.


''Belum tau sayang, nanti kita tanya ke papa kamu dulu ya.''


''Kalian mau ke rumah Rahayu?'' tante Maya ikut menimpali percakapan itu.


''Rencananya begitu tante, tapi belum pasti. Itu si bos udah mengeluarkan titah apalah daya ini.'' jawab Daisha lemas.


''Ngomong-ngomong kok tante bisa kenal sama ibu?'' tanya Daisha.


''Em, eh teman. Ya, ibu kamu adalah temen lama tante.'' jawab tante Maya sedikit terbata.


''Oh, gitu ya.'' ucap Daisha tidak ingin bertanya lebih.


''Ayo berangkat!'' ucap Rendi yang sudah rapi dengan penampilan bak pangeran dari negeri ginseng.


''Papa, kita mau kemana?'' ucap Arka yang kini telah berada dalam gendongan papanya.


''Kalian temani papa ya, kita mau pergi ke suatu tempat.''


''Memangnya kita mau kemana pak?'' sambung Daisha.


''Ke KUA.'' jawab Rendi berbisik namun masih terdengar di telinga Daisha.


''Hah? Beneran pak? Kita mau ke KUA? Gas kuy..'' ucap Daisha terkekeh.


''KUA itu kepanjangan dari kepiting, udang, dan aha cumi-cumi.'' jawab Daisha asal.


''Jadi kita mau ke restoran seafood ya, ma? Ayo papa kita berangkat!'' teriak Arka.


''Hahaha bukan sayang, mama cuma bercanda aja kok. Nggak tau tuh papa kamu, aneh banget.'' jawab Daisha.


''Bicara apa kamu?'' tanya Rendi yang kini sudah berada di balik kemudi.


''Enggak pak, saya nggak ngomong apa-apa kok. Ini pasti ibu udah nungguin kita nih.''


''Setelah ini kita ke rumah ibu.'' jawab Rendi datar.


Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Rendi sudah memasuki kawasan perumahan elit di tepi kota.


''Kita mau ke rumah siapa pak, bagus banget?'' tanya Daisha begitu takjub melihat hunian mewah itu.


''Yaelah, ditanya dari tadi diem mulu. Apa sih susahnya jawab doang.'' gerutu Daisha.


''Sudah sampai, ayo kita turun.''


Begitu turun dari mobil, mereka pun sudah disambut oleh seorang lelaki tampan yang begitu berpenampilan rapi dan sangat wangi.

__ADS_1


''Selamat pagi pak Rendi, selamat datang. Silahkan masuk pak. Ini pasti putra bapak dan...'' ucap lelaki itu terjeda. Ia begitu terpesona oleh kecantikan Daisha yang begitu sederhana namun begitu memancarkan aura yang tak biasa.


''Ini mama Daisha, mamanya Arka. Cantik kan om? Tapi om jangan coba-coba deketin mama, awas kalau om berani gangguin mama hadapi dulu Arka.'' ucap Arka dengan gaya yang begitu protektif.


''Enggak dek, om nggak akan berani godain mama kamu. Kalau begitu, mari silakan masuk.'' ucap lelaki itu mempersilakan.


Daisha pun menjadi sedikit tersipu dan tertawa gemas melihat tingkah anak asuhnya tersebut.


''Silahkan di lihat-lihat dulu bapak, ibu. Bagaimana apakah ada yang harus dirubah atau perlu tambahan lain?'' ucap lelaki itu dengan sopan.


''Beri kami waktu untuk berbicara terlebih dahulu.'' ucap Rendi pada petugas tadi. Dan ia pun dengan senang hati pergi meninggalkan mereka bertiga untuk memberi ruang diskusi.


''Bagaimana? Kamu suka?'' tanya Rendi.


''Hah?'' ucap Daisha kaget. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, benar-benar seperti mimpi yang jadi nyata, pikirnya.


''Bagus, pah.'' jawab Arka setelah ikut berkeliling untuk melihat isi rumah tersebut.


''Dari sini ke rumah ibu dan rumah lama tidak terlalu jauh dan lingkungan di sini juga masih asri.'' ucap Rendi.


''Ini sih terlalu bagus, pak. Luar biasa. Memangnya bapak mau beli rumah ini?'' tanya Daisha.


''Jika kamu suka, saya beli.''


''Buat apa pak?''


''Untuk kita.'' jawab Rendi.


''Yey! Kita punya rumah baru!'' sorak Arka yang menggandeng kedua tangan orang tuanya itu.


Daisha pun makin dibuat heran dan tak mengerti akan jalan pikiran bosnya itu.


''Tapi bapak kan sudah punya rumah. Memangnya masih kurang ya pak?''


''Itu rumah peninggalan nenek saya, biarkan tante Maya yang menempati. Dan ini rumah untuk kita nanti.''


''Aaah bapak so sweet banget sih. Meleleh hati adik bang.'' ucap Daisha tersipu.


''Tapi pak, sepertinya ini terlalu berlebihan.''


''Saya tidak menerima sebuah penolakan.'' jawab Rendi tegas.


Sejujurnya rumah ini adalah rumah impian Daisha persis seperti yang ia lihat beberapa waktu lalu saat ia sedang iseng melihat gambar-gambar rumah dari ponselnya. Tanpa sengaja, Rendi yang sedang melihat keberadaan putranya itu pun melihat ponsel Daisha yang masih menyala dan menampilkan sebuah gambar rumah itu. Sebuah rumah dengan desain minimalis dengan halaman rumput hijau yang membentang luas dan begitu teduh akan pepohonan yang begitu memanjakan paru-paru. Dengan konsep rumah modern semi terbuka yang cukup memberi ruang bagi siapa saja yang hendak bertamu di rumah itu, namun privasi pemilik rumah masih tetap terjaga.



''Tapi pak ini pasti mahal banget, gaji saya nggak akan cukup untuk membayar ini. Misal harus dicicil pun sepertinya butuh waktu berpuluh-puluh tahun sampai lunas.'' jawab Daisha polos.

__ADS_1


''Kamu ini lucu sekali.'' ucap Rendi gemas.


__ADS_2