
Sunyi malam ini, temaram cahaya rembulan menyibak kabut yang menyelimuti gelapnya malam. Lautan bintang berpijar seakan mampu untuk ikut berbicara, setelah kesedihan akan ada kebahagiaan.
Sekembalinya Rendi dari rumah Daisha, ia segera merebahkan tubuhnya untuk sedikit mengurai rasa lelahnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Angannya melayang menyusuri kenangannya yang telah lalu. Kemudian, ia mengingat sebuah kotak kayu yang siang tadi anaknya temukan. Rendi segera bangkit dari tidurnya dan mengambil sebuah kotak kayu yang tadi ia letakkan di sebuah nakas dekat tempat tidurnya.
Sejenak Rendi pandangi kotak itu. Kemudian, ia membukanya dengan hati-hati. Betapa terkejutnya ia setelah melihat isi kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang sederhana namun sangat elegan, kalung yang ia berikan pada mendiang istrinya ketika melamarnya dulu. Ia semakin terkejut tatkala menemukan sepucuk surat yang terselip di dalamnya. Sebuah pesan yang ditulis mendiang istrinya sebelum meninggal dunia setelah melahirkan putra mereka. Dengan perlahan ia buka lembaran itu.
Mas Rendi, terima kasih telah mewarnai dan mengahapus hari-hari kelabuku. Terima kasih untuk kesabaran dan kasih sayangmu selama ini. Maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku titipkan buah hati kita padamu. Jaga dan rawat ia dengan limpahan cinta kasih.
Mas, maaf jika aku harus pergi lebih dahulu. Jika suatu saat nanti kamu menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hatimu kembali, rangkul dan raih ia. Karena jika kamu bahagia, aku akan merasa jauh lebih bahagia di sana.
Dari yang mencintaimu,
Raline.
Desir suara angin yang bergoyang menghembus seakan membawa kembali kenangan lalu. Tentang kerinduan yang mendalam, tentang lagu cinta kasih selaras hati. Ingatan Rendi kembali pada kejadian beberapa tahun silam.
''Sayang, kamu harus kuat. Jangan pernah menyerah. Ayo bangun, lekas susui anak kita. Lihatlah sayang, anak kita sangat mirip denganmu.'' ucapnya dengan nada yang bergetar berusaha menguatkan istrinya yang tak sadarkan diri karena pre-eklampsia setelah melahirkan putra pertama mereka. Rendi menangis tersedu dengan menggendong putra mereka yang nampak tertidur pulas.
''Sabar, Ren. Kamu harus kuat dan selalu berdoa untuk kesembuhan Raline.'' ucap tante Maya menepuk lembut bahu keponakannya itu.
Saat Rendi sudah mulai untuk bisa bersikap tenang, tiba-tiba saja jemari tangan Raline mulai bergerak.
''Mas..'' ucap Raline lemah.
''Raline, kamu bangun sayang. Tunggu sebentar, mas panggilkan dokter dulu.''
''Nggak usah, mas!'' cegah Raline.
''Sayang, lihatlah anak kita dia sangat tampan.'' ucap Rendi merasa bahagia.
__ADS_1
Raline pun tersenyum dan memandangi dua lelaki beda generasi itu.
''Mas, tolong ambilkan tas yang berwarna hitam itu dan simpan kotak kayu di dalamnya. Setelah ini, mas harus segera buka kotak itu.'' ucap Raline lirih.
''Iya sayang, kamu nggak usah mikir yang macem-macem dulu. Yang penting sekarang kamu harus segera sembuh.''
''Mas..'' ucap Raline terbata.
''Mas di sini sayang.'' ucap Rendi.
''Mas harus janji sama aku, kalau mas Rendi akan selalu bahagia meskipun tanpa aku.''
''Ssst... Kamu nggak usah ngomong macam-macam dulu. Kita akan selalu bersama-sama.'' ucap Rendi dengan perasaan yang mulai tak tenang.
''Tapi aku harus pergi, mas.. Aku titipkan anak kita.''
''Raline, bangun sayang! Bangun!'' teriak Rendi frustasi.
Mendengar suara keributan dari dalam kamar, tante Maya pun segera membuka pintu ruang rawat Raline. Tante Maya terkejut melihat keadaan di dalam ruangan itu. Dengan segera tante Maya mengambil Arka dari gendongan Rendi, bayi kecil itu menangis dengan sangat kencang. Seolah ikut merasakan kesedihan dan kepedihan yang orang tuanya rasakan.
''Dokter, tolong!'' teriak tante Maya setelah mengambil alih Arka ke dalam gendongannya.
Dengan cepat, dokter dan beberapa perawat pun segera memeriksa keadaan pasien.
''Mohon maaf, bapak ibu silahkan tunggu di luar. Dokter akan memeriksa keadaan pasien. Mohon kerja samanya.'' ucap perawat dan segera menutup pintu ruangan itu.
''Sabar, Ren. Kita terus berdoa untuk keselamatan Raline.'' ucap tante Maya berusaha menenangkan Rendi yang nampak begitu kalut dan tak kuasa menahan air matanya.
Setelah beberapa saat, pintu ruangan itu pun kembali dibuka. Dengan cepat Rendi menghampiri dokter yang keluar dari balik pintu.
__ADS_1
''Bagaimana dokter? Bagaimana keadaan istri saya?'' tanya Rendi frustasi.
''Mohon maaf Pak Rendi, kami sudah berusaha melakukan semaksimal mungkin. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Maafkan kami.'' ucap dokter itu dengan sedih.
''Nggak! Ini semua nggak bener!'' teriak Rendi dan menerobos pintu untuk memastikan sendiri keadaan istrinya.
''Sabar, Ren. Kamu harus ikhlas.'' ucap tante Maya yang ikut menangis sedih.
Dokter dan perawat pun sedikit menjauh dan memberi ruang bagi Rendi untuk melihat istrinya kembali.
''Raline, bangun sayang! Bangun!''
''Jangan tinggalin mas sendirian! Raline, kau selalu berkata padaku, "Sayang, kita akan hidup bersama-sama sampai rambut kita memutih dan kita juga akan mati pada hari yang sama." Tapi ternyata kau lebih dulu pergi meninggalkan aku. Mana janjimu Raline?''
''Bangun sayang! Kepada siapa aku dan anak kita harus bertanya dan bagaimana kami bisa hidup? Bagaimana mungkin kau pergi sebelum aku?'' ucap Rendi pilu.
''Raline, tak ingatkah engkau pada kata-katamu dulu, bagaimana mungkin kau membawa hatiku padamu dan bagaimana aku bisa memberi hatiku padamu? Ketika kita sedang bersantai bersama, kau selalu berkata, "Sayang, apakah ada orang lain yang bisa menghargai dan saling mencintai seperti yang kita lakukan? Apakah mereka benar-benar seperti kita? Bagaimana mungkin kau pergi sebelum aku?''
''Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Aku hanya ingin pergi bersamamu. Bawalah aku bersamamu ke tempat kau berada. Perasaanku kepadamu tidak akan bisa ku lupakan di dunia ini, dan kesedihan ku tak terbatas. Di mana aku harus meletakkan hatiku saat ini, dan bagaimana aku bisa hidup bersama dengan anak yang selalu merindukanmu?''
''Ketika anak kita besar nanti, siapakah yang harus dipanggilnya ibu? Siapakah yang bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu?'' ucap Rendi dalam hatinya yang hancur berkeping-keping.
''Bangun sayang! Mas mohon.'' ucap Rendi dengan air mata yang bercucuran di wajahnya.
''Kamu harus ikhlas Rendi! Relakan kepergian Raline agar ia tenang di alam sana.'' ucap tante Maya.
Suasana di tanah pemakaman yang terletak di pinggir kota itu, kini mulai sepi ditinggalkan para peziarah. Hanya menyisakan beberapa orang saja di sana. Di atas gundukan tanah merah yang bertabur bunga mawar segar, Rendi duduk terdiam dan terus memandangi dengan lekat.
''Mas ikhlas melepas kepergianmu, pergilah dan berjanjilah jika kamu akan lebih bahagia di sana. Bersama mama dan juga papa di surganya. Selamat jalan kasih. Mas janji, akan merawat anak kita dengan baik. Mas pergi dulu, mas akan sering mengunjungimu ke sini.'' ucap Rendi yang berjalan menjauh dari pusara istrinya.
__ADS_1