Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Malam panjang


__ADS_3

Malam selepas acara pernikahan menjadi malam yang mendebarkan bagi sepasang pengantin baru itu. Rembulan sepertinya akan lebih lama bertengger, bintang-bintang akan lebih lama tersenyum mesra.


''Lho kamu kenapa masuk ke kamar ini?'' tanya ibu Rahayu yang baru saja selesai mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih santai.


''Ini kan kamar Daisha, bu.'' jawab Daisha.


''Kamu ini bagaimana sih, kamu kan sudah menikah dengan nak Rendi. Seharusnya kalian berada dalam kamar yang sama.''


''Tapi, bu?'' protes Daisha.


''Udah sana, buruan ke kamar nak Rendi.'' usir ibu Rahayu.


''Ibu nih tega banget, Daisha kan takut bu.'' gerutu Daisha.


''Kok kamu masih di sini nak?'' tanya mommy Marina yang ikut masuk ke dalam kamar hotel itu.


''Kalau Daisha pergi dari kamar ini, terus bagaimana dengan Arka? Dia pasti nyariin Daisha.'' ucap Daisha menggigit bibir bawahnya guna menyembunyikan rasa gugup yang menyelimuti hatinya dan pikirannya.


''Kamu ini lucu sekali, sudah sana segera hampiri suami kamu. Biar Arka nanti tidur dengan mommy dan ibu. Dia masih di luar bermain bersama Beni.'' ucap mommy Marina.


''Lagi pula, sepertinya Arka sudah tak sabar untuk mendapatkan adik.'' goda Ibu Rahayu.


''Ih, ibu apaan sih!''


''Sudah sana, ke kamar suami kamu!'' ucap mommy Marina.


''Baiklah.'' jawab Daisha pasrah. Ia pun berjalan menuju sebuah kamar hotel yang telah disiapkan oleh Rendi. Sebuah kamar yang akan menjadi kamar pengantin mereka.


Daisha kembali menggigit bibir bawahnya dan melangkah ragu untuk menuju kamar Rendi, yang kini telah resmi menjadi suaminya.


Setelah menarik napas panjang, ia perlahan masuk ke dalam kamar itu. Tampak kosong dan tak ada siapa pun, hanya suara percikan air yang terdengar dari arah kamar mandi.


''Oh, Pak Rendi sedang mandi. Aku mesti gimana ya? Aku harus duduk di ranjang itu atau berdiri saja ya?''


''Tapi gerah sekali jika harus terus memakai baju ini seharian.'' ucap Daisha ragu.


Ia tampak bingung dan salah tingkah. Sesaat pintu kamar mandi mulai terbuka. Rendi keluar dengan menampilkan dada bidangnya ditambah dengan deretan roti sobek di perutnya. Bawahannya, ia hanya memakai celana pendek berwarna hitam di atas lutut.


''Aaaaaaaa!'' pekik Daisha terkejut sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Rendi pun mengerutkan keningnya.


''Kamu kenapa teriak-teriak?'' tanya Rendi santai dengan menggasak rambut basahnya dengan handuk.

__ADS_1


''Bapak tutupin dong itunya, aurat pak!'' ucap Daisha tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


''Apanya yang aurat? Kamu ini ada-ada saja. Sudah, buka mata kamu.'' ucap Rendi terkekeh.


Daisha menurunkan kedua tangannya, wajahnya memerah menahan malu.


''Kamu nggak mau ganti baju? Atau akan tetap memakai baju seperti itu?'' tanya Rendi.


''Ya ganti banu dong, pak. Gerah tau pakai baju seperti ini terus.'' ucap Daisha sewot.


''Tapi, baju gantinya masih di kamar ibu. Saya ambil dulu ya pak.'' ucap Daisha malu.


''Nggak usah! Sudah sana mandi, biar nanti saya suruh Naya untuk mengantarkan baju kamu ke sini.'' ucap Rendi sambil berjalan menuju sebuah walk in closet di kamar itu.


Setelah kepergian Rendi, Daisha merasa sedikit lega. Segera ia melepas semua perhiasan yang melekat di tubuhnya. Ia pun juga membersihkan riasan yang menghiasi wajahnya. Berulang kali ia mencoba melepas kancing belakang yang menghiasi gaunnya.


''Kurang ajar bener nih si Naya, nggak mau bantuin buat melepas gaun ini.'' gerutu Daisha. Pasalnya Naya baru saja datang ke kamarnya untuk mengantar sebuah tas yang berisi pakaian ganti milik Daisha. Ia hanya membantu membersihkan riasan dan merapikan kembali tatanan rambutnya.


''Belum mandi juga?'' tanya Rendi yang baru saja keluar dari ruang ganti.


''Emm, belum pak.''


''Pak Rendi, boleh minta tolong?'' tanya Daisha dengan wajah yang sudah merah padam.


''Minta tolong apa?''


''Emm, bantuin melepas kancing di gaun saya.'' ucap Daisha menunjuk ke arah belakang gaunnya.


Rendi yang mendengar perkataan Daisha pun segera melangkah menuju arah istrinya berdiri tersebut.


''Beneran ini saya yang bantuin?'' tanya Rendi memastikan.


''Iya, pak. Mereka sengaja ngerjain saya ini.'' kesal Daisha.


''Saya buka ya.'' Rendi pun tersenyum dalam hati. Dengan hati-hati ia mencoba melepas beberapa kancing yang tersusun rapi di gaun bagian punggung milik Daisha. Satu persatu kancing mulai terbuka, menampilkan kulit mulus milik istrinya. Dengan berat, Rendi menelan salivanya. Sekuat tenaga, ia menahan sesuatu yang seketika memberontak dari dalam celananya.


''Udah belum pak?'' tanya Daisha. Ia merasa sangat malu.


''Su.. sudah.'' jawab Rendi terbata dengan pemandangan indah nan halal di hadapannya.


Daisha pun segera berlari menuju kamar mandi guna menyembunyikan rasa malunya.


Di dalam kamar mandi, Daisha berulang kali menata debarannya. Berulang kali mencoba untuk menetralkan segala pikiran yang berkecamuk di dadanya. Setelah merasa cukup tenang, akhirnya Daisha mulai memantapkan hati untuk keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia karena ternyata ia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Ia tadi buru-buru masuk ke dalam dan lupa membawanya. Beruntung ada sebuah bathrobe yang disediakan di sana. Ia menjadi ragu kembali untuk keluar.

__ADS_1


Merasa sudah terlalu lama Daisha berada di dalam kamar mandi, Rendi pun mulai merasa cemas. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju pintu kamar mandi.


''Daisha!'' teriak Rendi sambil mengetuk pintu.


''Kamu baik-baik saja kan?''


Mendengar ketukan dari luar, Daisha menjadi semakin panik.


''Duh, gimana ini?''


Merasa tak ada jawaban, Rendi pun semakin mengeraskan teriakannya, takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


''Daisha!'' kembali Rendi berteriak dengan menggedor-gedor pintu.


''Kamu kenapa? Saya dobrak pintunya ya!''


''Eh, iya pak! Saya baik-baik saja.'' ucap Daisha terbata.


''Kenapa lama sekali di dalam? Cepat keluar atau saya dobrak pintunya. Jangan membuat saya khawatir.''


''I.. iya pak, saya keluar sekarang.''


Daisha pun dengan perlahan mulai membuka pintu kamar mandi itu. Ia menyembunyikan rasa malu yang memenuhi hatinya. Seketika, Rendi menjadi membatu. Nafasnya seolah tercekat, tenggorokannya menjadi kering. Dengan susah payah ia menelan salivanya melihat apa yang ada di depan matanya. Wajah mereka berdua menjadi merah padam.


''Ka..kamu?'' ucap Rendi terbata dengan mata yang membulat sempurna.


''Pak, jangan salah paham dulu. Baju ganti saya tertinggal di luar. Saya buru-buru tadi.'' kilah Daisha menepis pikiran Rendi. Daisha pun segera menerobos lengan kekar itu dan mengambil baju dari dalam tasnya.


''Berhenti!'' ucap Rendi.


''Bukankah seharusnya kita?'' tanya Rendi menggantung ucapannya. Ia mengingat kembali tentang trauma yang Daisha alami. Ia pun kembali mengurungkan niatnya.


''Ah, sudahlah, lupakan saja.'' ucap Rendi dengan berlalu ke arah balkon kamar hotel itu. Ia membuang nafasnya kesal.


Daisha pun menjadi ragu. Antara takut dan merasa belum siap. Namun, ia juga mengerti apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu. Seketika ia merasa seolah tercubit sakit. Ia mengingat kembali wejangan ibu dan mommy nya tentang kewajiban-kewajiban yang harus ia penuhi sebagai seorang istri. Dengan memantapkan hati, Daisha berjalan menghampiri Rendi yang berdiri mematung memandang ke langit luas.


''Pak Rendi.'' sapa Daisha.


''Hm?'' jawab Rendi singkat.


''Kenapa masih menggunakan bathrobe itu? Segera ganti baju kamu, nanti kamu masuk angin.'' jawab Rendi kembali mengarahkan pandangannya ke langit luas.


''Pak?'' ucap Daisha terbata.

__ADS_1


''Kita masuk ke dalam ya.'' ucap Daisha dengan menggigit bibir bawahnya.


''Kamu duluan saja, jika mengantuk tidurlah terlebih dahulu. Saya masih ingin di sini.'' jawab Rendi.


__ADS_2