Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Benci jadi cinta


__ADS_3

Pukul 11.30 Wib sebuah pesawat penerbangan dari luar negeri mendarat dengan sempurna di landasan pacu. Di sebuah sudut bandara internasional, seorang perempuan dengan pakaian yang begitu elegan berjalan menenteng sebuah tas Kremes berwarna hitam klasik, nampak elegan dan tentunya berkelas sedang berjalan dengan high heels senada yang semakin menambah nilai glamor. Di belakangnya berjalan seorang pria berbadan atletis dengan pakaian serba hitam dan nampak gagah perkasa dengan kaca mata hitamnya.


Begitu tiba di pintu keluar bandara, sebuah mobil berhenti tepat di depan perempuan itu. Dengan sigap sang pria atletis yang setia disisinya itu segera membukakan pintu untuknya. Mobil melaju dengan cepat membawa perempuan itu menuju sebuah apartemen kelas atas di pusat kota.


''Terima kasih, kamu bisa pergi sekarang. Dan ingat, segera datang jika saya butuhkan.'' ucapnya pada sosok pria yang selalu mengikuti langkahnya. Pria itu pun dengan begitu hormat menundukkan kepalanya dan segera beranjak menjauh dari apartemen itu.


Setelah merebahkan tubuhnya pada sebuah ranjang empuk yang mewah, perempuan tadi berjalan dan duduk di sebuah sofa mewah. Ia membuka aplikasi pencarian pada ponselnya. Beberapa detik kemudian sebuah artikel muncul dalam layar ponselnya.


''Rendi Atmaja, seorang pengusaha muda sukses yang cukup cakap. Boleh juga.'' gumamnya sendiri sambil terus memandangi layar ponselnya yang menampilkan sosok Rendi Atmaja di sana.


...ΩΩΩ...


Di sudut lain, Daisha baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah ibu Rahayu.


''Siang mbak-mbak dan mas-mas semua.'' ucapnya menyapa para tim dapur yang sedang berkutat dengan tugasnya masing-masing.


''Siang juga mbak.'' jawab mereka kompak.


''Eh, ada den Arka.'' ucap Desi.


''Halo mbak Desi.'' ucap Arka.


''Ibu kemana mbak?'' tanya Daisha.


''Ibu baru ke rumah Pak Dasuki, mbak. Lagi nganter pesenan kue. Tadi sih aku udah nyuruh Tatang buat nganterin, tapi ibu ngotot pengen nganter sendiri. Sekalian mau nitip uang arisan katanya.'' ucap Desi.


''Oh, gitu. Yaudah aku sama Arka ke dalam dulu ya. Ini di bagi-bagiin sama yang lain rujak buahnya.''


''Iya, mbak. Makasih mbak Daisha.'' jawab Desi.


''Sama-sama.''


Setelah menaruh tas dan peralatan sekolah Arka, Daisha membawa Arka menuju taman belakang untuk mengajak Arka bermain.


''Mama, kok eyang Rahayu belum pulang ya? Arka udah kangen sama eyang.'' ucap Arka.


''Sebentar lagi eyang juga pulang, kita tunggu dulu ya.'' jawab Daisha.


''Kita main bola basket, yuk ma.'' ajak Arka.


''Oke, siapa takut!''


Dari pintu gerbang depan, nampak Naya baru saja turun dari sebuah motor dengan warna hijau yang melekat dan menjadi ikonnya.


''Hai, guys.. Lagi main basket ya?'' teriak Naya begitu memasuki halaman rumah.


''Kayaknya ada yang lagi bahagia banget nih.'' ucap Daisha.


''Harus selalu bahagia dong. Di dalam hati yang bahagia ada jiwa yang kuat!'' jawab Naya.


''Emang gitu ya pepatahnya?'' tanya Daisha.


''Maybe!'' jawab Naya asal.


''Eh, ada si ganteng. Halo gantengnya tante.'' ucap Naya mencubit gemas hidung mancung milik Arka.


''Hai, tante Naya.''


''Papa kamu kemana, Arka?'' tanya Naya.

__ADS_1


''Ngapain lu nanyain papanya Arka?'' ucap Daisha.


''Widih... sabar bosku. Nggak usah cemburu gitu dong.'' goda Naya.


''Apaan sih, siapa juga yang cemburu.''


''Udah ngaku aja, naksir kan lu sama Pak Rendi?'' goda Naya.


''Nggak!''


''Nggak salah kan?'' ledek Naya.


''Mama suka ya sama papa Rendi?'' tanya Arka ikut menggoda pengasuhnya itu.


''Arka jangan ikut-ikutan tante Naya deh.'' protes Daisha.


''Sikat aja kali, Sha! Kalau lu nggak mau, gue juga nggak nolak.'' goda Naya.


''Sayangnya Pak Rendi nggak bakalan mau sama situ.'' ucap Daisha terkekeh.


''Iya tante Naya, papa tuh sukanya sama mama Daisha. Tante nggak boleh suka sama papa.'' ucap Arka.


''Hahaha bisa diatur.'' ucap Naya selengekan.


''Apaan sih suka-sukaan segala. Udah yuk, kita masuk aja ke dalam.'' ucap Daisha.


Saat mereka hendak masuk ke dalam rumah, ibu Rahayu pun datang dengan motor matic yang selama ini sering Daisha pakai untuk pergi kuliah.


''Eh, ada cucu eyang.''


''Cucunya doang ini yang di sapa bu?'' tanya Naya.


''Ibu nih mentang-mentang udah dapat cucu ganteng terus anak perempuannya dilupain gitu aja.''


''Nggak usah ngambek gitu dong.'' ucap ibu Rahayu dengan terkekeh.


''Eyang, kok eyang baru pulang?'' tanya Arka.


''Iya, sayang. Tadi eyang arisan dulu. Yuk, kita masuk. Kalian belum makan siang kan?'' tanya ibu Rahayu.


Mereka pun segera berjalan menuju ruang makan untuk makan siang bersama.


''Kalian tuh sering-sering dong datang ke sini.'' ucap ibu Rahayu.


''Maaf ya bu, Daisha jarang pulang akhir-akhir ini.''


''Udah nggak apa-apa, sekarang kita makan dulu. Arka, mau eyang suapi?'' tanya ibu Rahayu.


''Mau eyang, sama gulai ayamnya eyang!'' seru Arka bersemangat.


''Siap, bos kecil.''


''Bu, gimana kateringnya?''


''Alhamdulillah, makin banyak yang pesen sekarang. Ibu aja baru nambah 2 karyawan lagi buat bantuin di dapur.''


''Lumayan ya bu omsetnya kalau gitu.'' ucap Naya.


''Disyukuri aja, namanya rejeki. Ini juga berkat Pak Rendi yang banyak membantu ibu.'' ucap ibu Rahayu.

__ADS_1


''Ciee dibantuin calon mantu.'' goda Naya.


''Diem deh kamu, Nay. Berisik tau!'' ucap Daisha.


''Bu, anak ibu ada yang lagi kasmaran nih. Ibu setuju nggak kalau Daisha sama Pak Rendi?'' tanya Naya.


''Setuju!'' jawab Arka bersemangat.


''Udah lampu hijau banget, nunggu apa lagi sih, Sha?''


''Nunggu kamu kawin sama Beni dulu.'' ucap Daisha terkekeh.


''Anjaaay!'' ucap Naya.


Dering telepon pada ponsel Daisha pun menampilkan sebuah panggilan dari seseorang.


''Eh, diem dulu. Pak Rendi telepon nih.'' ucap Daisha.


''Panjang umur, baru juga diomongin.'' ucap Naya.


''Sssttt.''


''Halo pak?'' ucap Daisha.


''Kamu lagi di rumah ibu?'' tanya Rendi.


''Iya, pak."


''Tunggu di situ, saya dan Beni sedang menuju ke rumah ibu.''


''Memangnya bapak nggak kerja?''


''Kami baru saja bertemu dengan klien, kebetulan tempat pertemuannya tidak jauh dari rumah ibu. Tunggu saja di situ!''


''Iya, pak. Bapak hati-hati.'' ucap Daisha mengakhiri sambungan teleponnya.


Mendadak suasana menjadi hening.


''Kalian kenapa sih kok pada diem semua?'' tanya Daisha keheranan.


''Perhatian banget sih sama calon laki.'' goda Naya.


''Suka-suka aku dong.'' ucap Daisha.


''Papa mau ke sini, mah?'' tanya Arka.


''Iya, sayang. Sedang dalam perjalanan sama om Beni.''


''Hah? Si Beben ikut juga?'' tanya Naya.


''Iya.''


''Bakalan gonjang ganjing ini dunia kedamaian.'' ucap Naya.


''Dunianya yang gonjang ganjing atau hatinya yang gonjang ganjing?'' tanya ibu Rahayu.


''Aku tuh sebel banget bu sama dia. Ngeselin mulu orangnya. Rese pula!''


''Hati-hati lho Nay, biasanya tuh dari benci jadi cinta.'' ucap Daisha.

__ADS_1


''Kayak elu sama Pak Rendi kan?'' ucap Naya.


__ADS_2