Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Bagai kepompong


__ADS_3

Malam semakin larut. Angin malam menyelimuti perasaan aneh yang akhir-akhir ini sering menari-nari di pikirannya yang hadir bersama hangatnya cahaya kesunyian. Malam ini nampak tidak seperti biasanya bagi seorang Rendi Atmaja. Berkali ia melirik jarum jam yang menempel di dinding kamarnya. Terhitung tak kurang dari dua puluh menit lagi jarum jam akan menunjukkan pergantian hari pertanda dimulainya pagi. Rasa khawatir bercampur dengan gengsi yang tinggi menyelimuti hatinya.


''Ini perempuan kenapa nggak pulang-pulang udah malam begini!'' gerutu Rendi.


''Saya telefon aja kali ya? Eh, tapi ge-er nanti orangnya!''


''Tapi ini terlalu larut dan bahaya untuk wanita seperti dia!''


''Ah, bodoh amat! Nanti juga pulang sendiri.'' ucapnya menepis rasa cemas yang bersarang di pikirannya.


Berkali-kali Rendi terlibat pergulatan dengan batinnya sendiri.


''Aku cari saja! Kalau terjadi apa-apa aku juga yang repot nanti.''


Segera ia mengambil jaket hitam yang terlampir di kursi kerjanya dan dengan cepat meraih kunci mobilnya. Ia segera melajukan kendaraannya menyusuri jalanan ibu kota yang masih saja terlihat ramai seolah tak ada matinya. Sesekali ia melambatkan laju kendaraannya ketika melihat warung tenda bertuliskan Pecel Lele dengan gambar-gambar khas di sana yang membentang luas di emperan-emperan jalanan kota.


Karena malam semakin larut dan tak kunjung menemukan orang yang ia cari, dengan berat hati ia sedikit menepis rasa gengsi yang bersarang di otaknya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah ponsel mewahnya dan mencoba menghubungi nomor telepon Daisha. Berkali-kali ia mencoba menghubungi namun tetap saja, tak ada yang bersuara, hanya lantunan lagu berpadu dengan suara desah laju kendaraan yang berderu. Ia mencoba menelepon sekali lagi, kali ini suara operator menjawab.


''Kemana sih, kamu! Bikin susah orang saja!'' ucap Rendi dengan perasaan yang bercampur aduk, antara kesal, cemas, dan khawatir.


''Perempuan jam segini masih keluyuran nggak jelas!'' gerutu Rendi.


Rendi pun kembali melajukan kendaraannya dengan laju yang sedikit diperlambat dan sesekali ia menghentikan jalannya untuk turun dan mencari keberadaan orang yang ia cari.


Di lain tempat, di sudut kota. Berbeda dengan Rendi yang sedang gundah gulana, Daisha sedang menghabiskan malam Sabtunya bersama sahabat-sahabat tercintanya. Karena terbawa oleh suasana yang hangat dan penuh canda, seolah mereka bertiga melupakan waktu yang ada.


''Pokoknya kalau kalian udah jadi orang, jangan lupain aku ya.'' ucap Naya.


''Emang selama ini kita bukan orang?'' sambung Beni.


''Bukan, tapi bidadari dari langit ke tujuh.'' jawab Daisha.


''Emangnya neng Shasha udah pernah ke sana?'' tanya Beni pada Daisha.


''Kalian nyebelin deh. Aku lagi serius, kalian bercanda mulu!'' protes Naya.


''Iya iya, neng Naya geulis.'' ucap Beni lembut.


''Dih!''

__ADS_1


''Jangan terlalu serius, ah. Karena dunia sekarang hobinya bercanda.'' ucap Daisha.


''Mulai lagi dia berfilosofi.'' ucap Naya jengah karena selalu kalah debat dengan sahabat perempuannya itu.


''Semenjak ada kata baper, bercanda jadi nggak ada batasnya.'' sambung Beni terkekeh.


''Betul!'' Daisha dan Rendi pun saling adu kepal tangan dan tertawa.


''Jangan cemberut dong Nay, cantiknya ilang satu kilo ntar.'' canda Daisha.


''Bodo! Rempong deh, kalian.'' sebal Naya.


''Rempong? Persahabatan itu memang bagai 'kepompong' kadang kepo! Kadang rempong!'' sambung Daisha dengan tawanya.


''Kalau saja mulutmu itu BPKB, pasti udah aku gadaikan dari kemarin-kemarin!'' ucap Naya kesal.


Mereka pun kembali tertawa seolah melupakan segala beban yang membelenggu dan mengabaikan tantangan esok yang akan datang.


''Kalian tahu nggak? Harus abang Beni akui, semenjak berteman dengan kalian membuat abang jadi lebih religius.''


''Kenapa bisa gitu?'' tanya Daisha heran.


Lagi-lagi, mereka pun kembali tertawa terpingkal. Berbagai obrolan receh, canda tawa menghiasi tiga sahabat yang tengah duduk bersila di atas tikar yang sedikit usang yang beratapkan langit malam berbintang. Memang sangat menyenangkan apabila memiliki kawan satu misi dan visi yang selalu menghadirkan tawa dan sedikit mampu menghapus lara.


Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dengan seorang kemudi yang sedari tadi memperhatikan ketiga sosok sahabat itu. Ya, Rendi telah berhasil menemukan orang yang ia cari. Perasaanya kembali kesal karena orang yang ia khawatirkan malah sedang asyik tertawa bersama orang lain. Ia menjadi uring-uringan sendiri.


''Udah yuk, balik. Keburu dikunci ntar gerbangnya. Nih, uangnya aku yang traktir.'' ucap Daisha.


''Sering-sering ya bu, bos.'' ucap Naya mengambil uang seratus ribuan itu.


''Ya ampun, udah jam 12 malam ternyata. Kamu sih Ben, nyebelin!'' gerutu Naya.


''Abang Beni lagi yang disalahin, memang lelaki itu dimana-mana salah.'' ucap Beni dengan dramatis.


''Dengerin ya abang Beni, di dunia ini itu adanya cuma MASALAH, bukan MBAKSALAH. Sampai sini paham kan?'' ucap Daisha terkekeh.


''Sialan! Udah-udah bubar!'' ucap Beni kesal.


Mereka pun berjalan ke arah mobil Br*o milik Beni. Dengan sigap dan jiwa kesatria, Beni mengantarkan gadis-gadis itu pulang ke rumahnya masing-masing. Rendi pun mengikuti mobil Beni dari belakang. Ketika hendak sampai gang arah kompleks perumahannya, bagaikan seorang pembalap profesional, Rendi menyalip mobil yang Beni kendarai.

__ADS_1


''Woi! Kalau bawa mobil hati-hati!'' teriak Beni kesal melihat mobil yang menyalip dengan ugal-ugalan tersebut.


''Kayak kenal itu mobil.'' batin Daisha menerka-nerka.


Setelah sampai di gerbang rumah bosnya, Daisha pun berpamitan dengan kedua sahabatnya.


''Nggak usah mampir, udah malam. Satu lagi, anterin temen aku sampai depan rumah dengan selamat, kalau perlu sampai kamarnya, jangan diturunin di depan gang!''


''Siap, laksanakan bos!'' jawab Beni dengan memberi hormat.


''Sembarangan lu!''


''Hati-hati, kalian.'' ucap Daisha kembali sebelum menutup pintu gerbangnya.


Daisha berjalan dengan pelan ketika memasuki rumah atasannya, beruntung ia memiliki kunci pintu cadangan yang selalu ia bawa.


''Baru pulang kamu?'' tanya Rendi yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.


''Ya ampun, bapak ngagetin saya saja!'' ucap Daisha memegang dadanya.


''Bapak belum tidur?'' tanya Daisha.


''Ingat pulang juga kamu. Mentang-mentang besok weekend, jangan seenaknya juga!'' ucap Rendi ketus sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


''Bapak nungguin saya pulang ya?'' tanya Daisha mengamati pakaian Rendi yang nampak seperti orang baru saja keluar rumah.


''Jangan kepedean kamu! Nggak penting juga saya nungguin kamu pulang.'' jawab Rendi menyilangkan kedua tangan di dadanya.


''Bapak tadi telefon saya juga ya?'' tanya Daisha ketika membuka ponselnya yang terkunci dan menunjukkan beberapa kali panggilan dari bosnya itu.


''Bapak khawatir ya sama saya? Ya ampun, bapak perhatian banget sih. Bilang dong pak kalau bapak khawatir, jadi kan saya bisa pulang lebih awal tadi.'' ucap Daisha terharu.


''Ngomong apa sih kamu!'' jawab Rendi seraya berjalan meninggalkan lawan bicaranya itu.


''Pak! Pak Rendi! Ngaku aja deh pak. Bapak khawatir kan sama saya?'' goda Daisha mengikuti langkah Rendi.


''Berisik! Tidur sana!''


''Siap, bos. Bapak juga tidur ya, jangan begadang. Selamat malam, Pak Rendi.'' ucap Daisha yang kini berjalan ke arah kamarnya

__ADS_1


__ADS_2