Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Menghapus jejak


__ADS_3

Gadis ini cantik, rambutnya pun menarik. Baris giginya yang putih tertata rapi. Bersit senyumnya sungguh manis melebihi gula-gula.


Pandangan Rendi masih memaku pada tubuh semampai di sebelahnya, yang masih memutar badan sesekali, bertingkah sangat menggemaskan. Hujan cukup lama mengurung mereka di dalam mobil. Sepanjang perjalanan tadi, tiba-tiba saja hujan mulai turun.


Bertepatan dengan akhir tawa renyahnya, hujan di luar mulai reda. Reda hujannya sungguh tiba-tiba. Mereka berdua pun turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah danau yang terletak di pinggir kota. Mereka berjalan bersebelahan. Rendi di sebelah kiri, dan Daisha di berada di sebelah kanannya. Tinggi perempuan ini tak menyamai tinggi tubuh tegap milik Rendi. Tingginya hanya setinggi bahu.


Kini di setiap jalanan yang mereka lewati, selalu ada burung-burung gereja yang keluar dari sarang merayakan hujan yang sudah reda.


“Lihatlah burung-burung itu, pak! Mereka sangat senang hujan sudah reda.” Tangan Daisha diangkatnya setinggi mataku. Menunjuk ke arah burung-burung gereja tadi.


“Iya. Burung-burung itu sungguh bahagia melihat jalanan tak lagi menggenang,” jawab Rendi menyetujui pernyataan Daisha.


“Oh ya pak. Kenapa bapak membawa saya ke sini? Kita mau piknik ya pak? Tau gitu kan saya bawa bekal dulu dari rumah.'' tanya Daisha yang sedari tadi melihat burung-burung berterbangan itu.


“Bukankah kamu menyukai danau?'' tanya Rendi.


''Kenapa bapak bisa tahu?''


''Ya karena saya tahu.''


''Ih, nyebelin. Bukan sebuah jawaban yang menerangkan.''


Rendi pun tersenyum melihat tingkah gadis di sebelahnya itu.


''Kita duduk di sana.'' tunjuk Rendi pada sebuah saung bambu yang beratapkan tumpukan jerami, sangat epik.


''Bagus sekali danaunya. Airnya juga jernih meskipun hujan baru saja turun.'' ucap Daisha menarik nafasnya dalam-dalam seakan sedang menghirup oksigen banyak-banyak dan akan ia simpan di relung paru-parunya yang terdalam


''Iya.''


''Daisha?'' tanya Rendi.


Daisha pun menoleh ke arah suara lelaki di belakangnya. Masih dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


''Sejak kapan kamu sering membuat pesawat kertas?''

__ADS_1


''Sejak kecil.'' jawabnya.


''Kenapa?'' tanya Rendi penasaran.


Daisha pun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan lelaki di sebelahnya itu.


''Setiap akhir pekan, saya selalu mengirim surat untuk langit. Saya tahu, orang lain mungkin menganggap saya gila sebab saya selalu mengirim surat untuk langit. Saya selalu menceritakan sepekan terakhir yang terjadi di hidup saya kepadanya. Saya juga meminta kepadanya agar bisa mengantarkan saya kepada seseorang yang benar-benar mencintai saya.” jawab Daisha menerawang jauh ke langit.


Jawaban Daisha cukup mengejutkan Rendi. Rupanya, dia wanita yang tak tertebak. Dia begitu luar biasa.


''Bapak mau buat pesawat kertas bersama saya?'' ucap Daisha mengeluarkan beberapa carik kertas berwarna-warni dari dalam tas kecilnya.


''Boleh.''


Sebelum dia membentuk dan melipat sebuah kertas persegi yang sudah ia siapkan, dia menuliskan permohonan di sana. Sepertinya ia berdoa kepada Tuhan agar langit membalas semua permohonan yang ia kirimkan. Rendi berdiri di belakangnya. Menunggunya selesai berdoa dan melemparkan jauh pesawat kertas yang telah ia buat itu ke langit.


“Semoga langit membalas pesan ini dengan caranya sendiri. Saya yakin pesawat kertas itu akan sampai padanya. Mungkin lewat kehendak Tuhan, langit akan mempertemukan seseorang yang bisa mencintai saya dengan sungguh dan tak sekedar singgah.”


Kata-kata Daisha sungguh luar biasa.


''Satu dua tiga..'' teriak Daisha. Pesawat kertas itu pun terbang terbawa angin dan menghilang jauh dibalik awan.


''Yey!'' teriak Daisha bahagia.


''Rasanya begitu menyenangkan kan pak?'' tanya Daisha.


Rendi pun hanya mengangguk dan terus memandang wajah ayu di hadapannya. Pandangannya tak lepas dari senyum yang selalu menghiasi bibir manis itu. Tawa perempuan ini sungguh lucu, menggambarkan kebahagiaan yang besar. Rasanya sudah lama aku tak pernah tertawa seperti ini, ucap Rendi dalam hati.


Saat jarak tinggal beberapa jengkal, gerakan Daisha terhenti dan terkejut dengan keberadaan Rendi yang sudah berdiri di depannya.


Pandangan mereka beradu. Sejenak dunia seakan melambat, dan tak terasa jarak mereka semakin dekat. Rendi menangkap tubuh semampai itu ke dalam rengkuhan dengan kedua lengan melingkari pinggang ramping milik Daisha, begitu posesif.


''Cantik.'' lirik Rendi tanpa mampu berpaling, serupa dengan Daisha yang juga memaku tatapan lelaki di depannya. Entah siapa yang memulai, tanpa mereka sadari bibir mereka sudah saling mengecap dan beradu dalam luapan rindu. Tangan Rendi naik ke tengkuk Daisha agar makin memperdalam ciumannya saat mengeksekusi rasa manis dari pujaan hatinya. Sedangkan tangan kanannya naik memeluk agar tubuh mereka makin tanpa jarak.


Daisha pasrah dan mencengkeram erat jas milik Rendi saat kerinduan itu menyeruak di dalam dadanya. Hingga kelebat bayangan saat Alvin mulai merenggut ciuman pertamanya dan memaksanya untuk melakukan lebih itu pun berkelebat kembali di ingatannya. Menjadikan rasa yang menggebu itu menghilang berganti rasa getir.

__ADS_1


Daisha mendadak gemetar dan mendorong tubuh Rendi hingga tubuh laki-laki itu mundur beberapa langkah. Daisha kembali trauma.


''Daisha kamu kenapa?'' tanya Rendi khawatir.


''Jangan mendekat!'' teriak Daisha.


Rendi pun sedikit memundurkan langkahnya dan berusaha memahami apa yang terjadi. Ingatannya kembali teringat akan perkataan Beni tentang kejadian yang pernah menimpa Daisha beberapa tahun silam. Ia mulai mengerti kecemasan yang Daisha alami. Dengan telaten dan hati-hati, ia mulai mendekati dan berusaha menenangkan perempuan yang sedang nampak kalut di depannya.


''Pergi kamu! Pergi!'' teriak Daisha merasa ketakutan.


''Daisha sayang, saya tidak akan menyakiti kamu, percaya sama saya.'' ucap Rendi hati-hati.


Merasa Daisha sudah agak sedikit tenang, Rendi kembali menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Ia biarkan perempuan itu menangis di dalam pelukannya.


''Kamu akan baik-baik saja sekarang. Saya berjanji tidak akan pernah sekalipun menyakiti kamu.'' ucap Rendi tulus.


''Maaf jika saya telah membangkitkan kenangan buruk itu, lain kali saya akan lebih berhati-hati.'' ucapnya.


Suatu saat, aku yang akan menghapus jejak buruk itu. Suatu saat nanti, hanya ciuman hangat ini satu-satunya yang akan kamu ingat. Dan akan kuhapus bekas bibirnya itu dari bibirmu dengan bibirku. Aku berjanji, akan membantumu melepas kenangan itu dan menggantinya menjadi sebuah kecupan manis yang akan selalu engkau rindu.


''Kita pulang sekarang ya? Sebentar lagi waktunya Arka pulang sekolah.'' ucap Rendi melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.


''Iya, pak.''


''Senyum dulu dong, kamu jelek kalau sedang cemberut gitu.'' goda Rendi.


''Biarin jelek! Mau jelek, mau cantik, bodo amat!'' ucap Daisha.


''Kalau udah mulai sewot gini, artinya bener kalau kamu adalah Daisha yang saya kenal.''


''Ih, bapak nyebelin!'' kejar Daisha menyusul langkah kaki Rendi.


''Pak, tungguin dong!''


Pelangi menghiasi langit kota. Jingga senja menutup hari ini, hari baik di bulan yang tak terlalu buruk.

__ADS_1


__ADS_2