Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Menikah?


__ADS_3

Setelah berhasil menemukan keberadaan putranya, dengan segera Rendi dan Daisha menghampirinya.


''Arka!'' panggil Daisha senang.


''Mama. Papa?'' jawab Arka.


''Ya ampun, kamu kemana saja nak. Kenapa kamu pergi?'' ucap Daisha sembari memeluk putranya dengan erat.


''Mama kenapa menangis?'' tanya Arka dengan menghapus air mata Daisha.


''Maaf bu, tadi sepertinya anak ibu tidak sengaja berjalan mengikuti kami.'' ucap seorang perempuan berhijab yang membawa dua orang anak.


''Maafkan anak saya bu, maaf jika mengganggu kenyamanan ibu dan putra-putri ibu.'' ucap Rendi.


''Tidak apa-apa pak, saya hampir saja memberitahukan pada bagian keamanan. Tapi untung saja bapak dan ibu segera datang kemari.'' ucapnya lagi.


''Sayang?'' panggil seorang laki-laki yang berjalan menghampiri mereka.


''Pak Ibrahim?''


''Pak Rendi?'' ucap mereka terkejut secara bersamaan.


''Papi kenal?'' tanya perempuan berhijab itu.


''Iya, sayang. Beliau rekan bisnis papi yang kemarin papi ceritakan. Beliau orang yang sangat hebat.'' jawabnya.


''Senang bertemu bapak di sini.'' sambung Ibrahim.


''Pak Ibrahim terlalu berlebihan dalam menyanjung saya. Saya juga senang bisa bertemu dengan Pak Ibrahim di sini.'' ucap Rendi bersalaman dengan Ibrahim.


''Memang begitu kenyatannya Pak Rendi.'' kata Ibrahim.


''Terima kasih, Pak Ibrahim.''


''Sebenarnya apa yang terjadi Pak Rendi?'' tanya Ibrahim kembali.


''Maafkan putra saya Pak, ternyata sedari tadi putra saya berjalan mengikuti putri bapak yang cantik ini.'' ucap Rendi apa adanya.


Setelah berhasil menemukan keberadaan Arka tadi, Daisha segera membawa Arka ke dalam pelukannya. Ia meneliti setiap inchi tubuh putranya untuk memastikan apakah ada yang terluka atau tidak. Dan Daisha juga bertanya mengapa ia bisa berjalan bersama orang asing yang tidak ia kenal. Dan ternyata jawaban Arka adalah karena ia ingin berkenalan dan bermain bersama seorang anak kecil perempuan cantik yang berusia sekitar tiga tahunan itu yang sedang duduk di stroller itu.


''Ya ampun, menggemaskan sekali putra Pak Rendi.'' sambung Binar gemas.


''Sekali lagi maafkan putra saya bapak dan ibu.'' ucap Rendi merasa tak enak hati.

__ADS_1


''Bapak tidak perlu sungkan. Ayo, Shaka dan Sabria kalian berkenalan dulu dengan Arka.'' ucap Ibrahim.


''Shaka, jangan cemberut lagi ya, nak. Arka cuma mau berteman dan bermain dengan kalian.'' kata Binar pada putranya yang sedari tadi seolah bersikap posesif pada adik perempuan satu-satunya itu.


''Tadi abang cuma mau jagain adik, mi.'' jawab Shaka jujur.


''Pinter ya abang Shaka, udah bisa jagain adiknya yang cantik ini, pantas saja Arka sampai mengikuti kalian. Maafin Arka ya, Shaka ganteng.'' ucap Daisha terkekeh dan para orang tua itu pun ikut tertawa bersama.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, mulai dari obrolan seputar pekerjaan dan obrolan-obrolan ringan lainnya, akhirnya mereka pun saling berpamitan.


''Arka, mama mau tanya. Tadi kenapa Arka mengikuti Sabria?'' tanya Daisha ketika mereka sudah berada di mobil saat jalan pulang.


''Soalnya Sabria cantik, ma. Jadi Arka ingin berteman dengan Sabria.'' jawabnya tersipu.


''Ya ampun!'' kata Daisha menepuk jidatnya sendiri membayangkan Arka yang centil.


''Pasti nurun dari bapak ini centilnya.'' ucap Daisha terkekeh.


''Enak saja kamu!'' protes Rendi.


''Lain kali kalau Arka mau pergi atau mau bermain dengan seseorang, Arka harus minta izin dulu ya sayang. Bilang dulu sama mama atau papa, biar papa dan mama nggak kebingungan mencari Arka.'' jelas Daisha.


''Iya, ma. Maafkan Arka ya pah, ma.'' ucapnya dengan tulus.


''Iya, sayang. Jangan diulangi lagi ya.''


Setelah sampai rumah, Daisha segera membawa Arka untuk mandi dan membersihkan diri setelah seharian berjalan-jalan di luar. Dan kini, mereka sedang bermain bola di taman belakang karena Daisha gagal membujuk Arka untuk tidur siang.


''Arka, udahan dulu ya. Mama capek nih. Arka menang terus sih dari tadi.'' ucap Daisha ngos-ngosan.


''Mama kenapa?'' tanya Arka panik dan berlari menghampirinya.


''Kita istirahat dulu ya, mama capek banget.'' ucap Daisha.


''Baiklah, ayo kita minum dulu, mah.''


''Sepertinya seru sekali. Kalian lagi ngapain?'' tanya tante Maya yang baru saja berjalan ke arah mereka.


''Habis main bola, oma.'' jawab Arka.


''Cucu oma mau jadi pemain bola, ya?''


''Bukan oma, tapi Arka mau jadi pilot.'' jawabnya lantang.

__ADS_1


''Wah, hebat! Semoga cita-cita kamu tercapai ya sayang.'' jawab tante Maya.


''Arka mau main bola basket dulu, ya.'' ucap Arka.


''Iya, sayang.''


''Daisha?'' panggil tante Maya.


''Iya, tante.''


''Terima kasih ya, semenjak kehadiran kamu di sini, suasana di rumah ini seolah hidup dan berwarna kembali. Arka juga menjadi ceria dan mau untuk berbicara lagi.'' ucap tante Maya memegang lembut tangan Daisha.


''Sudah kewajiban saya, tante untuk menjaga dan membantu Arka.''


''Tidak, ini memang seolah sebuah takdir Tuhan yang membawa kamu ke dalam kehidupan Arka. Sekali lagi, terima kasih.'' kata tante Maya tulus.


''Sama-sama tante.''


''Sha, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada kamu?''


''Soal apa ya tante?''


''Boleh tante bertanya perihal orang tua kamu? Dan bagaimana ceritanya hingga kamu bisa berkerja untuk Arka.'' tanya tante Maya.


''Ayah saya adalah orang yang sangat baik dan penyayang keluarga. Beliau sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sebuah kecelakaan mobil. Sedangkan Ibu saya dulunya juga seorang perawat, tapi karena suatu hal yang dituduhkan pada ibu, akhirnya ibu diberhentikan dari pekerjaannya dengan suatu alasan yang tidak pernah ibu lakukan. Dan semenjak kejadian itu, ibu saya yang bekerja banting tulang untuk membiayai kehidupan dan sekolah saya. Ibu membuka usaha catering kecil-kecilan.'' ucap Daisha dengan sendu.


''Maafkan pertanyaan tante jika membuat kamu jadi sedih ya, Sha.''


''Nggak apa-apa, tante. Semua sudah takdir yang maha kuasa.''


Kemudian, Daisha juga menceritakan bagaimana akhirnya ia bisa menjadi pengasuh untuk Arka.


''Tante lihat, kamu sangat berbakat dan cerdas di bidang studi yang kamu ambil. Apa kamu tidak ingin bekerja di tempat lain yang sesuai dengan kuliah kamu?'' tanya tante Maya hati-hati.


''Untuk saat ini, saya ingin bersama Arka dulu tante.'' ucap Daisha.


''Kamu ini kan seorang sarjana, apakah orang tua kamu tidak keberatan kalau kamu bekerja menjadi seorang 'pengasuh anak?'' tanya tante Maya hati-hati.


''Seperti yang tante lihat, ibu saya meridhoi saya bekerja di sini. Selama itu halal dan mendatangkan kebaikan.'' jawabnya.


Tante Maya merasa lega mendengar jawaban yang Daisha ucapkan.


Di sisi ruangan lain, ketika Rendi sedang mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya, Rendi menemukan sebuah mainan pesawat kertas yang dibuat oleh putranya. Lagi, Rendi membaca tulisan itu. Sebuah permohonan yang putranya tuliskan.

__ADS_1


''Menikah?''


''Seperti janjiku pada kamu Raline, aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita sampai kapanpun. Maafkan papa, Arka.'' ucapnya dalam hati seraya membayangkan wajah mendiang istrinya.


__ADS_2